Terkadang untuk menjadi orang jahat kita tidak perlu berbuat jahat pada mereka karena bagi orang yang tidak menyukai kita sebaik apapun kita di depan mereka yang terlihat hanyalah keburukan kita.
###
Sisil balik menatap Steve angkuh, setelah menendang Steve kali ini Sisil bergerak mendekat ke arah ibu Steve. Tubuh gemuk berlemak milik ibu Steve susah untuk digerakkan membuat ia dengan mudah ditahan oleh pengawal.
Sisil memegang wajah wanita itu agar bisa melihat ke arah dirinya, senyum manis menakutkan diperlihatkan Sisil pada wanita tua itu.
"Apa? Apa sekarang nyalimu menghilang? Kemana keberanian yang selalu kau banggakan itu? Apa semua sudah terbakar kemarahan atau termakan oleh mulutmu yang berbisa ini?" ejek Sisil.
Sisil mendorong wajah itu ke belakang membuat ibu Steve menjadi menengadah. "Hah, di mana kesombongan kalian? Di mana kehebatan serta keangkuhan yang dulu kalian miliki? Bagaimana rasanya jadi miskin? Enak tidak?" Lagi, Sisil mengulangi pertanyaan demi pertanyaan yang sejak dulu selalu ingin dikatakannya.
"Asal kalian tahu apa yang aku rasakan akan kalian rasakan mulai hari ini, seperti apa susahnya aku mencari pekerjaan kalian juga akan merasakannya. Bagaimana rasanya tidak makan, tidak punya uang untuk membeli sabun mandi bahkan saat kalian sakit kalian tidak punya apapun yang bisa ditukar. Aku berjanji pada kalian berempat rasa sakit yang dulu aku rasakan akan bertubi-tubi aku berikan pada kalian." Sisil melambaikan tangan.
Keempat pengawal itu dengan sigap langsung membawa Steve dan keluarganya ke luar dari rumah itu. Saat sampai di luar mereka didorong kasar hingga jatuh tersungkur ke tanah, salah satu dari empat orang pengawal itu mengeluarkan kertas dari dalam sakunya melempar kertas itu ke hadapan Steve.
"Jika kalian berminat untuk menjual organ tubuh kalian hubungi saja nomor ini, setidaknya harganya akan sesuai dengan kualitas kesehatan organ kalian." Setelah mengatakan itu si pengawal masuk kembali ke dalam rumah.
Mereka memeriksa setiap kamar untuk mencari benda yang bisa dijadikan uang sedangkan Sisil memilih untuk duduk di ruang tamu yang dulu menjadi tempat dirinya dihina habis-habisan. Saat ini Sisil tidak peduli lagi tentang apa yang disebut kebenaran ataupun kesalahan baginya yang terpenting adalah balas dendam, melakukan hal yang lebih menyakitkan dari apa yang dia dapatkan dulu.
Setelah memeriksa seluruh isi rumah, para pengawal membawa beberapa hal berharga bersama mereka. Sisil yang melihat itu langsung berdiri, dia berjalan di tengah seperti biasa membuka pintu dan hendak naik ke mobilnya namun pandangan matanya bertemu kembali dengan keluarga Steve yang masih enggan untuk pergi.
Sisil naik ke mobil terlebih dahulu lalu berbisik pada salah satu pengawal dengan badan paling kekar. "Usir mereka dari sini sekarang juga! Kunci gerbang rapat-rapat, jual rumah ini sekarang juga serta semua aset yang mereka miliki! Aku tidak ingin mereka memiliki harapan untuk bangkit sedikitpun, aku ingin mereka mengalami pahitnya hidup seperti yang aku alami."
Setelah mengatakan itu Sisil menaikkan kaca mobil lalu menutup pintu, ia menyuruh sopir untuk menghidupkan musik dengan keras agar suara keributan itu tidak terdengar lagi ke telinganya. Lama Sisil duduk barulah mobil bergerak meninggalkan tempat itu, di depan gerbang Sisil melihat orangtua Steve tampak tidak rela rumah mereka disita.
Ibu Steve meraung keras, ia berteriak, memaki bahkan menghina Sisil yang sudah berhasil merebut milik mereka. Sisil membuka pintu jendela mobil saat lewat di depan keluarga Steve, ia mengambil uang koin di dalam tas mahal yang ia bawa ke mana-mana lalu melempar koin itu ke hadapan ibu Steve.
Mobil melaju kencang setelah itu meninggalkan kediaman Steve yang terkunci rapat, Steve menatap ibunya lalu beralih menatap kakaknya, Rocky yang sibuk menghubungi teman-temannya meminta bantuan namun semua teman Rocky langsung menolak dengan berbagai alasan. Raut putus asa di wajah keluarganya membuat Steve tersenyum mencemooh, Steve mengambil telepon selulernya untuk menghubungi wanita yang tadi memuaskan dirinya namun nomor wanita itu sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Kesal, Steve memilih pergi meninggalkan keluarganya di sana lalu mencari taksi namun saat ia berhasil mendapatkan tumpangan Rocky dan yang lain berhasil menyusul dirinya.
"Mau ke mana kau? Apa kau akan meninggalkan kami saat kami jatuh seperti ini? Pergilah ke tempat Anandita! Minta maaf padanya dan rebut kembali hatinya hanya dia satu-satunya harapan kita, aku yakin dengan kau mengatakan kalau semua ini adalah rencana Sisil mereka pasti akan membantu kita." Ibu Steve berbicara dengan penuh percaya diri namun semua itu langsung disambut senyum cemoohaan Steve.
Tawa Steve terdengar di tempat itu membuat ibunya semakin marah dan kesal.
"Apa yang kau tertawakan, ha? Pergilah sekarang juga! Buat Anandita luluh padamu lagi, jangan sampai kau kehilangan harapan untuk hidup jaya di masa tua." Sekali lagi ibu Steve memberi perintah.
"Ibu oh Ibu! Apa menurutmu Anandita akan menginginkan pria miskin seperti diriku? Dia merebut ku dari Sherly karena itu semua dapat menghancurkan Sherly, tujuannya bukan mencintaiku tapi hanya ingin melukai saudara tirinya saja. Kau ingin tahu alasan dia menolak diriku untuk kembali bersamanya kan, itu karena dia ingin merebut pacar Sisil. Dia ingin mengambil pria kaya itu untuk menghancurkan Sisil." Steve berbicara dengan terbuka.
Awalnya dia tidak terlalu memikirkan ucapan Ananta pada Anandita saat itu namun sekarang setelah dia melakukan kesalahan Ananta pasti akan memaafkan itu untuk menghasut Anandita yang gila harta agar sama seperti mereka. Steve tahu sudah sangat sulit bagi mereka untuk bersama apalagi setelah Anandita kehilangan janinnya, Ananta pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk mencuci otak Anandita.
"Jika kau masih ingin dipermalukan oleh mereka silahkan kau pergi sendiri ke sana, Ibu! Lagipula setelah kita jatuh miskin seperti ini mereka pasti tidak akan mau bertemu dengan kita. Datang ke sana hanya akan membuatmu semakin terluka, lebih baik saat ini yang Ibu pikirkan adalah mencari tempat tinggal karena kalau tidak kau dan ayah beserta anak kesayanganmu ini pasti akan tidur di jalan." Setelah mengatakan semua itu Steve naik taksi untuk pergi ke rumah wanita bersamanya tadi.
Sepanjang jalan Steve terus mencoba menghubungi si wanita namun panggilannya tidak diangkat sama sekali, lama perjalanan yang ditempuh Steve mengantarkan dirinya di depan rumah si wanita yang terkunci rapat. Steve mengetuk pintu perlahan menunggu si wanita muncul saat itulah kain jendela bergeser perlahan si wanita terlihat mengintip dari dalam.
Melihat yang datang adalah Steve, si wanita buru-buru membuka pintu mengizinkan Steve masuk ke rumahnya. Setelah Steve masuk ia mengunci pintu rapat-rapat agar tidak ada yang tahu dia di rumah.
"Bagaimana? Apa keluarga tunanganmu menuntut diriku? Apa mereka akan datang ke sini?" tanya si wanita takut, ia menggenggam tangan Steve dengan air mata berlinang yang membuatnya tampak rapuh dan lemah.
Steve yang melihat itu langsung meraih wajah si wanita, dia membelai lembut pipi wanitanya lalu memberikan sentuhan ringan di bibirnya sebelum berubah menjadi sentuhan berat. Napas keduanya meningkat cepat sebelum si wanita buru-buru mendorong tubuh Steve menjauh dengan wajah merona merah.
"Jawab aku terlebih dahulu! Aku benar-benar tidak ingin masuk penjara," bisik wanita itu lemah sambil memeluk tubuh Steve erat.
Melihat itu Steve tertawa renyah, ia membawa si wanita menuju ke sofa mendudukkan si wanita di atas pahanya lebih tepatnya si wanita duduk dalam posisi paha terbuka lebar dengan wajah menghadap Steve.
"Mereka tidak melaporkan dirimu ke polisi Rika, mereka hanya menginginkan pertunanganku dengan Anandita diputuskan. Jika aku tidak memutus pertunangan antara diriku dan Anandita mereka akan memasukkan dirimu ke penjara, itu sebabnya sekarang kau tidak perlu khawatir lagi. Hanya saja, aku kehilangan pekerjaan serta kehilangan dukungan orangtuaku, aku bingung harus tinggal di mana mulai sekarang." Steve menunduk sedih, dia terlihat sangat rapuh dan hancur membuat Rika merasa kasihan padanya.
Rika mengangkat kepala Steve agar bisa melirik dirinya lalu menyatukan bibir mereka, Rika membelai kepala Steve lembut seolah mengatakan dia ada untuk Steve.
Steve dengan cepat membalas Rika, dia dengan cepat membelai titik sensitif Rika membuat Rika bergerak tidak karuan.
"Semua ini kesalahanku! Aku yang menggodamu, aku yang merusak pertunanganmu dengannya dan aku juga yang telah merayu dirimu jadi aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Jujur saja, aku menyukaimu semenjak dulu saat pertama kali aku melihat dirimu di SMA. Hanya saja kau tidak melirik diriku saat itu," bisik Rika lembut mengakui kesalahan dirinya.
Steve tersenyum, ia merengkuh tubuh Rika erat seolah takut lepas tapi di dalam hatinya siapa yang tahu. Steve menurunkan celana yang ia pakai memperlihatkan benda panjang bulat itu pada Rika membuat Rika memerah malu namun tangannya memegang benda itu dengan senyum.
"Kau lihat si kecil milikku bukan? Dia hanya berdiri ketika bersamamu, dia hanya menginginkan dirimu sekarang. Aku akan menyerahkan diriku padamu, aku mohon mulai sekarang jaga aku di sisimu!" ucap Steve penuh rayuan, hal itu membuat Rika tampak senang dan bahagia.
Steve menarik lingerie Rika ke atas, memperlihatkan paha putih mulus serta gundukan lembut Rika. Rika semakin malu, awalnya dia memang berpura-pura berpengalaman dalam urusan ranjang hanya untuk menarik Steve.
Rika juga sengaja memberikan obat perangsang pada Steve saat mereka bekerja di luar kota agar bisa menghabiskan malam dengan Steve. Semenjak saat itu Rika selalu menempel pada Steve bahkan memberikan dirinya cuma-cuma pad Steve agar Steve mau melirik dirinya dan sekarang setelah dia mendapatkan Steve seutuhnya tentu saja Rika tidak akan menyia-nyiakan semua itu.
Steve menggoda Rika di sofa hingga mereka kembali berhubungan intim, Rika yang kelelahan karena telah digarap Steve dua kali dari pagi sampai siang hanya bisa pasrah saat diangkat Steve menuju tempat tidurnya. Steve meletakkan Rika dengan hati-hati lalu menyatukan diri dengan Rika membuat Rika merasa puas dan senang.
Hari itu Steve melupakan semua masalah yang terjadi dengan memaksa Rika melayani dirinya sampai ia puas dan terlelap di samping Rika. Rika yang sejak dulu tergila-gila pada Steve tampak begitu puas, dengan senyum di bibir Rika melihat tanda yang ditinggalkan oleh Steve.
"Kau milikku mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku." Rika berbisik di telinga Steve lalu memeluk Steve erat.
Mereka tidur sampai larut malam, tepat ketika jam di dinding kamar menunjukkan pukul dua belas malam, Steve yang bangun sedikit lambat mencium aroma makanan dari luar merasa lapar. Ia berjalan ke kamar mandi membersihkan diri lalu berjalan menuju ke dapur di mana Rika tampak sibuk membuat makanan sederhana.
Steve yang sangat berpengalaman dalam merayu wanita langsung memeluk Steve dari belakang, ia mengecup leher Rika membuat Rika tertawa karena geli.
"Jangan mengganggu! Duduk sana di meja makan! Sebentar lagi ini akan selesai," tunjuk Rika pada masakan yang masih berada di atas kompor itu.
Steve menggeleng, ia masih terus memeluk Rika erat meletakkan dagunya di bahu Rika. "Tidak mau! Aku ingin memakan dirimu saja, aku sangat suka memeluk tubuhmu terasa pas dalam dekapanku," bisik Steve dengan sengaja menghembuskan napas ke telinga Rika.
"Kau bisa memakanku nanti, sekarang kau harus makan sesuatu dulu agar memiliki tenaga. Aku ini milikmu jadi kau tidak perlu takut tidak mendapatkan jatahmu. Ayo duduk di kursi sebentar lagi makanan ini akan selesai," ujar Rika sambil mendorong Steve pelan.
Steve melepaskan tangan tubuh Rika dengan enggan, bibirnya cemberut tidak suka namun ia tetap duduk di kursi meja makan menunggu hidangan selesai. Rika memindahkan masakan yang ia buat ke piring saji meletakkan makanan seadanya itu di atas meja di depan Steve.
Setelah selesai Rika mengambil nasi di rice cooker lalu meletakkan nasi itu di tempatnya membawa nasi itu ke hadapan Steve. Ke-duanya mulai makan dengan lahap mengisi tenaga mereka yang terkuras tadi siang, Steve menikmati hidangan sederhana itu tanpa banyak bicara karena baginya satu-satunya harapan untuk bertahan hidup sekarang adalah Rika.
Ananta pulang ke rumah dengan tubuh lelah, saat sampai di rumah dia berharap Adnan juga pulang namun harapan hanya tinggal kenangan. Ananta tidak menemukan Adnan dan malah mendapat kabar kalau Ananda telah dikirim Adnan ke luar negeri untuk bekerja di cabang perusahaan mereka.
"Kapan Ananda pergi?" tanya Ananta pada pelayan muda yang melayani Atlanta.
Pelayan itu tampak berpikir sebelum berkata, "sore tadi, Nyonya! Tuan menyuruh orang kepercayaannya mengantar Nona Ananda langsung ke bandara."