Pasar pagi di pinggiran Tegal sudah hidup sejak gelap. Saat Arumi memarkir Si Sambal di sudut yang ditunjuk pengelola pasar—dengan retribusi yang langsung memangkas modalnya—lampu-lampu lapak ikan sudah menyala dan bau amis bercampur kopi tubruk menggantung di udara dingin. Arumi mengikat rambut, memasang celemek ayahnya yang masih bau truk, dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia pernah memasak untuk dua ratus orang sekaligus. Yang ia tak katakan pada dirinya: itu nasi kotak dengan menu yang sudah pasti, bukan sambal pesisir setengah resep dari buku robek.
Ia memutuskan main aman. Nasi, telur dadar, tempe goreng, dan sambal—percobaan pertamanya menambal resep TEGAL semalam, yang menurut lidahnya sendiri "hampir, tapi ada yang hilang." Ia nyalakan kompor. Tungku kiri menyala biru. Tungku kanan mendesis, lalu mati. Ia coba lagi. Mati lagi. Selang gas berderit. Bau gas tipis menusuk hidung.
"Jangan sekarang," desis Arumi sambil mengetuk regulator. "Tolong jangan sekarang."
Tungku kiri yang tinggal sendiri harus menanggung semua. Minyak di wajan belum cukup panas saat pembeli pertama datang—dua tukang ojek yang minta nasi telur. Arumi memaksakan, telur masuk ke minyak yang belum siap, menempel di dasar wajan, dan saat ia berusaha mengangkatnya, separuh telur tertinggal jadi kerak gosong. Tempe yang ia goreng menyusul nasibnya: di luar sudah cokelat tua, di dalam masih dingin. Asap mulai mengepul dari dapur sempit itu, pekat, dan alarm di kepala Arumi berbunyi sama kerasnya dengan batuk pelanggan yang menunggu.
"Mbak, lama amat," salah satu tukang ojek menggerutu.
"Sebentar, Mas, sebentar—" Arumi menyeka keringat dengan punggung tangan yang juga belepotan, mengoles arang ke pipinya sendiri. Sambalnya tumpah saat ia buru-buru menggeser cobek. Antrean kecil yang sempat terbentuk—orang-orang penasaran pada truk oranye baru—mulai bubar satu per satu, sebagian sambil menggeleng. Sampai pukul sembilan, Arumi cuma berhasil menjual tujuh bungkus, tiga di antaranya ia kasih gratis karena malu gosong, dan tabung gas cadangannya sudah hampir habis dipakai memanggang tempe yang tak matang-matang.
Ia duduk di bangku lipat, di antara wajan kotor dan harapan yang ikut gosong, dan untuk pertama kalinya sejak menerima kunci itu, Arumi ingin menangis. Bukan karena ayahnya. Karena tujuh bungkus.
Ia membereskan dagangan, menutup truk, dan memutuskan pindah cari pasar lain di kota sebelah sebelum siang. Mesin menyala lancar saat keluar dari pasar. Tapi tiga kilometer kemudian, di jalan lintas yang ramai truk besar, Si Sambal mulai tersendat. Lampu di dasbor menyala merah satu per satu seperti lampu Natal yang salah. Mesin meraung sekali, dua kali, lalu mati total. Truk meluncur kehilangan tenaga, dan Arumi berhasil membanting setir ke bahu jalan tepat sebelum macet di tengah lajur. Klakson truk kontainer di belakangnya meraung panjang dan marah.
"Astaga, astaga." Arumi memukul setir. Asap tipis mengepul dari kap. Ia membuka kap dengan tangan gemetar dan disambut bau hangus dan kepulan uap. Ia tidak tahu apa pun tentang mesin. Pengetahuannya soal kendaraan berhenti pada "isi bensin" dan "tambah angin ban." Ia berdiri di pinggir jalan lintas yang berdebu, di samping truk warisan yang baru saja membatalkan satu-satunya rencananya, dan merasa benar-benar sendirian.
"Wah, ini sih radiatornya minta ampun," kata sebuah suara.
Arumi menoleh. Seorang lelaki muda, mungkin seumurannya atau lebih muda, berdiri sambil menggendong ransel dan mengunyah gorengan dari bungkus kertas. Rambutnya gondrong diikat asal, kaosnya bertuliskan nama bengkel yang sudah pudar, dan ia memandang mesin Si Sambal dengan cara orang memandang teka-teki silang yang gampang.
"Boleh?" Tanpa menunggu jawaban, ia mengangsurkan bungkus gorengan ke tangan Arumi, lalu menyelinap ke depan kap. Tangannya bergerak cepat—mencabut tutup radiator dengan kain, melihat ke dalam, menyentuh selang, mengetuk sesuatu yang berdenting. "Thermostat-nya macet, radiatornya juga setengah mampet. Overheat. Untung Mbak nepi cepet, kalau telat dikit blok mesinnya bisa retak. Tahu nggak itu artinya?"
"Nggak," jawab Arumi jujur.
"Artinya truknya jadi pajangan. Selamanya." Lelaki itu menyengir. "Namanya Sapto. Saya barusan keluar dari bengkel di kota ini—bukan dipecat, ya, saya yang keluar, beda. Lagi nyari tumpangan ke barat." Ia menepuk badan truk seperti menepuk punggung kuda. "Si Sambal, ya? Saya kenal truk ini. Dulu pernah masuk bengkel tempat saya. Punya bapak yang suka masak itu, kan?"
Arumi terdiam. "Kamu kenal ayah saya?"
"Nggak kenal-kenal banget. Tapi truknya ngehe ini saya inget. Karburator sama radiatornya udah mau pensiun dari zaman dulu." Sapto mengelap tangan ke celana. "Mbak mau ke mana sebenernya bawa ini?"
Arumi menimbang, lalu memutuskan tak ada gunanya berbohong pada orang yang baru saja menyelamatkan blok mesinnya. "Saya... mau jalan. Jauh. Ngikutin rute ayah saya. Jualan masakan di tiap kota." Ia menunjuk badan truk dengan dagu, merasa konyol mengucapkannya. "Cuma saya nggak ngerti mesin, dan—jujur aja—saya juga belum bisa masak masakan yang ada di catatannya."
Sapto mengunyah pelan, menatap truk, menatap Arumi yang pipinya masih ada arang, lalu tertawa kecil. "Mbak ini nekat atau nggak tahu diri, ya. Bagus. Saya suka yang model gitu." Ia menyandarkan punggung ke truk. "Gini deh. Truk ini bakal mogok lagi. Bukan mungkin—pasti. Tiap dua ratus, tiga ratus kilo dia bakal cari masalah. Mbak butuh montir tetap yang ngikut. Kebetulan saya butuh tumpangan jauh dan kerjaan."
"Saya nggak punya uang buat gaji montir."
"Siapa yang minta gaji?" Sapto mengangkat bungkus gorengan yang tadi. "Saya minta makan. Tiga kali sehari, dari masakan Mbak. Plus tempat tidur di kolong truk. Itu aja." Ia menyodorkan tangan yang masih kotor oli. "Soalnya saya penasaran. Bapak Mbak itu—saya pernah sekali nyobain masakannya pas truknya di bengkel. Sambelnya bikin saya mimpi sampai seminggu. Saya pengen tahu Mbak bisa bikin lagi atau nggak."
Arumi memandang tangan kotor itu. Memandang truk yang mengepul. Memandang jalan lintas yang membentang ke barat, menuju kota-kota yang namanya tertulis di buku robek ayahnya. Ia sadar betul bahwa ia tak punya kemewahan untuk memilih. Tanpa Sapto, perjalanan ini selesai di kilometer ketiga.
Ia juga sadar pada sesuatu yang lebih pahit: hari ini membuktikan ia tak bisa memasak masakan itu sendirian. Sambal di buku ayahnya bukan soal mengikuti takaran—takarannya saja dirobek. Itu soal tahu rasanya. Dan satu-satunya cara tahu rasa adalah belajar dari orang yang masih menyimpannya di lidah dan tangan mereka.
"Tiga kali sehari," kata Arumi akhirnya, menjabat tangan Sapto. "Tapi kalau dagangan lagi sepi, kamu makan yang gosong."
"Deal," sahut Sapto, menyengir lebar. "Saya udah biasa makan yang gosong. Sekarang, bantuin saya dorong ini ke bengkel terdekat sebelum jadi pajangan beneran."