Hujan lebat diiringi petir yang menggelegar membuat beberapa orang enggan untuk melangkah ke luar rumah bahkan beberapa yang terpaksa turun tampak enggan berlama-lama berada di luar rumah. Di sisi gang gelap sebuah tubuh kurus kering dilempar secara asal-asalan di tempat sampah yang biasa dikerumuni oleh pemulung.
Hujan yang turun sejak sore juga membuat pemulung yang biasanya selalu mencari rezeki di sekitar sana memilih untuk tidak datang, sosok kurus kering dengan bau busuk menyengat itu meringkuk terkena hujan. Ia menggigil kedinginan namun tidak memiliki cara untuk berpindah tempat dari sana sedikitpun, ia hanya bisa pasrah menerima nasib atau kematian yang akan menjemput.
Lidahnya juga tidak terlihat lagi sehingga tidak ada cara baginya untuk meminta pertolongan, pasrah menerima kematian tubuh busuk penuh luka itu memilih meringkuk lebih dalam agar rasa dingin tidak membuatnya segera mati. Saat putus asa melanda sebuah mobil berhenti, si pemilik mobil turun dengan mulut terus menggeluarkan gerutuannya.
Saat hendak melempar sampah yang ia bawa, matanya tertuju pada seonggok daging yang menggigil karena kedinginan. Wanita itu berteriak keras menyebabkan beberapa orang yang awalnya terlihat tidak peduli langsung berkerumun.
Sosok itu menatap mata yang memandangnya penuh iba dengan ekspresi mati rasa, kapan dia pernah dipandang seperti itu? Sekarang karena dendamnya yang tidak berkesudahan Agata terpaksa mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan.
Beberapa dari mereka langsung menghubungi polisi dan beberapa lagi langsung mencari bantuan agar bisa mendapatkan pertolongan pertama. Agata pasrah, apalagi yang bisa ia lakukan sekarang? Keluarganya pasti membenci dirinya, geng yang ia banggakan telah dihancurkan dalam satu serangan.
Daripada mati di tangan Robert lebih baik dia membusuk di penjara tanpa melihat wajah kejam kedua kakak beradik itu lagi. Agata merasa lega dirinya telah ditemukan, meski orang-orang itu enggan mendekat mereka masih berhati nurani melemparkan kain untuk menutupi tubuh penuh luka miliknya.
Cukup lama dia tergeletak di sana, di bawah kucuran hujan serta tatapan kasihan dari mereka yang berlalu lalang. Agata menepis rasa sedih yang membuncah di hatinya, dengan sabar ia menunggu polisi datang untuk memberinya bantuan serta pengobatan setidaknya Agata masih bisa berharap Robert dan Adera mendapatkan hukuman juga.
Sirine ambulance terdengar memekakkan telinga, dua orang petugas medis turun dari mobil membawa tandu agar bisa mengangkat tubuh Agata, bau busuk yang menyengat langsung tercium di udara saat tubuhnya diangkat. Aroma tidak sedap itu membuat kerumunan langsung bubar dengan tangan menjepit hidung masing-masing.
Ambulance meninggalkan tempat itu segera setelah Agata berhasil dinaikkan, kerumunan yang tersisa juga mengambil inisiatif untuk pergi lalu menyebarkan berita dari mulut ke mulut tentang penemuan mereka hari ini. Segala sesuatu tentang berita langsung tersebar hingga sampai ke keluarga besar Robert.
Mereka langsung menancap gas untuk mencari tahu melupakan segala sesuatu hal yang sedang mereka kerjakan. Andreas juga melakukan hal yang sama, dia meninggalkan rumah segera setelah mendapatkan kabar itu apalagi ciri-ciri orang yang disebutkan hampir sama dengan Agata.
Mereka mencapai rumah sakit satu jam setelah Agata tiba, rumah sakit tampak hening, tidak ada suara yang terdengar hanya beberapa perawat yang ke luar masuk ruangan untuk memeriksa keadaan pasien. Andreas bertanya pada bagian administrasi perihal di mana Agata dirawat yang langsung ditujukan pada ruang UGD di mana polisi juga masih menginterogasi beberapa saksi untuk mendapatkan petunjuk.
Andreas sampai di UGD untuk memastikan, dia menemui polisi untuk bertanya namun enggan untuk melihat langsung ke dalam sebab rasa malu yang Agata berikan pada keluarganya cukup sulit untuk dimaafkan. Perkataan polisi serta ciri-ciri khusus yang diberikan Andreas langsung menguatkan dugaan mereka kalau yang ditemukan warga itu adalah Agata.
"Lidahnya terpotong, patah tulang di tangannya menurut dokter sudah tidak bisa disembuhkan lagi sebab telah terlalu lama. Sepertinya sangat sulit untuk kita mengetahui siapa yang telah menyekap serta membuatnya seperti ini, tapi yang pasti dia harus menjalani seumur hidupnya di penjara." Polisi membenarkan topinya lalu tersenyum kecil pada Andreas.
Setelah memastikan kalau yang ditemukan itu adalah Agata, Andreas langsung pulang ke rumah untuk melaporkan. Agata yang tidak bisa apa-apa lagi hanya bisa pasrah setelah mendengar penuturan dokter, niat hatinya yang ingin balas dendam langsung sirna dibawa angin.
Pupus sudah harapannya untuk membalas dendam, Agata menangis tanpa suara, dia hanya bisa mendekam di penjara seumur hidup atas kesalahan yang telah ia lakukan.
Alena di sisi lain juga mendapatkan kabar bahagia itu, dengan gembira Alena langsung melompat dalam pelukan Alfred. Alena begitu bahagia, beban berat yang dipikulnya terasa lepas tanpa ada penghalang lagi.
"Dia sudah tertangkap, Al! Dia sudah tertangkap, aku bisa menjalani hidupku tanpa rasa takut ataupun waspada lagi. Aku tidak perlu merasa takut, cemas atau bersembunyi di tengah keramaian lagi jika pergi." Alena bersorak senang.
Tawa bahagia dengan air mata lega itu membuat Alena semakin cantik, Alena begitu bahagia hingga dia lupa kalau mereka saat ini menjadi tontonan semua orang. Tersadar akan kesalahannya Alena langsung melepaskan pelukannya lalu bersembunyi di belakang Alfred dengan rona merah manja di pipinya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kita sedang menjadi tontonan?" bisik Alena ringan, tangannya memukul bahu Alfred keras membuat Alfred mengaduh kesakitan.
Alfred tertawa, dia sendiri tidak mengira kalau Alena akan memeluk dirinya begitu erat, dia juga tidak pernah tahu kalau gerakan refleks Alena akan menjadi tontonan anggota kru. Alena berjalan menjauh dari Alfred tapi matanya tetap tertuju pada telepon selulernya, ia sibuk memeriksa informasi lebih lanjut agar harapannya tidak pupus di tengah jalan.
Alena ingin menghubungi Robert untuk berbagi kabar gembira ini namun dengan cepat dia menghentikan gerakannya. Alena menekan tombol Aleta, mendekatkan telepon seluler itu ke telinga menunggu panggilannya terhubung.
Angin sepoi-sepoi yang menerpa dirinya membuat Alena tampak semakin manis dan menarik, apalagi cahaya matahari di sore hari memantul indah mengenai wajah cantiknya. Mata Alfred sedikitpun tidak beralih dari Alena, semua kru kembali menatap ke-dua orang itu sambil berbisik.
"Halo Aleta! Apa kau sudah mendapat kabar? Tante Agata telah ditemukan oleh polisi, dia sudah tertangkap! Aku sudah tidak perlu takut ke luar sendiri lagi, aku juga tidak perlu merasa gelisah lagi. Aku sudah bebas sekarang," teriak Alena senang saat berbagi kabar gembira itu bersama Aleta.
Alena bahkan melupakan di mana dia berada saat ini, baginya kabar bahagia itu harus diutarakan secepat mungkin. Alena melompat dengan gembira tanpa ia sadari ada orang yang ikut bahagia saat mendengar tawa lepasnya lagi, senyum pria itu tampak memikat tanpa dia sadari.
Setelah berbagi kabar bahagia dengan adiknya Alena juga menghubungi Adera, dia dengan bahagia menceritakan tentang hari-harinya selama di luar negeri. Alena juga dengan senantiasa mengatakan pada Adera apa saja kesenangan yang ia dapatkan.
Adera menanggapi dengan senyum paksa, bukan karena tidak menyukai cerita Alena tapi ia takut senyum bahagia di bibir Alena akan hilang cepat atau lambat. Setelah puas bercerita Alena memutuskan sambungan komunikasi mereka, ia tersenyum canggung pada Alfred yang dibalas dengusan Alfred.
Alena mengerjakan kembali pekerjaannya agar mereka bisa kembali pulang, ia ingin menikmati hari-hari tenangnya. Ia ingin melihat ketenangan seperti apa yang akan didapatnya ketika Agata tidak lagi mengganggu hidupnya, Alena semakin semangat bekerja setelah mendapatkan berita itu.
Dua hari di luar negeri akhirnya dia dan Alfred benar-benar menyelesaikan pekerjaan mereka, hari libur yang didambakan oleh Alena telah datang. Alena tampak puas ketika kakinya menginjak bandara, senyum sumringah Alena membuat Alfred merasa kesal hingga mendorong kepala Alena ke belakang.
Alena menaiki mobil Alfred menuju rumahnya dengan raut wajah berseri-seri, ia diantar Alfred hingga sampai ke halaman di mana ada Robert dan Aleta yang juga baru pulang. Alena menyapa ke-duanya sekilas lalu berjalan santai ke dalam rumah seperti hatinya tidak mengalami cemburu melihat adegan itu.
"Hei ingat, liburmu hanya sebulan setengah saja. Setelah ini akan ada banyak perjalanan lagi, jangan merusak tangan serta pikiranmu karena itu sangat penting bagiku." Alfred berteriak keras dari dalam mobil yang dibalas umpatan tidak senang oleh Alena.
Alena berjalan pergi menuju halaman orangtuanya, ia masuk ke dalam kamar mengunci dirinya sembari menangis tanpa suara. Melihat senyum manis Robert serta rona bahagia di wajah Aleta Alena merasa sakit hati, Alena memilih mengunci dirinya sampai jam makan malam di mana semua orang telah menunggunya di meja makan.
Alena tersenyum manis saat sampai di meja makan, pakaian yang ia kenakan tampak menarik perhatian semua orang karena sepertinya dia akan pergi ke pesta. "Bu maaf, aku tidak bisa makan di rumah hari ini. Ibu Alfred memintaku ke rumahnya karena beliau masih sakit, beliau ingin aku menginap di sana bersamanya malam ini." Alena menundukkan kepala saat berbicara.
Awalnya dia ingin menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga tapi siapa yang sangka Alfred menghubungi dirinya setengah jam sebelum makan malam membuatnya tidak bisa ikut makan bersama.
"Pergilah! Jangan menyusahkan beliau, jangan sampai kau yang dijaga bukan dia. Bawalah kue ataupun makanan yang sehat!" ucap Clara lembut sembari melambai.
Alena tampak bahagia, ia mengangguk dengan antusias lalu pergi berlalu begitu saja meninggalkan semua orang tanpa pamit lagi. Tampaknya Alena benar-benar mengabaikan kehadiran Robert di sana, Alena tidak lagi melirik Robert seperti kebiasaannya yang lalu.
Alena berjalan cepat menuju mobilnya, ia bersenandung sepanjang jalan menyanyikan lirik lagu yang menggembirakan, saat sampai di mobilnya dan membuka pintu Alena dihentikan oleh Robert yang langsung menutup kembali pintu itu.
"Aku akan menemanimu ke sana! Tidak baik anak perempuan menginap di rumah laki-laki sendirian, apalagi di sana hanya ada Alfred dan ibunya sedangkan ayahnya berada dalam perjalanan bisnis ke luar negeri kan?" Robert mencegah Alena pergi sendirian, matanya menyala marah penuh kebencian.
Alena tampak bingung, biasanya dia memang tidak menginap di tempat lain selain tempat Angela di mana di sana ada Adera dan Robert. "Tapi!" Alena ingin menolak permintaan Robert namun ia juga merasa takut melihat tatapan ganas yang Robert tujukan padanya.
"Aku ikut atau kau tinggal di rumah, biar bagaimanapun aku adalah Pamanmu. Aku berhak melarang serta menghentikan kegiatanmu, sekarang terserah dirimu mau membiarkan aku pergi atau tidak." Sekali lagi Robert menegaskan.
Langit tampak gelap menandakan hujan akan turun sebentar lagi, angin dingin yang berhembus membuat bulu kuduk Alena berdiri. Di bawah tatapan tajam Robert, Alena terpaksa mengangguk sebagai jawaban. Dia tidak punya pilihan lain karena telah berjanji untuk menginap di sana pada ibu Alfred tadi, Alena berpindah haluan, ia duduk di samping kemudi membiarkan Robert mengambil alih bagian kemudi.
Selama perjalanan hanya ada keheningan, tidak ada yang mau memulai percakapan terlebih dahulu. Alena asyik melihat pemandangan luar sedangkan Robert sibuk mengatur laju kendaraan agar tidak cepat sampai ke rumah Alfred.
Suasana itu tidak membuat Robert canggung sama sekali karena dia sudah terbiasa hidup tanpa ekspresi berbeda dengan Alena yang hidupnya dipenuhi berbagai macam warna membuat ia merasa bosan. Alena menurunkan kaca mobil, membiarkan angin malam menerpa wajahnya, kesejukan itu membawa sedikit kedamaian di hati Alena.
"Kau bisa masuk angin!" cegah Robert setelah membiarkan Alena diterpa angin malam selama beberapa saat.
Ia menaikkan kaca mobil kembali menghidupkan AC mobil pada suhu yang pas agar Alena yang memakai baju tipis tidak merasa kedinginan. Robert juga menghidupkan musik agar Alena tidak merasa bosan, saat itulah telepon Alena berdering.
Alena melihat teleponnya hanya untuk menemukan beberapa foto tentang kegiatannya di luar sana dikirimi oleh seseorang. Senyum manis, segala macam ekspresi serta raut lelah saat ia pulang bekerja, semuanya ditampilkan dengan baik di dalam foto itu.
"Aneh, siapa yang mengambil semua ini? Kenapa dia mengirimnya padaku?" tanya Alena heran.
Alena memeriksa nomor si pengirim tapi dia benar-benar tidak mengenali siapa pemilik nomor itu. Ada pesan di bagian bawah foto itu seolah menegaskan kalau dia sangat mengetahui apa yang Alena lakukan.
Kau terlihat cantik meski lelah, senyummu mampu membuat hati siapa saja bergetar. Andai aku punya kesempatan untuk mendekatimu maka tidak akan kubiarkan kau lepas dari tanganku walaupun sedetik.
Penggemar setiamu.