Beberapa macam bunga tampak berserakan di sana-sini, ada yang dalam pot khusus dan ada juga yang terbungkus rapi menggunakan plastik putih. Semua bunga itu tersusun di ruang Aleta membuat Aleta sakit kepala, setiap hari bahkan hampir setiap tiga jam sekali bunga-bunga indah ini akan datang.
Semua bunga indah ini dikirim oleh tokoh yang sama dengan kurir wanita yang selalu sama dan juga pengirim yang sama. Aleta kali ini memegang bunga mawar yang berjumlah 99 tangkai itu, aroma harum yang dikeluarkan oleh bunga-bunga indah itu menampilkan senyum indah di bibir Aleta.
Saat Aleta bingung bunga-bunga ini akan diapakan telepon selulernya berdering dengan begitu nyaring, Aleta melihat nama si pemanggil lalu tersenyum dengan begitu manisnya. Ia menekan tombol hijau di layar lalu mendekatkan telepon itu ke telinga kanannya, sedangkan bunga mawar yang tadi dipegangnya dua belah tangan hanya dipeluk erat menggunakan tangan kiri ke arah tempat jantungnya berada.
"Apa kau suka?" tanya pria di seberang dengan suara lembut penuh cinta dan kasih sayang. Mendengar kelembutan itu Aleta tersenyum semakin manis, bibirnya membentuk bulan sabit yang indah dengan lengkungan sempurna.
Aleta mengangguk dengan cepat namun ketika dia sadar kalau orang di seberang tidak bisa melihat gerakannya Aleta kemudian tersenyum canggung lalu berkata, "aku sangat menyukainya, Paman! Terima kasih banyak, tapi bisakah kau berhenti mengirimnya sebanyak ini? Ruangan ku hingga sampai ke depan sudah penuh dengan bunga, aku tidak tahu harus meletakkan semuanya di mana." Aleta berbicara dengan nada memelas yang bisa membuat siapa saja merasa iba.
Pria di seberang tertawa kecil, dia berjalan mendekat ke jendela dengan tangan kiri berada di kantong celananya.Saat ini pria itu tengah memandang hamparan salju yang mulai turun secara perlahan, pemandangan itu tampak indah membuat pikirannya melayang pada malam saat ia bersama Aleta.
"Paman! Kalau kau mengirim bunga terus aku pasti akan membuka toko bunga sesudah ini. Tidak ada lagi tempat bergerak bagiku, semua teman-teman dan rekan kerjaku bahkan merasa iri tapi mereka tidak tahu kalau kepalaku pusing memikirkan ke mana mereka akan kubawa. Bahkan mobilku tidak akan bisa membawa mereka semua secara langsung," keluh Aleta dengan nada manja yang terdengar begitu memabukkan bagi pria sedang menghubunginya itu.
Pria di seberang membuka jendela tempatnya berdiri, ia menampungkan tangan menyambut salju yang jatuh. "Leta, di sini sedang turun salju dan ini hari pertama salju turun. Kata orang membuat permainan saat salju jatuh maka keinginanmu pasti akan dikabulkan. Aku tadi membuat permintaan tentang kita dan kuharap semuanya menjadi kenyataan."
Pria itu membiarkan salju memenuhi tangannya sebelum ia menjatuhkan salju itu secara perlahan. Dingin yang merayap masuk ke tubuhnya membuat pria itu menggigil, ia akhirnya menutup jendela mencari selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kau boleh melakukan apa saja pada bunga-bunga itu, kau jual, kau bagikan bahkan jika kau buang sekalipun tidak masalah tapi aku akan tetap mengirimimu bunga setiap hari. Aku hanya ingin membuatmu mengingat diriku sepanjang hari apalagi pada cinta kita yang baru saja bermekaran." Pria di seberang tampak tidak peduli dengan uang yang ia keluarkan untuk menyenangkan hati sang kekasih.
Wajah Aleta seketika langsung memerah dengan cepat bahkan hingga ke lehernya, seketika Aleta teringat akan kenangan saat mereka menginap bersama malam itu. Mereka memadu kasih saling menyalurkan cinta tanpa ada gangguan dari siapapun.
"Aku merindukanmu," bisik si pria lembut yang berhasil membuat bulu kuduk Aleta berdiri.
Pikiran Aleta semakin melayang pada kegiatan intim yang mereka lakukan hari itu, "aku juga merindukanmu," balas Aleta lembut nyaris terbawa angin.
Tawa ke luar dari bibir si pria, dia tahu Aleta pasti menggunakan semua keberaniannya untuk menyatakan semua itu. Mendengar tawa menyebalkan itu Aleta menjadi sedikit marah, bibirnya mengerucut tidak suka meski binar matanya menunjukkan hal lain.
"Kapan kau pulang Paman Patti? Jangan pergi lama-lama karena aku bosan tanpa kehadiranmu di sini." Sekali lagi Aleta berbicara namun nada lembut yang ia keluarkan kali ini lebih pelan dan tadi.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk memanggilku dengan nama saja, Aleta? Kenapa kau masih menyebutku dengan sebutan Paman? Apa aku setua itu hingga kau tidak bisa mengubah panggilanmu padaku? Apa adegan ranjang yang kita lakukan berulang hari itu tidak membuat hubungan kita tampak dekat?" Suara Patti terdengar serak, hal itu membuat telinga Aleta merasa geli hanya karena mendengarnya.
"Kau kan memang lebih tua dariku, baiklah-baiklah. Aku akan memanggil Robert mulai sekarang," aku Aleta dengan nada terpaksa.
Patti tertawa, dia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya serta melihat mainan kalung yang dipakainya di mana ada sebuah cincin yang melingkar indah di dalam sana. Patti pamit pada Aleta lalu memutuskan sambungan mereka, ia membuka laptop yang sejak tadi tertutup lalu mulai mengetik beberapa angka di keyboard.
Adera sedang di rumahnya menikmati waktu bersama keluarganya tanpa kehadiran Robert sebab Robert sedang melakukan pekerjaan di luar negeri menggantikan Alvin yang sudah tidak bisa pergi ke mana-mana akibat kehamilan Angela. Adera sedang melihat foto keluarga hingga tanpa sadar seruan gembira kakak sepupunya menghentikan Adera membuka lembaran foto lain.
"Dulu Patti berbadan gemuk, pipinya chubby meski masih sama seperti sekarang tidak ada senyum di wajahnya tapi dia terlihat lebih manusiawi." Sepupu Adera menunjuk foto Robert saat dirinya masih berumur sepuluh tahun.
Tawa keluarga itu pecah saat mendengar penuturan itu, Robert yang waktu kecil mendapatkan panggilan Patti karena suka makan selain itu Patti adalah nama kecil Robert yang hanya diketahui oleh anggota keluarganya saja. Dulu Robert memang terlihat menggemaskan, pipi besarnya yang bulat membuat ia tampak lucu saat tertawa ataupun makan.
"Ya, dia memang lebih menggemaskan saat kecil setidaknya dia tidak menyebalkan seperti sekarang." Adera cemberut saat mengingat kejadian kemarin.
Dia masih merasa kesal atas pilihan Robert yang lebih memilih Aleta ketimbang Alena yang manis dan tulus. Adera memilih di rumah hanya untuk mengetahui kebenaran hubungan Aleta dan Robert, bukan hanya sekedar memastikan Adera juga ingin membuat persiapan untuk Alena yang sangat ia sayangi.
Sore datang dengan cepat, Adera sengaja bermain dengan keponakannya yang lain di luar rumah untuk menunggu kepulangan Aleta. Cukup lama Adera menunggu hingga deru mesin mobil menghentikan kegiatan bermain Adera, dia melihat mobil Aleta terparkir dengan rapi lalu Aleta turun dengan tangan memegang seikat bunga besar.
Aleta memanggil pelayan untuk membantunya menurunkan bunga lai dari dalam mobil agar bisa dibawa ke rumahnya. Di kertas, di setiap bunga yang diturunkan tertulis nama Patti yang membuat harapan Adera untuk Alena semakin pudar.
Apalagi binar bahagia di mata Aleta benar-benar terlihat begitu tulus, Adera menyerah, dia tidak sanggup untuk menghancurkan Aleta dan Robert yang saling mencintai. Lagipula jika Alena tahu kalau Aleta dan Robert saling mencintai maka Alena pasti akan mundur tanpa bicara.
Adera memilih diam, dia mundur perlahan seolah tidak melihat kehadiran Aleta di sana lalu pergi diam-diam menjauh. Adera membiarkan Alena tahu dengan sendirinya agar hatinya tidak lagi berharap, meski menanggung luka dalam tali setidaknya dia mengetahui kebenaran itu sendiri di depan matanya.
Aleta yang tadinya sempat melihat Adera sekilas sekarang merasa bingung sebab jangankan Adera utuh bayangannya saja tidak terlihat. Aleta mengangkat bahu lalu berjalan menuju kediamannya dengan senyum yang begitu lebar.
Sepanjang jalan Aleta terus terbayang akan kenangannya bersama sang kekasih, dia terus tersenyum hingga menjadi pusat perhatian para pelayan yang berselisih jalan dengannya. Aleta dengan gembira memasuki kamarnya menutup pintu lalu menghirup aroma dari 99 mawar yang dibawanya.
Aleta memindahkan bunga yang ada di dalam pot di mana bunga itu biasa diletakkan Clara di kamar Aleta sebagai hiasan. Aleta memasukkan 99 mawar yang dibawanya pulang lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai mandi Aleta memilih berbaring di tempat tidur menikmati musik romantis sembari memejamkan mata.
Semenjak hari itu perilaku Aleta berubah, ia yang tidak suka menebar senyum sekarang malah suka tersenyum, ia yang sering pulang cepat ketika tidak ada pekerjaan suka terlambat pulang dan bahkan pulang ketika malam telah larut. Aleta juga suka mengurung diri di kamar jika libur datang, makanan serta cemilan akan diantar ke kamarnya oleh pelayan.
Beberapa hari kemudian Aleta menuruni tangga dengan koper di tangannya, ia meletakkan koper di meja kunci lalu berjalan menuju meja makan di mana ayah dan ibunya sudah menunggu. Aleta yang dulu tidak biasa berdandan sekarang selalu tampil cantik di depan umum.
Aleta makan dengan lahap, dia menikmati sarapan lezat bersama orangtuanya dengan tawa kecil manis yang terdengar di ruang makan.
"Ayah! Ibu! Aleta ada perjalanan ke luar kota selama beberapa hari, Aleta mungkin juga akan pindah dari rumah sebab pekerjaan Aleta semakin lama semakin banyak. Aleta sudah menyewa apartemen di samping perusahaan tempat Aleta bekerja, sulit untuk pulang pergi setiap hari apalagi Aleta sering pulang malam." Aleta yang telah selesai makan pamit pada ayah dan ibunya.
"Tidak apa-apa, kau sudah besar sudah tahu harus melakukan apa sekarang. Ibu hanya ingin kau berhati-hati di luar sana, jika ada bahaya langsung kabari kami agar tidak ada sesuatu yang buruk terjadi." Clara mengusap rambut Aleta sayang, Clara juga merasa kasihan melihat Aleta pergi pagi-pagi sekali dan pulang begitu larut malam.
Aleta mencium tangan ayah dan ibunya lalu pergi dari sana secepat mungkin, Clara mengantar Aleta sampai ke mobilnya melihat Aleta pergi baru kembali ke kediamannya. Sedikitpun Clara tidak menaruh curiga pada Aleta karena Aleta memang sering bepergian ke luar negeri.
Aleta di sisi lain mengemudi menuju sebuah rumah yang berada di kaki bukit yang tidak jauh dari kota, Aleta melaju pelan ke sana lalu memarkir mobilnya di halaman. Saat Aleta turun sudah ada pelayan yang menunggu meminta kunci mobil menurunkan koper yang Aleta bawa lalu membawa mobil itu ke garasi.
Aleta melangkah masuk ke dalam rumah perlahan namun dia terkejut saat merasakan pelukan dari samping. Dagu Patti diletakkan di bahu Aleta membuat Aleta geli karena napas Patti langsung mengenai lehernya, tanpa malu Patti mengecup pipi Aleta membuat wajah Aleta memerah malu.
"Ada pelayan di sini, mereka melihat kita. Kau ini benar-benar tidak tahu aturan," bisik Aleta lembut agar tidak didengar oleh orang lain.
Patti tertawa melihat tingkah Aleta, ia menggendong tubuh Aleta menuju kamar yang ada di lantai bawah membaringkan tubuh Aleta di tengah-tengah lalu ia ikut berbaring di samping Aleta memeluk erat Aleta dengan posisi miring.
Sedangkan Aleta meletakkan kepalanya di d**a Patti mendengar jantung Patti yang berdetak sangat kencang. Aleta menikmati irama itu dengan senyum bahagia.
"Aku merindukanmu," bisik Patti di telinga Aleta membuat Aleta mendengus geli karena Patti dengan sengaja menghembuskan napasnya di telinga Aleta.
"Aku juga merindukanmu, aku pikir setelah mendapatkan kehormatan ku kau akan pergi meninggalkan diriku." Aleta mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, jujur saja setelah melakukan hubungan itu Patti pergi bekerja ke luar dan mereka hanya memberi kabar lewat telepon dan pesan saja.
Patti terkejut mendengar penuturan Aleta, ia bangkit menindih tubuh Aleta melepas kaos yang Aleta kenakan memperlihatkan puncak kembarnya yang tertutup kain berwarna putih polos. Patti membuka bagian penutup itu di mana puncak kembar Aleta berdiri menantang membuat jakunnya naik turun.
Rasa kering, haus serta panas menyerang Patti, membuat Patti langsung melahap salah satu puncak kembar itu menyalurkan rindunya beberapa hari ini tanpa kehadiran Aleta di sisinya. Aleta mendesis, tanpa sadar tangannya bergerak ke rambut Patti menariknya lembut membuat Patti semakin menginginkan Aleta.
"Bagaimana kalau kau pindah saja dari rumah? Kita akan tinggal bersama mulai sekarang, aku tidak ingin kau ragu padaku. Bukankah Alena tinggal di luar rumah lalu apa salahnya jika kau ikut dirinya?" Patti melepaskan bibirnya dari puncak itu untuk berbicara.
Aleta mengangguk, wajahnya memerah dengan cepat napasnya juga memburu dengan tubuh melengkung menahan godaan yang diberikan Patti. Aleta ingin memberikan jawaban namun mulutnya langsung dibekap oleh Patti hingga suara aneh terdengar di dalam kamar.