Ananta mengangguk mendengar penuturan pelayan itu, dia dengan santai berjalan menuju tangga namun berhenti tepat di tengah-tengah tangga melingkar itu. "Apa yang Atlanta lakukan hari ini? Apa kau melayaninya dengan baik?" Ananta menatap tajam pelayan itu dengan rasa tidak suka yang kuat.
Pelayan itu tampak malu lalu mengangguk perlahan sebagai jawaban, sebenarnya dia sudah cukup lelah hari ini namun karena pelayan yang lain telah kembali ke tempat mereka tidur jadi hanya dirinya yang tersisa untuk membukakan pintu bagi Ananta itupun karena dia tengah melayani Atlanta tadi.
Ananta tidak lagi bertanya, dia berjalan menuju kamar Atlanta membuka pintu perlahan hanya untuk menemukan Atlanta tengah bersenang-senang dengan seorang gadis lain yang seumuran dengan Ananda. Ananta terkejut bukan main, dia melangkah masuk dengan terburu-buru ke arah ranjang untuk melihat siapa gadis itu.
"Kau sudah pulang, Ibu! Perkenalkan mainan baruku, dia akan tinggal di sini mulai sekarang. Aku tidak akan membiarkan ayah tahu mengenai keberadaannya di kamarku seperti keberadaanmu di ranjangku." Atlanta tersenyum gembira melihat kedatangan Ananta.
Wajar saja jika Atlanta menjadi buas akan wanita seperti ini, sejak SMA dia sudah mulai diajarkan oleh Ananta tentang adegan ranjang dan selalu dipaksa memuaskan keinginan Ananta yang kurang kasih sayang dari Adnan. Apalagi di saat kuliah, Ananta selalu memaksa dirinya berbuat hal yang diinginkannya hingga dia menjadi pencandu hubungan antara pria dan wanita seperti ini.
Atlanta akan merasa ada yang kurang jika dia tidak dapat menemukan wanita di atas ranjangnya. Dia terus bergerak mencari kepuasan apalagi saat mendengar suara merdu dari wanita yang berada di di bawah tubuhnya, Atlanta menghentak kuat menyebabkan wanita itu merengek manja.
Ananta ingin marah namun dia sudah tidak bisa mengendalikan Atlanta sekarang, dia hanya bisa mengambil langkah mundur agar tidak menciptakan keributan di dalam sana. Saat mencapai pintu, Ananta bertemu dengan pelayan yang ia pekerjakan untuk memuaskan Ananta.
Ingin rasanya Ananta melampiaskan kekesalannya pada pelayan muda ini tapi dia tahu pelayan ini juga tidak akan berdaya menghadapi kebuasan Atlanta.
"Awasi mereka! Jangan sampai Atlanta membawa gadis lain ke rumah ini! Siapa yang mencarikan gadis itu untuknya?" tanya Ananta geram.
Pelayan itu menunduk, ia ragu untuk menjawab sebab takut akan kemarahan Ananta namun jika tidak menjawab sekarang itupun akan sama saja nanti. "Gadis itu teman saya, Nyonya! Dia datang ke sini ingin mengantarkan tugas gaji saya di tempat lama saya bekerja, siapa yang tahu saat dia datang Tuan Muda ke luar dari kamarnya. Tuan Muda tergiur akan tubuh gadis itu lalu menawarkan harga, kebetulan teman saya membutuhkan uang jadi dia menerima tawaran Tuan Muda." Pelayan itu menjawab dengan jujur karena memang bukan dia yang menyodorkan gadis itu pada Atlanta.
"Apa dia masih bersegel?" tanya Ananta karena dia takut Atlanta akan terkena penyakit menular.
Pelayan itu tampak ragu karena saat Atlanta membawa temannya ke kamar tadi dia sedang membantu pelayan lain di dapur. "Saya tidak tahu, Nyonya! Anda bisa memeriksa sendiri ranjang, Tuan Muda! Apakah di sana ada bercak darah atau tidak sama seperti saya." Pelayan itu menjawab apa adanya karena dia takut berbuat salah.
Ananta berbalik masuk ke dalam kamar, ia melihat Atlanta berpindah posisi di cermin lalu memeriksa tempat tidur. Ananta melihat bekas darah yang bertumpuk di tempat tidur lalu mengangguk puas, setelah memastikan semua aman Ananta berjalan ke luar membiarkan pelayan sewaan itu masuk.
Ananta memasuki kamarnya, ia mandi lalu membersihkan diri. Setelah ke luar dari kamar mandi Ananta memakai lingerie seksi miliknya, ia merasakan kesepian yang mendalam sebab Adnan sudah tidak pulang ke rumah beberapa hari ini. Ananta merasa kesal akan sikap Adnan, ia mengambil telepon miliknya lalu menghubungi Adnan di tengah malam buta itu.
Adnan yang tidak tahu ada panggilan masuk karena teleponnya dalam mode silent masih tertidur nyenyak di samping Amanda. Kemarahan Ananta meningkat saat panggilannya tidak diangkat oleh Adnan, Ananta melempar telepon miliknya ke samping dengan kesal.
Ia mengambil bantal memeluk bantal itu erat seolah bantal guling itu adalah pria tampan. Anandita di rumah sakit masih belum bisa tidur, saat ini dia masih memikirkan semua kenangan indah yang telah ia lalui dengan Steve namun bujukan Ananta untuk menggoda pacar Sisil terasa menggiurkan.
Anandita membulatkan tekad untuk mengambil pria yang saat ini menjadi pacar Sisil, dia dengan senyum percaya diri mengambil telepon miliknya untuk mengabari Sisil tentang pertunangannya yang putus namun ia lupa kalau jam di dinding merupakan waktu istirahat untuk semua orang.
Anandita merasa kesal panggilannya tidak dijawab oleh Sisil, "wanita miskin ini berani tidak mengangkat panggilanku sekarang. Lihat saja! Aku akan membuatnya mengemis padaku sama seperti dia mengemis dulu untuk kakaknya. Aku yakin dengan kecantikan serta kemampuan yang aku miliki kekasihnya itu pasti dapat ku rebut!" Anandita tampak percaya diri.
Pagi esoknya berita tentang jatuh miskinnya keluarga Steve sampai ke telinga Anandita, melihat berita yang memuaskan itu Anandita tertawa bahagia melupakan rasa sakitnya semalam. Anandita tampak puas dengan apa yang terjadi pada keluarga Steve, dia bahkan menghubungi Steve untuk menertawakan kemalangan keluarga Steve.
Saat panggilan terhubung yang terdengar hanyalah suara seorang wanita yang tengah mendesis kesenangan, telinga Anandita dibuat panas saat mendengarnya. Apalagi suara daging yang beradu terdengar jelas di telinga Anandita, suara kesenangan campuran antara pria dan wanita itu membuat Anandita kesal sendiri.
"Bagaimana Steve? Bagaimana rasanya jatuh miskin? Di mana keluargamu tinggal saat ini? Apa kalian masih bisa tidur nyenyak setelah melakukan kejahatan padaku?" tanya Anandita bangga, tangannya terkepal saat mendengar suara manis perempuan yang sedang mendapat kesenangan intens itu.
Suara gemericik terdengar sebelum telepon itu dipegang oleh Steve yang saat ini tengah bergerak maju mundur dengan cepat. "Apa? Apalagi yang kau inginkan Anandita? Apa kau masih ingin berharap aku memohon padamu? Maaf Anandita tapi aku tidak akan melakukan itu karena aku tidak ingin kembali padamu."
Setelah mengatakan itu Steve langsung memutuskan sambungan lalu memblokir nomor Anandita, ia terus mencari kepuasan gratis yang disuguhkan Rika padanya melupakan masalah yang terjadi. Rika di sisi lain tampak puas dengan jawaban yang Steve katakan pada Anandita walau dia tidak tahu hal apa yang Anandita katakan pada Steve.
Anandita di rumah sakit terlihat mengamuk, dia melempar apa saja yang ada di meja yang terletak di samping tempat tidurnya. Tujuannya dirawat awalnya untuk mendapatkan simpati Steve namun bukannya iba Steve malah mencari wanita lain di saat masalah mereka belum terselesaikan.
Anandita memang ingin Steve memohon, bersujud dan memohon ampun padanya namun Steve malah berbuat sebaliknya. Anandita melepas infus yang terpasang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi Anandita menghubungi Ananta mengatakan ia akan ke luar dari rumah sakit hari ini dan pulang ke rumah untuk menenangkan diri. Anandita sampai di rumahnya pada siang hari, dia dengan enggan mengetuk pintu yang tertutup rapat karena tidak terdengar suara pelayan dari dalam rumah.
Saat itu, pelayan muda yang melayani Atlanta membuka pintu. Pakaiannya tampak berantakan dengan hanya bagian atas yang terpasang sedangkan bagian bawahnya tidak mengenakan apalagi. Anandita tampak tidak peduli, dia terus berjalan menuju kamar ibunya mengabaikan ekspresi malu pelayan itu.
Sesampainya di lantai atas Anandita tidak menemukan Ananta, dia hanya bisa berjalan menuju kamar Atlanta namun di dalam kamar hanya ada seorang perempuan berbaring tanpa pakaian dengan kaki terbuka lebar. Cairan keruh ke luar dari dalam bagian pribadinya membasahi tempat tidur.
Anandita mengernyit jijik, dia menuruni tangga mencari keberadaan pelayan muda itu namun suara menjijikkan datang dari dapur rumah mereka. Anandita berjalan menuju ke sana hanya untuk menemukan Atlanta tengah memasukkan sesuatu ke dalam bagian pribadi si pelayan.
"Kau sudah pulang, Kak? Bagaimana keadaanmu hari ini? Apakah menyenangkan tinggal di rumah sakit?" tanya Atlanta asal sambil menggerakkan benda berwarna hijau itu ke luar masuk.
Pelayan muda itu terus memasak disela rintihan kesenangan yang ke luar dari mulutnya, meski dia kesusahan dalam bergerak namun kesenangan yang diberikan Atlanta juga susah untuk dihentikan.
"Di mana ibu? Kenapa dia tidak berada di rumah?" Anandita tidak menjawab pertanyaan Atlanta, dia menunggu jawaban dari Atlanta dengan tangan terlipat di d**a.
"Ibu pergi mencari ayah ke kantor, mungkin ibu rindu belaian ayah makanya ibu ke kantor untuk memuaskan diri. Lagipula di perusahaan ayah tentu banyak pria tampan yang bisa memuaskan ibu jika ayah tidak ada." Atlanta menjawab asal dengan bahu terangkat.
Anandita merasa kesal dengan jawaban Atlanta hingga ia memilih pergi dari tempat itu mengabaikan Atlanta dan pelayan muda itu. Saat Anandita berjalan ke kamarnya, ia berpapasan dengan wanita yang tadi berbaring di kamar Atlanta.
Ananta di sisi lain telah sampai di perusahaan Adnan namun baru saja kakinya melangkah ke luar dari lift, ia malah mendapat kabar dari sekretaris serta asisten Adnan yang hendak berjalan ke luar kalau Adnan pergi mengurus pekerjaan ke luar negeri. Ananta tampak kesal, marah dan kecewa padahal dia sudah berdandan sangat rapi serta elegan.
Tanpa menunda waktu Ananta langsung berbalik arah, ia menaiki lift sekali lagi namun dengan raut wajah ditekuk masam. Sekretaris serta asisten Adnan memilih berdiri di sudut sibuk membahas pekerjaan mengabaikan kemarahan Ananta, sesampai di lantai yang mereka tuju sekretaris serta asisten Adnan langsung meninggalkan Ananta.
Sendirian di dalam lift membuat Ananta memekik keras, ia memukul dinding lift menggunakan tas mahalnya untuk melampiaskan kekesalan yang dia miliki. Padahal selain melepas rindu Ananta juga ingin meminta uang tambahan untuk perawatan tubuhnya serta membahas Anandita yang harus merebut kekasih Sisil.
Ananta baru merasa tenang saat lampu tombol menunjukkan lantai paling dasar, Ananta buru-buru ke luar dari lift saat melihat beberapa karyawan Adnan akan masuk ke dalam lift. Ananta mengibaskan rambutnya berjalan melenggak-lenggok ke luar dari perusahaan Adnan menuju ke tempat mobilnya terparkir.
Di lantai atas gedung, Adnan memperhatikan kepergian Ananta dengan tangan tersimpan di dalam kantong celana. Adnan tersenyum sinis lalu berjalan menuju sofa di mana Amanda saat ini tengah duduk manis menikmati makanan ringan yang tadi dibelikan sekretaris Adnan.
Beruntung saat Ananta masuk ke perusahaan resepsionis langsung menghubungi asisten pribadi Adnan tentang kedatangannya. Mereka langsung cepat tanggap menyusun rencana agar tidak ketahuan oleh Ananta, Adnan melangkah mendekati Amanda yang sibuk mengunyah makanan duduk di samping Amanda Adnan langsung meraih pinggangnya memeluk Amanda dengan erat.
Perjuangan Adnan yang gencar menyerang Amanda beberapa Minggu ini ternyata membuahkan hasil, saat ini Amanda tengah hamil anak Adnan meski hitungannya masih belum akurat karena Amanda lupa kapan terakhir datang bulan. Adnan tampak bahagia dengan kabar gembira ini, ia awalnya hanya ingin konsultasi tentang posisi yang bagus serta makanan yang baik agar segera mendapatkan keturunan siapa yang mengira kalau Amanda telah berbadan dua.
Adnan dengan bangga membawa Amanda yang masih muda, cantik dan menarik ke perusahaannya. Sejak tadi Adnan bahkan belum menyentuh pekerjaan di atas meja karena sibuk bertanya makanan apa yang ingin Amanda makan.
"Sana bekerja! Aku mau meluruskan kakiku," usir Amanda pada Adnan yang sejak tadi terus menempelkan diri padanya.
Amanda merasa risih dengan perhatian Adnan yang terlalu berlebihan pada dirinya, sejak tadi Amanda telah berusaha meminta pulang agar bisa beristirahat dengan tenang namun Adnan menolak semua keinginan Amanda dengan alasan takut terjadi sesuatu pada Amanda dan kehamilannya.
"Tidak mau! Aku masih ingin memeluk dirimu di sini, pekerjaan itu bisa ditunda sedangkan memelukmu tidak." Adnan menolak dengan cepat.
Pasrah dengan penolakan Adnan Amanda hanya bisa meluruskan kakinya ke depan meletakkan ke-duanya di atas paha Adnan. Amanda menyandarkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan mata, Adnan yang tidak tega mengangkat tubuh Amanda membawa Amanda ke tempat tidur yang ada di dalam ruangannya.
Tempat tidur rahasia itu baru saja dibangun Adnan empat bulan ini karena dia juga sudah bosan pulang ke rumah menghadapi pertengkaran demi pertengkaran dengan Ananta yang selalu terjadi jika mereka tidak berada di atas ranjang.