Stephanie sekarang tinggal di rumah kontrakan kecil di daerah Tebet, satu kamar tidur, satu kamar mandi, dengan halaman sebesar meja makan. Jauh dari apartemen Kuningan. Tetapi ketika Qiandra dan Nathan datang, rumah itu terasa lebih hidup daripada apartemen mana pun: ada baju-baju kecil dijemur di tali, ada boks bayi di sudut ruangan, ada bau minyak telon dan bubur.
Kirana sedang tidur ketika mereka tiba. Stephanie menyuguhkan teh dengan tangan yang sudah terlihat seperti tangan ibu—tangan yang sudah seribu kali mencuci botol.
Qiandra melihat perubahan itu di mana-mana. Stephanie dulu tidak pernah memasak; sekarang ada rice cooker di sudut dapur mungilnya. Stephanie dulu mengoleksi sepatu; sekarang rak di dekat pintu berisi dua pasang sandal dan satu sepatu kets. Hidupnya menyusut drastis, tetapi justru karena itu ia tampak lebih utuh, seperti pohon yang dipangkas dan mulai bersemi.
"Sekarang loe ngapain aja?" tanya Qiandra sambil mengintip Kirana.
"Jualan online. Baju anak. Lumayan, buat susu sama popok." Stephanie mengangkat bahu. "Agency lama nawarin balik, tapi gue tolak. Dunia itu nggak ramah buat ibu tunggal yang bekas ninggalin suami lumpuh. Orang punya ingatan panjang."
"Ada yang berkembang." Qiandra dan Nathan duduk di dua kursi tamu yang sandarannya sudah menyerah. "Tapi bukan kabar baik."
"Ada apa?" tanya Stephanie langsung. Ia sudah belajar membaca wajah orang, dan wajah Nathan serta Qiandra sore itu bukan wajah orang yang datang untuk menjenguk bayi.
Qiandra yang menceritakannya. Pelan-pelan, tanpa memutar: tanah Q&Q, Cakra Nirwana, Handoko Wirya, perantara bernama Andra, dan satu nama di ujung rantainya.
Stephanie mendengarkan dengan wajah yang tidak berubah, tetapi tangannya meremas ujung kausnya sampai kainnya kusut.
"Loe yakin?" tanyanya akhirnya.
"Andra nyebut namanya langsung," kata Nathan. "Rian yang dengar sendiri. Dan gue kenal pola ini, Steph. Jual info, dapet fee, kabur sebelum kebakaran."
Stephanie bangkit. Ia berjalan ke boks bayi, menatap Kirana yang tertidur, lalu kembali duduk. Dua kali ia membuka mulutnya, dua kali ia menutupnya lagi.
"Gue akan buktiin sendiri," katanya akhirnya. "Kalau bener, kalian nggak perlu ngapa-ngapain. Gue sendiri yang ngurus."
Malam itu juga, Stephanie membuka tas kerja yang selalu dibawa Sam kalau ia mampir—tas yang Sam tinggalkan di kontrakannya sejak tiga hari lalu, katanya "nitip". Di dalamnya, di antara map-map proposal yang tidak pernah jadi apa-apa, ada satu map tipis berisi salinan surat: surat penawaran Cakra Nirwana untuk tanah di Jakarta Pusat, dengan catatan tulisan tangan di marginnya, tulisan yang Stephanie kenal sejak ia belajar menulis.
Tulisan kakaknya.
Di bawahnya, ada struk transfer. Danu. Nama itu tidak asing—nama yang pernah disebut dalam bisikan-bisikan di rumah besar Rajendra, nama yang pernah Nathan ceritakan ke Qiandra, nama yang Qiandra ceritakan ke Stephanie dalam satu percakapan telepon yang panjang.
Sam masih berhubungan dengan orang-orang gelap itu. Bahkan setelah amplop cokelat itu tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan setelah adiknya melahirkan tanpa ia temani.
Stephanie duduk di lantai kontrakannya, memeluk map itu seperti memeluk sesuatu yang tajam, dan menangis tanpa suara sampai Kirana terbangun dan ikut menangis, dan ia harus berhenti karena bayinya lebih penting dari kesedihannya.
Dua hari kemudian, Sam datang seperti biasa, dengan sebungkus roti dan senyum yang sudah ia pakai sejak mereka kecil—senyum yang bilang semuanya baik-baik saja.
"Kirana makin gede," katanya, menggendong keponakannya dengan canggung. "Mukanya mirip gue."
"Taruh dia." Suara Stephanie datar.
Sam menoleh. Dan ia melihat map itu, terbuka di atas meja, struk transfernya tergeletak di atas seperti daun kering.
Seluruh tubuh Sam berubah. Senyumnya hilang, dan yang tersisa adalah wajah yang selama ini selalu berhasil ia sembunyikan dari adiknya: wajah orang yang sudah lama berhenti menjadi kakak.
"Loe buka tas gue?"
"Loe jual informasi soal warung tempat Qiandra kerja." Stephanie berdiri di depan boks bayi, menghalangi, seolah bayinya perlu dilindungi dari pamannya sendiri. "Loe jual kita semua. Lagi. Setelah semua yang udah terjadi. Setelah amplop dari Subagio itu. Setelah loe mabuk waktu gue melahirkan."
"Semua yang gue lakuin—"
"Buat gue. Iya. Gue tau kalimatnya." Stephanie tertawa, dan tawanya patah di tengah. "Tiga puluh tahun loe bilang gitu, Sam. Dan gue baru sadar sekarang: loe nggak pernah lakuin apa pun buat gue. Loe lakuin semuanya buat loe, dan gue cuma alat yang kebetulan punya perut."
"Loe pikir hidup gue gampang?" Suara Sam akhirnya naik, dan di dalamnya ada sesuatu yang lama terkubur. "Bokap kita ninggal pas loe umur dua tahun. Nyokap sibuk cari duit sampai dia mati di meja operasi. Yang gedein loe siapa? Gue. Loe umur sebelas tahun dan demam jam dua pagi, yang gendong ke puskesmas siapa? Gue. Jangan berdiri di sana kayak loe sendirian gede, Steph. Gue ngelakuin semua itu."
"Gue tahu." Stephanie tidak membantah, dan itu membuat suaranya terdengar lebih sedih dari amukan mana pun. "Gue inget semuanya. Makanya ini sakit. Karena gue ngasih loe seribu kesempatan, Sam. Seribu. Dan loe jual semuanya satu-satu."
"Gue kakak loe."
"Kakak gue nggak akan jual aku dua kali." Stephanie menatapnya, dan air matanya jatuh tanpa izin, tetapi suaranya tidak goyah. "Keluar. Dan jangan pernah dateng lagi ke rumah ini. Kirana nggak akan kenal loe. Itu bukan hukuman. Itu perlindungan."
Sam berdiri di tengah ruangan kecil itu, di antara boks bayi dan meja makan, memegang sebungkus roti yang tiba-tiba terasa sangat berat. Ia menunggu adiknya menarik kata-katanya, seperti dulu, seperti selalu, karena mereka berdua tahu Stephanie selalu menarik kata-katanya.
Kali ini tidak.
Sam meletakkan roti itu di meja. Ia berjalan ke pintu. Di ambang pintu ia berhenti, dan untuk sesaat—hanya sesaat—wajahnya menjadi wajah Sam yang dulu, kakak yang menggendong Stephanie kecil ke puskesmas saat ia demam, kakak yang memukul anak tetangga yang menertawakan sepatu bekasnya.
"Gue beneran sayang sama loe," katanya, tanpa berbalik. "Gue cuma nggak pernah tahu caranya."
Pintu tertutup. Dan Stephanie duduk di lantai, di samping boks bayi Kirana, membiarkan dirinya menangis untuk kakak yang sudah ia kehilangan—atau mungkin, untuk kakak yang tidak pernah benar-benar ada.
…