Alena terus memeriksa gambar demi gambar dirinya yang dikirimkan, beruntung tidak ada gambar memalukan yang dia temukan di antara deretan pesan-pesan itu. Robert yang melihat kening Alena berkerut juga merasa bingung, ia mencoba melihat sekilas pada apa yang tengah Alena lihat namun karena jarak ia mengalami kesusahan untuk melihat dengan jelas.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Robert pada akhirnya karena ia tidak tahan melihat kerutan di kening Alena.
Alena tidak menjawab, ia menyodorkan teleponnya pada Robert membiarkan Robert melihat sendiri apa yang sejak tadi ia kerjakan.
"Apa ini?" tanya Robert tidak mengerti dengan alis berkerut bingung.
"Ada yang mengirimiku gambar-gambar ini Paman! Seolah dia melihat apa yang aku kerjakan dan apa yang sedang aku lakukan. Semua photo diriku dia dapatkan dari aku tersenyum hingga lelah pulang bekerja, apa dia tidak memiliki pekerjaan lain hingga mengganggu orang lain sampai sedemikian." Alena menyimpan kembali teleponnya tanpa berniat untuk memperpanjang masalah.
Jalanan yang mereka lalui tampak lengang, tidak banyak kendaraan yang berlaku lalang. Laju kendaraan juga tidak melambat akibat sepi yang begitu menakutkan, Alena merasa udara di sekitarnya semakin dingin, ia menggosok tangannya sambil mengecek suhu yang ditulis di layar khusu AC dan itu masih bisa dianggap normal.
"Apa kau merasa udara semakin dingin, Paman! Aku serasa menggigil," bisik Alena lemah.
Robert tidak menjawab, tangannya dengan erat mencengkeram mobil menyalurkan kemarahan di dalam hatinya. Siapa lagi yang menginginkan miliknya? Bukankah orang-orang ini sudah ia tangkap dan ia beri pelajaran? Kenapa setiap hari masih saja ada yang muncul mencari gara-gara dengannya.
"Blokir saja nomornya, jika kau biarkan mereka akan terus mengganggu dirimu." Robert memberi usul, sejujurnya ia mulai merasa panas dan akan meledak kapan saja.
Alena dengan patuh mengangguk, dia mengeluarkan teleponnya lagi memblokir nomor itu lalu menyimpannya ke dalam tas yang ia bawa. Mereka akhirnya sampai di rumah Alfred setelah satu jam perjalanan, di tengah jalan mereka sempat membeli beberapa kue serta makanan sehat untuk ibu Alfred dan semua itu dipilihkan oleh Robert.
Pintu bagian samping kemudi terbuka, Alena turun perlahan memperbaiki pakaiannya lalu memperbaiki rambut panjangnya. Robert mendelik, dia kesal melihat tingkah Alena yang seperti akak bertemu mertua saja.
Alena menurunkan barang bawaannya yang telah dibelinya tadi namun direbut oleh Robert segera, Alena tergagap, dia ingin menolak namun sekali lagi, aura dingin yang Robert keluarkan membuat Alena mundur. Tangannya yang ingin merebut tergantung di udara, cukup lama sebelum akhirnya diturunkan lagi.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu rumah Alfred yang tertutup rapat, rumah Alfred tampak begitu sederhana, halamannya begitu luas tanpa tanaman bunga hanya pohon-pohon tinggi berbuah saja yang ditanam di sana. Alena mengetuk pintu tiga kali lalu membaca salam dengan sopan berharap pintu segera terbuka, jujur ia tidak nyaman dengan keberadaan Robert di sekitarnya padahal dia sudah memutuskan untuk menjauhi Robert.
Bunyi kunci yang diputar terdengar, degup jantung Alena semakin berdetak kencang. Ia melirik Robert yang berdiri di sampingnya namun melihat wajah tidak peduli Robert membuat Alena merasa hanya dirinya saja yang gugup. Pintu dibuka dari dalam menampilkan wajah Alfred yang diliputi senyuman lembut, bibirnya melengkung indah membuat ketampanannya meningkat berkali-kali lipat.
Senyum itu hilang begitu Alfred menemukan keberadaan Robert di sisi Alena, enggan namun tidak bisa berbuat apapun Alfred hanya bisa menyapa dengan paksa. "Selamat malam, Paman! Silakan masuk," tutur Alfred berusaha seramah mungkin.
Alfred menggeser posisi tubuhnya agar Alena beserta Robert bisa langsung masuk ke dalam. Alfred melihat hadiah yang dibawa Robert menggosoknya tengkuknya yang tidak gatal beberapa kali merasa canggung.
Kebahagiaan yang dirasakan Alfred menghilang begitu saja, Alfred merasa kecewa melihat kedatangan Robert ke sana. Alfred mendesah, bibirnya cemberut apalagi saat melihat ketidakpedulian Robert terhadapnya.
Robert memasuki rumah Alfred dengan tangan menenteng semua hadiah yang tadi dibelinya, ia duduk di kursi tamu memperhatikan sekeliling rumah Alfred lalu tersenyum sinis seolah mengejek. Alfred yang tidak tahu semua itu sedang membuatkan minuman di dapur, jam seperti ini para pelayannya memang sudah kembali ke paviliun khusus mereka tinggal.
Alena ingin beranjak pergi menggantikan Alfred membuat minuman namun tatapan tajam yang dilayangkan Robert membuatnya memilih menyerah. Tangan Robert bahkan dengan sengaja menggenggam tangan Alena membuat Alena merasa gugup, entah kenapa perhatian yang Robert berikan membuat hatinya yang mulai tertata kembali bimbang.
"Di sini saja! Sebagai tuan rumah memang sudah seharusnya ia yang membuatkan kita minuman untuk kita." Robert berbicara tanpa melihat Alena, ia meletakkan semua tas kertas yang berisi makanan sehat serta vitamin di atas meja.
"Aku ingin pergi ke kamar bibi sebentar, Paman! Aku akan kembali dengan cepat," bisik Alena pelan dengan lembut tidak ingin didengar oleh orang lain.
Robert lebih dulu berdiri, ia bangkit mengambil benda-benda yang dibelinya tadi. "Ayo kita menengok wanita itu," jawab Robert cepat.
Tindakan Robert membuat Alena merasa bingung, dia dengan enggan berjalan menuju kamar di sebelah kanan ruang tamu tempat di mana ibu Alfred tidur saat ini. Alena melangkah pelan tidak tahu harus mengatakan apa pada ibu Alfred tentang alasan Robert ikut dengannya.
Perlahan Alena membuka pintu kamar, di tempat tidur ibu Alfred tengah bersandar sembari membaca buku. Kaca mata putih berlensa yang ibu Alfred pakai tampak serasi dengan kulitnya, ia tengah membalik buku tampak begitu fokus dalam membaca.
Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan matanya yang langsung beralih dengan senyum manis terpampang jelas di wajahnya saat melihat siapa yang membuka pintu. Alena ikut tersenyum, dengan malu-malu ia melangkah masuk.
Senyum ibu Alfred menghilang saat ia melihat pada orang yang berada di belakang Alena. Meksi begitu dengan cepat ia kembali tersenyum, menyesuaikan diri dengan kedatangan orang lain ke dalam kamarnya.
"Wah siapa yang kau bawa, Ale? Pria tampan seperti ini mau mengikuti dirimu itu sudah menjadi hal yang luar biasa." Ibu Alfred mengulum senyum melempar ejekan pada Alena yang biasanya selalu pergi ke rumahnya seorang diri.
Alena tampak cemberut, bibirnya maju ke depan sebelum ia mencebik kesal melangkah masuk ke dalam dengan tingkah malu-malu yang membuat ibu Alfred merasa gemas. Ia sampai di samping tempat tidur memegang tangan ibu Alfred bersikap manis seperti anak remaja lain.
Hal ini yang tidak pernah dilihat oleh Robert di rumah, sifat manja Alena yang melepas topeng kuat yang selama ini selalu ia tampilkan di depan semua orang. Robert merasa kesal melihat itu, apalagi saat matanya melirik pada Alena yang menggosok wajahnya dengan tangan ibu Alfred manja.
"Bibi sudah sehat, kan? Sudah tidak sakit seperti kemarin kan? Apakah Alfred merawat Bibi dengan baik?" Suara lembut Alena mengalun merdu di dalam kamar itu.
Ia duduk di tempat tidur memeluk tubuh ibu Alfred penuh sayang, hal yang tidak pernah Robert lihat ketika Alena di rumah setelah dia mengalami percobaan pembunuhan tahun itu.
"Kau ini, Bibi bertanya siapa yang kau bawa? Di mana kau menculik pria tampan ini?" Sekali lagi ibu Alfred menegaskan, ia seperti ingin tahu siapa yang mengikuti Alena datang ke rumahnya.
Alena memperbaiki posisi duduknya, ia melirik Robert lalu mendecakkan lidahnya karena kesal. "Perkenalkan Bibi, dia Pamanku, Robert!"
"Oh, dia pamanmu toh. Selamat datang, Alena hari ini akan menginap di rumah saya." Ibu Alfred langsung mengatakan niatnya, meski tatapan tajam Robert mengarah padanya tapi ia enggan untuk mengalah.
"Saya juga akan menginap di sini, ini atas perintah ayahnya." Dengan cepat Robert memberikan jawaban, ia mengulurkan tangan menyerahkan tas yang dibawanya.
Mau tidak mau, suka tidak suka ibu Alfred mengambil tas itu dari tangan Robert. Senyum paksa ia layangkan pada Robert, niat hati ingin mendekatkan Alfred dan Alena malah terpaksa menerima keadaan seperti ini.
"Oh begitu, tidak apa-apa! Saya juga hanya ingin ada teman mengobrol sebelum tidur. Anak laki-laki tidak bisa diandalkan dalam merawat orangtua, kau tahu Alena. Bibi sudah menyuruhnya mencari istri tapi dia menolak dengan keras," adu ibu Alfred dengan mata melirik pada Robert.
Robert tersenyum mengejek, ia tahu betul arah pikiran wanita di depannya itu sebabnya dia ikut dengan Alena. Dia tahu Alena tidak akan mengerti tujuan ini karena Alena mengganggap semua orang tulus dan baik padanya.
Alena tertawa mendengar ucapan ibu Alfred, "aku yang melarangnya mencari pasangan, Bibi. Kalau dia punya pasangan lalu aku akan kesepian, aku tidak mau itu." Alena tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Aku akan duduk di luar, Ale! Tidak baik aku berada lama-lama di sini, kau temani bibimu ini dulu tapi kau harus ingat waktu juga. Tidak baik membiarkan wanita tua tidur malam-malam." Setelah melontarkan kata-kata itu Robert berjalan ke luar kamar dengan tangan di kantong celana.
Senyum sinis tercetak jelas di bibir Robert setelah ia meninggalkan kamar, ia kembali duduk di ruang tamu menikmati kemenangan yang didapatnya. Ia tidak merasa malu bersaing dengan perempuan jika apa yang menjadi miliknya diganggu.
Alena mendesah setelah kepergian Robert, ia memeluk kembali ibu Alfred erat membenamkan wajahnya di lengan tua itu. Ibu Alfred membiarkan semua itu terjadi, sebagai orang terdekat yang melihat pertumbuhan Alena dia sangat tahu dengan perasaan Alena.
"Kau kenapa? Apakah ada masalah?" tanya ibu Alfred lembut sambil mengusap kepala Alena. Matanya terus melirik ke arah luar di mana sesekali Robert melayangkan pandangan ke arahnya dengan tatapan permusuhan.
'Anak ini juga menyukai Alena, dia bahkan menganggap diriku sebagai saingan. Tapi kenapa dia tidak mau jujur pada Lena? Apakah dia tidak tahu kalau wanita butuh kepastian? Hah, dasar bodoh, ada apa dengan tatapan penuh kebenciannya itu?' tanya ibu Alfred di dalam hati.
Pandangan mata Robert teralihkan saat Alfred datang membawa minuman, satu kopi dan satu lagi jus jeruk diletakkan di depan Robert. Robert melirik jus yang dibawakan Alfred, lalu melirik lagi pada kopi yang disuguhkan Alfred padanya.
"Saya tidak suka kopi, tolong buatkan minuman yang sama dengan Alena!" Robert mengalihkan pandangan matanya lagi melirik ke tempat di mana ibu Alfred masih berbicara dengan Alena.
"Maaf, Paman! Aku tidak tahu, aku akan membuatkanmu minuman yang sama. Tolong tunggu sebentar," ujar Alfred lemah.
Alfred tahu Robert hanya ingin mempersulit dirinya saja tapi mau bagaimana lagi? Sebagai tuan rumah sudah menjadi kewajibannya untuk melayani tamu dengan baik.
"Oh ya, aku akan menginap di sini bersama Alena. Siapkan kamar untukku juga, ayahnya yang menyuruhku datang ke sini. Katanya tidak baik, anak perempuan tidur di rumah orang lain sendirian." Robert berbicara tanpa melihat Alfred, dia sibuk menduga apa yang tengah Alena bicarakan di dalam kamar karena tawa lepas Alena terus menusuk telinganya.
"Baik, Paman!" jawab Alfred lemah, niat hatinya ingin berduaan saja dengan Alena pupus akibat kedatangan Robert ke rumahnya.
Di sisi lain Alena tengah membicarakan tentang perjalanannya pada ibu Alfred, kelucuan yang dia hadapi serta hal berat yang telah ia lalui. Alena kadang akan mengatakan betapa lelahnya ia berpindah tempat setiap hari namun rasa puas serta kesenangan di wajahnya menjelaskan kalau Alena menyukai pekerjaannya.
"Bibi bayangkan saja, aku hanya bisa beristirahat beberapa jam saja lalu kembali bekerja. Tapi melihat kesenangan di wajah pengantin itu aku merasa kebahagiaan yang begitu dalam di hatiku, ketika menikah nanti aku akan membuat pernikahan yang meriah juga." Alena menggerakkan tangannya membuat berbagai gerakan untuk mengutarakan apa yang ingin dikatakannya.
Ibu Alfred di sisi lain mendengarkan dengan saksama, dia akan ikut tersenyum, tertawa dan bahkan mengangguk senang sebagai jawaban. Matanya tidak pernah beralih dari wajah cantik Alena sedikitpun.
"Kau ingin pernikahan seperti apa nanti?" tanya ibu Alfred santai namun membuat wajah Alena memerah malu.
"Sebenarnya Ale hanya ingin pernikahan sederhana saja, Bibi tapi ada semua anggota keluarga Alena yang datang. Ada teman-teman dekat Alena juga, tidak perlu ada banyak orang karena pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral." Alena menjawab apa adanya sesuai dengan yang ada di dalam pikirannya.