Anandita menggenggam tangannya erat dengan kuku menancap ke dalam kulit hingga darah segar mengalir ke luar dari luka yang tidak ia sadari itu. Anandita merasa marah benci sekaligus kesal dengan apa yang diterima oleh Sisil, dia marah pada nasib baik yang Sisil dapatkan padahal Sisil tidak memiliki siapapun yang bisa mendukung dirinya.
"Ini semua milikku, Ibu! Bagaimana bisa perempuan rendahan seperti dirinya bisa mendapatkan semua ini? Aku tidak rela, sedikitpun aku tidak rela dengan kemewahan yang dia dapatkan Ibu. Bu! Bantu aku merebut semuanya dari tangan Sisil, ini milikku dan sudah seharusnya menjadi milikku." Anandita berbisik pada Ananta dengan kepala menunduk.
Sebab ia melihat Sisil memutar kepala ke arah mereka, tidak, dia tidak boleh ketahuan berada di sini atau rencananya u