Alena menuruni pesawat dengan rasa lelah yang tidak berkesudahan, mereka langsung mengambil penerbangan pulang saat mendengar ibu Alfred masuk rumah sakit karena jatuh di kamar mandi. Padahal mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan pada pukul lima pagi, Alena memegang lehernya yang terasa kaku.
Guratan lelah tampak jelas di wajahnya dengan lingkaran hitam yang terlihat begitu menakutkan daripada waktu itu. Mereka sampai di bandara pada sore hari meninggalkan kru yang bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang tinggalkan begitu saja.
Sesampainya di bandara mereka telah ditunggu oleh sopir keluarga Alfred, mereka langsung menuju mobil karena tidak membawa apapun saat pulang, Alena di dalam mobil bersandar di bahu Alfred mencoba menghilangkan lelah yang dirasakannya.
"Jangan cemas! Aku yakin ibu baik-baik saja," bisik Alfred lemah sambil memegang tangan Alena.
Siapa yang tidak tahu betapa dekatnya Alena dengan ibu Alfred, diperlakukan melebih anak kandung, dimanja secara berlebihan dan bahkan kadang dibela saat jelas-jelas dirinya lah yang salah. Alena menitikkan air mata, ia menangis tersedu-sedu membuat Alfred kebingungan membujuknya.
"Ale bolehkah aku bertanya? Siapa di sini yang mempunyai ibu, aku atau dirimu? Kenapa malah kau yang terlihat lebih khawatir dari diriku?" Alfred mencoba membujuk Alena dengan cara lain.
Benar saja, Alena langsung bangkit mencubit pinggang Alfred keras hingga membuat Alfred mengaduh kesakitan. Pipi Alena mengembung dengan tangan di pinggang seperti ibu-ibu yang sedang marah pada anaknya.
"Coba katakan sekali lagi! Aku akan menyampaikan apa yang kau katakan pada Bibi, aku ingin melihat siapa yang akan dimarahi pada akhirnya. Huh, aku adalah anak kesayangan bibi jadi apa salahnya jika aku khawatir tentangnya?" Tidak mau kalah, Alena tampak lebih sangar dari Alfred.
Alfred yang berniat untuk menghibur hanya bisa pasrah tidak berdaya menghadapi sikap Alena. "Baiklah-baiklah, kau memang anak kesayangan ibuku. Aku tidak akan membujuk dirimu lagi, kau ingin menangis berteriak atau bahkan melempar orang aku juga tidak akan peduli lagi."
Sopir yang duduk di depan hanya bisa tersenyum simpul saat mendengar pertengkaran kedua orang itu, sejak menjadi bagian pekerja dari keluarga Alfred pertengkaran seperti apa yang tidak dia lihat dari ke-dua orang di belakangnya ini. Kadang ke-duanya saling mencaci, kadang saling menghina dan bahkan terkadang ke-duanya saling memojokkan.
Biasanya akan ada hal kecil yang akan menjadi biang keributan di antara ke-duanya namun jika ada sesuatu yang terjadi maka ke-duanya akan saling menjaga layaknya saudara kandung. Mereka akan saling menyemangati, saling menghibur dan bahkan saling memberi kekuatan.
Mobil yang Alena dan Alfred tumpangi akhirnya sampai di rumah sakit, ke-duanya langsung berebut untuk turun lebih dulu namun jika dilihat dengan saksama sebenarnya Alfred terlihat memelankan langkahnya agar Alena menang. Buru-buru Alena menuju ruang di mana ibu Alfred dirawat, ia berdiri cukup lama di depan ruangan takut untuk masuk dengan kaki sedikit gemetar.
Alfred yang akhirnya berhasil menyusul enggan untuk mendekat, dia menjaga jarak dari Alena agar Alena memiliki kekuatannya sendiri. Setelah lama berdiri Alena akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan dengan membuka pintu secara perlahan.
Di dalam ruangan, tepatnya di tengah-tengah ada ranjang yang diletakkan di mana ada seorang perempuan separuh baya tengah berbaring dengan mata terpejam. Rambutnya mulai memutih, dia tampak mengabaikan dunia di sekitarnya.
Alena melangkah perlahan menuju ranjang, tanpa sadar air matanya jatuh. Alena menangis namun sekuat tenaga mencoba untuk tidak mengeluarkan suara agar tidur wanita paruh baya itu tidak terganggu, Alena mendorong kursi kecil di samping ranjang lalu duduk di sana tanpa mengeluarkan suara.
Ruangan itu tampak hening, hanya suara napas wanita itu yang terdengar. Hening, bahkan detak jantungnya sendiri dapat didengar oleh Alena. Ruangan rumah sakit itu tampak sederhana hanya ada lemari kecil di samping ranjang, sofa yang ada di sisi kiri juga tidak terlihat semewah kamar lainnya.
Hanya ada satu tempat tidur di ruangan ini hingga jika ada keluarga yang menginap maka terpaksa tidur beralaskan karpet di lantai. Alena menggenggam tangan wanita yang tertidur itu memastikan napasnya masih ada, setelah merasakan kehangatan barulah Alena tampak puas lalu ia berdiri memberi kesempatan pada Alfred untuk duduk menemani ibunya.
"Apa yang kau lakukan di sana? Ke sini! Ibumu pasti sangat merindukanmu, dasar anak durhaka." Alena berbicara dengan nada pelan namun matanya yang besar membuat Alfred ingin tertawa karena Alena terlihat lucu.
Perlahan tanpa tergesa-gesa Alfred berjalan menuju ranjang, duduk di tempat Alena tadi lalu memegang tangan ibunya sama seperti yang dilakukan Alena. Di sisi lain Alena memilih berjalan menuju sofa membaringkan tubuhnya lalu tanpa sadar tertidur.
Mungkin karena rasa lelah yang dideritanya beberapa hari ini atau mungkin karena perasaannya sudah tenang entahlah, Alena menutup matanya melepaskan beban di hatinya segera setelah ia melihat langsung keadaan ibu Alfred.
Alfred duduk manis sambil memegang tangan ibunya, wajah tua ibunya terlihat lelah dengan lebam biru besar di kening yang terlihat menakutkan. Tangannya juga terlihat membiru namun tidak seseram yang di kening, Alfred menahan air matanya agar tidak jatuh namun dia tidak kuasa melakukan itu semua.
Terisak, Alfred menangis tersedu-sedu di samping sang ibu dengan kepala menunduk untuk meluapkan emosi serta kesedihan yang ia rasakan. Saat itu, tangan hangat yang Alfred genggam membalas kehangatan yang Alfred berikan membuat Alfred terkejut dan buru-buru menghapus air matanya yang jatuh.
"Ibu baik-baik saja, kenapa kau pulang dalam keadaan terburu-buru seperti ini hem? Kasihan Alena! Dia tampak begitu lelah, lihatlah dia di sofa itu!" tunjuk ibu Alfred menggunakan lirikan matanya.
Alfred membalik tubuhnya, ia menemukan Alena bersandar di kursi dengan mata terpejam. Namun ketenangan serta kedamaian yang ia perlihatkan menjelaskan kalau ia baik-baik saja sekarang.
"Mau bagaimana lagi, Bu? Saat mendengar dirimu jatuh di kamar mandi dia yang paling heboh, semua orang mendapatkan amarahnya karena lalai dari pekerjaan. Aku tidak punya cara lain selain mengangkutnya ke sini secepat mungkin." Setengah bercanda Alfred mencoba membela diri dari amukan ibunya.
"Alena gadis yang baik sayang sekali anakku tidak mau mengungkapkan perasaannya dan sayang juga Alena tidak tahu kalau anak bodohku menyukainya sejak dulu. Alena itu sederhana, tidak banyak maunya dan tidak seperti gadis-gadis manja di luar sana Alena mampu menekan perasaanya dengan baik agar orang-orang di sekitarnya tidak menganggap dia beban." Ibu Alfred masih melirik Alena, matanya dipenuhi cinta mendalam yang kadang membuat Alfred merasa iri.
"Huh belum menjadi bagian keluarga kita saja ibu sudah sangat mencintainya apalagi setelah menjadi menantu. Pasti nanti saat kami bertengkar aku yang dijadikan anak tiri, lebih baik seperti ini saja dengan begitu aku tidak kekurangan kasih sayang sama sekali." Alfred langsung memberikan jawaban membuat ibunya terkekeh.
Ibu Alfred berusaha bergerak untuk duduk namun pinggangnya terasa sakit, dia hanya bisa berbaring di ranjang tidak bisa memukul kepala Alfred yang keras seperti batu itu. "Anak ini, cobalah sesekali ungkapkan perasaanmu padanya! Alena itu berbeda, dia tidak akan peka jika tidak kau ucapkan dengan bibirmu sendiri."
"Lalu merusak hubungan persahabatan kami yang sudah terjalin lama, tidak Ibu. Aku lebih nyaman seperti ini dengannya, aku lebih suka dia bersandar di bahuku tanpa merasa aku ini orang lain. Biarkan semuanya seperti ini sampai Alena menentukan hatinya dengan begitu kami pasti bisa saling menjaga dan menghormati satu sama lain nanti." Alfred langsung menolak gagasan ibunya.
Alfred meletakkan tangan sang ibu mengambil air di atas meja lalu menyerahkan pada ibunya yang tampak haus. Tidak ada lagi percakapan setelah itu, ke-duanya memilih diam dengan pikiran masing-masing mengabaikan satu sama lainnya.
Aleta yang mendapat kabar Alena pulang tampak bersemangat namun semangat itu kembali redup saat dia sadar kalau dia berbohong pada ibunya mengatakan dia pergi ke luar negeri. Robert yang menyadari perubahan di wajah Alena mendesah lalu mengusap rambut Alena sayang.
"Biarkan saja dia! Masih banyak kesempatan untukmu bertemu dengannya jadi jangan terlalu memikirkan apa-apa. Makanlah sesuatu yang mengenyangkan perut! Kau bisa memilih apa yang kau inginkan di dapur," ujar Robert penuh kasih sayang sambil membelai rambut Aleta.
Aleta mengangguk, dia melirik teleponnya sekali lagi sebelum berjalan menuju ke dapur mencari sesuatu yang bisa dimakannya. Malam hari, Alfred dan Alena memilih penerbangan lagi untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang masih tersisa beberapa lagi.
Awalnya Alena menolak Alfred ikut dengannya dan bersikeras Alfred menemani ibunya di rumah sakit namun ibu Alfred malah mengusir ke-duanya dengan cara yang kejam.
"Ini salahmu! Jika kau tidak menjawab ucapan ku makan kita tidak akan diusir oleh bibi dengan cara yang sangat memalukan ini," tuduh Alena pada Alfred yang dibalas Alfred dengan tatapan mata yang tajam seolah-olah dia bisa memakan Alena jika Alena terus berbicara lagi.
Alena menciut, dia merapatkan tubuhnya ke arah pintu mencoba menghilangkan keberadaannya meski itu tidak mungkin. Melihat reaksi palsu yang Alena berikan ingin rasanya Alfred tertawa namun dia menahannya sekuat mungkin.
"Sekali lagi menyalahkan ku maka aku akan membiarkan kau kembali ke rumah sakit agar diusir kembali oleh ibuku. Dasar anak nakal, jika kau tidak membuat keributan yang begitu besar apakah ibu masih memerlukan penjaga keamanan serta para perawat itu untuk mengusir kita? Ini salahmu sendiri jangan menunjukku, cepat saja selesaikan pekerjaan kita agar kau bisa menemani dan merawat ibuku." Alfred melipat tangan di d**a sambil mendengus.
Alena mencibir, dia ingin mencubit Alfred untuk melampiaskan kekesalannya namun melihat Alfred masih marah Alena memilih diam bersandar pada pintu yang terkunci untuk melihat pemandangan jalan di malam hari.
Lampu-lampu jalan tampak menari perjalanan mereka ditambah kelap-kelip bintang di angkasa yang tengah menemani bulan yang tampak kesepian. Ribuan warna lampu tampak indah, membuat Alena tanpa sadar tersenyum begitu cemerlang.
"Aku ingin lamaran yang indah di malam hari, di mana di tempat itu ada ribuan warna cahaya. Aku tidak memerlukan bunga atau benda mahal yang aku inginkan suasana romantis penuh kehangatan. Agar kenangan itu tetap tersimpan di hatiku nanti," bisik Alena tanpa sadar.
Alfred melirik Alena namun enggan untuk bersuara, ia ikut melihat pemandangan di luar menganggukkan kepala sebagai jawaban atas apa yang Alena ucapkan barusan. "Siapa juga yang mau melamar wanita bar-bar seperti dirimu? Berdandan saja tidak bisa, berbicara suka keceplosan apalagi otakmu tidak kau gunakan dengan baik." Alfred menyindir Alena.
Alena mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Alfred, dia memang ingin dilamar dengan suasana romantis seperti itu tapi seperti kata Alfred tadi siapa yang mau melamarnya. Pria yang ia cintai tidak mencintainya, dia malah diabaikan, dianggap tidak pernah ada sedangkan hatinya enggan untuk mencari pelabuhan lain.
Alena mendesah, ia menurunkan kaca mobil membiarkan angin dingin menerpa wajahnya. Sembari menutup mata Alena membiarkan semuanya bagai tidak ada, dia mencoba membayangkan lamaran yang diinginkannya lalu tersenyum bahagia.
Alfred di sisi lain hanya mampu menggenggam tangannya, dia tahu perasaan Alena seperti apa karena dia menjalani itu juga namun Alena lebih membutuhkan dukungannya karena sepertinya Alena akan mengalami patah hati yang lebih parah darinya.
Mereka sampai di bandara setengah jam sebelum waktu keberangkatan, Alena memaksa Alfred menemaninya membeli makanan karena perutnya sudah keroncongan sejak tadi menaiki mobil. Ke-duanya memilih makanan ringan sebagai pengganjal perut, menghabiskan semuanya tepat waktu lalu menaiki pesawat dengan langkah santai.
"Tidak banyak pekerjaan yang akan kita lakukan setelah ini kita bisa libur satu setengah bulan. Kira-kira apa yang akan kau lakukan ketika kita libur? Apa kau ingin jalan-jalan ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran?" tanya Alfred asal tapi dibalas cubitan kejam oleh Alena membuatnya mengaduh hingga hampir menjadi tontonan.
Alena memilih mengabaikan Alfred, ia memejamkan mata memasang penutup telinga lalu meluruskan kakinya yang terasa lelah akibat berlarian ke sana kemari tidak tentu arah sejak tadi. Diabaikan tanpa tahu kesalahan Alfred hanya bisa pasrah menerima nasib melawan perempuan.
Mereka sama-sama melakukan hal yang sama, tanpa tahu ada sepasang mata yang menatap Alena di kejauhan, dia mengambil beberapa foto Alena lalu mengirimkannya pada seseorang yang jauh untuk mendapatkan sebuah pujian.
Perjalanan yang mereka tempuh untuk mencapai lokasi kerja selanjutnya cukup jauh hingga di atas pesawat Alena hanya bisa tidur makan dan membaca untuk menghalau rasa bosan yang datang menghampiri.