Patti memeluk tubuh Aleta erat, tangannya menggenggam jemari Aleta erat takut untuk melepaskan Aleta sedetik saja. Mereka bersandar satu sama lain setelah sesi panas yang mereka lalui beberapa menit yang lalu. Patti terus menyirami rahim Aleta dengan benihnya berharap Aleta bisa segera hamil dan buah cinta mereka segera hadir di dunia ini.
"Apa kau masih ragu tentang cintaku padamu?" tanya Patti sembari membelai rambut Alena, sesekali Patti mencium rambut Aleta membuat Aleta memejamkan mata menikmati suasana damai itu.
Baju mereka berserakan di lantai secara acak dengan aroma percintaan yang begitu keras di udara, selimut yang menutupi mereka hingga ke d**a menyembunyikan tubuh tanpa sehelai benang pasangan itu.
"Tidak, aku tidak ragu lagi." Aleta menjawab dengan cepat, ia takut digarap lagi oleh sang kekasih.
Kakinya masih terasa lelah, keringat yang bercucuran di tubuhnya juga belum dibersihkan. Aleta sungguh tidak siap untuk melangkah ke manapun lagi, Aleta memeluk tubuh Patti erat menyandarkan kepalanya di d**a Patti menikmati detak jantung yang sekarang hanya bertuliskan namanya.
"Aku sudah mengatakan pada ibu kalau aku akan tinggal di luar karena urusan kantor, ibu mengizinkan tapi aku ingin kita tinggal di apartemen yang memiliki keamanan tinggi serta tidak sembarang orang yang bisa masuk ke sana. Aku tidak akan menikah sebelum Kak Alena menikah," bisik Aleta malu pada telinga sang kekasih.
Setelah mengatakan itu Aleta menyembunyikan wajahnya dengan selimut hingga membuat Patti ketakutan, Patti langsung menarik selimut ke bawah dan tanpa sadar memperlihatkan bukit kembar Aleta yang mencuat. Patti menelan ludah namun dia berusaha menahan diri, Patti mengangkat dagu Aleta agar melihat ke arah dirinya mata mereka beradu memancarkan cinta yang dalam satu sama lain.
"Kau bersungguh-sungguh kan? Apa semua yang aku dengar adalah kebenaran?" tanya Patti memastikan sekali lagi.
Rona merah kembali tercipta di pipi Aleta, sejujurnya dia malu untuk mengungkapkan ini semua tapi Aleta benar-benar sudah memilih untuk tinggal bersama Patti agar cinta mereka semakin dalam satu sama lain. Aleta ingin Patti tahu bahwa ia serius menjalin hubungan mereka, Aleta mengangguk sebagai jawaban agar hati Patti semakin merasa senang.
Patti tampak senang, ia dengan tidak sabar mengecup pipi, kening, serta seluruh wajah Aleta untuk mengungkapkan kebahagiaan yang tengah ia rasakan. Patti kembali berbaring di samping Aleta memeluk Aleta erat ke dalam dekapannya mengabaikan semua yang ada karena sekarang, dirinya berpusat pada Aleta.
Aleta ikut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Patti, mereka tidur berpelukan pagi itu menikmati hari yang cerah tanpa terpikir untuk meninggalkan satu sama lain. Cinta, mungkin beberapa orang dibuat bodoh olehnya, sebagian lagi dibuat lupa akan keadaan dan sebagian lagi menerima dengan biasa saja.
Siangnya Aleta terbangun di dalam pelukan pria yang mencintainya, Aleta menatap wajah itu lama sebelum jari telunjuknya bermain dengan hidung, mata, bibir lalu kembali ke hidung Patti lagi. Hidung mancung, bulu mata panjang serta alis tebal yang memikat, Patti tidak termasuk dalam kategori pria berkulit putih.
Tingkah Aleta yang terus memperhatikan bibir Patti membuatnya tidak sadar kalau Patti sudah bangun sedari tadi, mata hitamnya tengah menatap Aleta dengan tenang seolah seperti harimau yang sedang menunggu mangsanya lengah.
Saat jemari Aleta hinggap di bibir Patti bermain dengan indah di sana Patti langsung mengigit jemari itu pelan penuh kelembutan membuat Aleta terkesiap dengan wajah memerah. Melihat itu Patti tersenyum senang, dia melepas jari telunjuk Aleta membiarkan Aleta menatap dirinya tajam dan dalam.
"Kapan kau bangun?" tanya Aleta menciut, Aleta menyembunyikan tubuhnya dengan baik menggunakan selimut takut Patti mengambil keuntungan lagi darinya.
Patti tertawa, ia mendekat pada Aleta memeluk tubuh Aleta erat lalu berbisik di telinga Aleta merdu. "Sejak kau bermain dengan bibirku? Apakah bibirku terlihat menarik bagimu?" tanya Patti dengan seringai jahil di bibirnya.
Tingkah menggoda Patti semakin membuat Aleta malu, Aleta memilih membalut selimut di tubuhnya lalu berlari ke kamar mandi menyelamatkan diri. Melihat itu Patti terkejut bukan main, Patti mengejar langkah Aleta cepat karena takut terjadi sesuatu pada Aleta.
Merasa aman di kamar mandi, Aleta meletakkan selimut tebal tadi di tempat yang tidak terkena percikan air menghidupkan shower lalu membilas rambut dan tubuhnya di bawah guyuran air yang mengalir. Saat Aleta menghadap dinding Patti memeluk tubuh Aleta dari belakang memberikan kecupan ringan di tengkuk Aleta membuat bulu kuduk Aleta berdiri.
"Aku lelah," bisik Aleta lemah.
Sekali lagi rona merah yang sempat hilang muncul kembali dengan cepat, Aleta menunduk malu membiarkan Patti bermain dengan tubuhnya. Patti membalik tubuh Aleta memberikan kecupan ringan di pelipis Aleta lalu berpindah pada bibir cantik Aleta yang membuat dirinya candu.
Rasa dingin yang mengalir dari shower berubah hangat saat keduanya terus menjalin kasih satu sama lain. Aleta memegang Patti erat enggan untuk melepaskan, begitu pula Patti yang memeluk Aleta erat tidak ingin Aleta jatuh atau mengalami cidera apapun.
Mandi yang harusnya berkisar beberapa menit itu berubah menjadi satu jam lebih akibat ke-duanya memilih berendam terlebih dahulu di bak mandi besar yang ada di dalam. Mereka bermain air hingga lelah baru berjalan ke luar untuk mencari makanan karena perut Aleta sudah berbunyi nyaring.
Ke-duanya ke luar dari kamar bawah berjalan menuju meja makan untuk mengisi perut, meja makan berada tidak jauh dari ruang tamu. Di sana ada delapan kursi dengan dua kursi berada di ujung dan enam lainnya berada di bagian yang memanjang. Aleta duduk di sebelah Patti menikmati makanan lezat mereka berdua tanpa ada orang lain yang mengganggu bahkan pelayan yang bekerja memilih kembali ke tempat mereka tinggal agar tidak merusak suasana harmonis itu.
Adera tengah membawa berkas di tangan kanan dan kirinya, ia berjalan sepenuh rumah Alvin untuk menemukan Robert namun jangankan orangnya bayangannya saja tidak Adera jumpai. Lelah, Adera memilih duduk di tangga dengan wajah ditekuk masam serta berkas yang ia bawa tadi diletakkan di samping.
Reda yang muncul dari ruang kerja Alvin di lantai atas tampak heran sekaligus bingung, ia berjalan menuju sisi Adera meletakkan kantong plastik yang di bawanya lalu ikut duduk bersama Adera di sana.
"Ada apa? Kenapa kau duduk di sini? Apa pekerjaan yang aku dan Robert berikan padamu terlalu berat?" tanya Reda bingung, ia melihat Adera menghembuskan napas berulang-ulang kali seolah jengkel dengan sesuatu.
Adera menatap Reda sekilas lalu lampu terang bersinar di otaknya, mata Adera berbinar indah membuat Reda merasa curiga. "Kau pasti tahu ke mana kakakku pergi, kan? Ada beberapa berkas yang tidak bisa aku tangani dan membutuhkan tanda tangannya sekarang juga sedangkan rupanya tidak aku temukan di rumah ini." Adera sekali lagi menekuk wajahnya.
Reda tertawa, tanpa sadar tangannya naik begitu saja mengusap rambut lembut Adera membuat Adera membeku. Reda yang sadar akan kesalahannya juga termenung dengan mata saling memandang seolah sedang menyelami pikiran masing-masing.
"Kakakmu ada di vilanya di tepi bukit, dia saat ini tengah melakukan misi di sana. Kau tahu daerahnya kan? Datang saja ke sana atau perlu aku yang mengantarmu ke sana?" tanya Reda canggung namun tetap berusaha mencairkan suasana.
Adera mengangguk, dia memang tahu tapi sedang malas berkendara sendirian jika ada sopir gratis lebih baik memanfaatkannya sebaik mungkin tanpa harus mencari yang lain. "Tolong antar aku ke sana! Berkas ini akan kubawa hari ini untuk meeting dan kakak yang tahu tentang semuanya lagipula semenjak Tuan Alvin cuti yang berlaku sekarang adalah tanda tangan kakak." Adera tidak menolak sama sekali.
Ia langsung bangkit berdiri dengan penuh semangat membuat Reda gemas. Reda berjalan lebih dulu menuju ruang kerja Alvin di lantai bawah, ia meletakkan semua berkas yang diambilnya tadi di atas meja lalu berjalan pergi menuju ke mobilnya di mana Adera sudah menunggu dengan tidak sabar.
Mereka melaju meninggalkan kediaman Alvin menuju ke vila yang baru di Belu Robert beberapa bulan ini. Vila itu terletak di kaki bukit dengan pemandangan laut yang indah di belakangnya sehingga ketika lelah bekerja kita bisa menyegarkan diri dengan aroma laut yang menenangkan.
Cukup lama berkendara mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju, vila dengan pagar putih setinggi pinggang itu memiliki halaman yang luas, garasi mobil terletak di samping kanan dan pintu garasi tertutup rapat. Ada ayunan di sebelah kanan pintu masuk dengan beberapa bunga indah sebagai hiasan tempat itu. Reda memarkir mobilnya di depan halaman di mana ada pelayan yang datang mengambil kunci mobil agar bisa diparkir di tempat aman.
Di sisi kiri ada air mancur dengan bentuk anak kecil tengah memegang guci, senyum anak itu tampak hidup dengan mata hitam yang menatap para tamu yang datang. Di sekitar air mancur ada kolam ikan di mana ikan-ikan itu tampak sehat dan gemuk, mereka melangkah menuju pintu mengetuk pintu pelan.
Dari dalam muncul Robert yang menatap ke-duanya dengan wajah datar tanpa ekspresi, Robert mempersilahkan keduanya masuk melempar sendal rumah berbulu pada ke-duanya secara asal. Saat Adera masuk ke dalam ia menemukan Aleta tengah ke luar dari dapur membawa minuman untuk dirinya sendiri
Aleta melempar senyum menawan pada Adera sebelum berjalan menuju ke belakang rumah di mana ada kolam renang yang mengarah langsung ke laut. Adera termenung, ia melayangkan pandangan pada Robert yang tampak tidak peduli pada tatapannya sembari menjulurkan tangan meminta sesuatu.
"Bukankah kakak mengatakan Aleta pergi ke luar kota selama beberapa hari? Kenapa dia ada bersamamu di sini, Kak?" Adera masih ingin tahu tentang hubungan ke-duanya meski hatinya terasa sakit.
Robert tidak memberikan jawabannya, dia hanya melihat dokumen yang dibawa Adera menanda tangani bagian yang perlu lalu menyerahkan semua itu pada Adera lagi. Robert hendak berbalik namun tangannya dicegah oleh Adera hingga menghentikan langkahnya setengah jalan.
"Kak jika kau serius bersama Aleta makan jauhi Alena, dia gadis baik. Jangan berikan dia harapan palsu lagi, aku akan membuatnya menjauhimu agar hubungan antara kau dan Aleta tidak terganggu." Setelah mengatakan itu Adera melangkah pergi.
"Urus saja urusanmu! Jangan ikut campur urusan orang lain, jika matamu tidak bisa melihat gunakan pendengaranmu jika pendengaranmu ikut rusak maka gunakan hatimu. Perihal apa yang aku lakukan asal itu tidak merugikan dirimu kenapa kau harus ikut campur?" Robert mengatakan apa yang ingin dikatakannya, lalu berjalan ke arah dapur.
Reda yang tidak ingin ikut campur memilih untuk pergi mengikuti Adera, sesampai di luar Reda menemukan wajah masam Adera dengan matanya terarah pada ayunan dengan bunga mawar di atasnya itu.
"Ayo pergi! Bukankah pekerjaan yang akan kau lakukan masih banyak? Biarkan saja waktu yang menjawab semuanya, jangan pedulikan apapun jika itu tidak mengganggu jalanmu. Perihal hati tidak ada yang bisa menebak takdirnya," ucap Reda mantap lalu membuka pintu bagian kemudi.
Adera ikut menyusul masuk meninggalkan tempat itu segera, Adera duduk diam di sepanjang jalan seolah ada beban berat yang dipikulnya. Reda tidak mengganggu, dia hanya menghidupkan musik lembut agar membantu pikiran Adera tenang.