Mereka pergi ke Tasikmalaya hari Sabtu, pagi-pagi sekali, dengan mobil modifikasi Nathan yang sudah lama tidak menempuh jarak sejauh itu.
Sebelum berangkat, Nathan melakukan satu hal yang tidak ia duga akan ia lakukan: ia menelepon ayahnya.
Bukan untuk minta izin. Untuk minta nasihat. Subagio mengenal Handoko Wirya sejak keduanya masih muda, dan tidak ada arsip mana pun yang bisa menandingi ingatan orang tua tentang musuh lamanya.
"Handoko itu pemalu," kata Subagio di telepon, dan Nathan hampir tertawa mendengar kata itu dipakai untuk raja properti. "Pemalu dan penakut. Makanya dia selalu pakai perantara. Dia tidak pernah datang sendiri kalau belum yakin menang. Kalau kamu mau mengalahkannya, jangan lawan uangnya. Lawan malunya. Datang langsung ke pemilik tanahnya. Orang tua di kampung tidak percaya surat, mereka percaya tatapan mata."
Nathan mendengarkan, mencatat, dan di akhir telepon ia berkata, "Makasih, Pa."
Ada jeda panjang di ujung sana. Lalu Subagio berkata, hampir tidak terdengar, "Hati-hati di jalan," dan menutup telepon lebih dulu karena orang seperti dia tidak tahu cara mengakhiri pembicaraan yang hangat.
Bang Andi ikut, duduk di depan dengan wajah orang yang akan menemui ayahnya untuk membicarakan hal yang tidak ingin ia bicarakan. Qiandra duduk di belakang bersama Nathan, memegang map berisi tawaran yang sudah mereka susun berdua sampai larut malam.
"Gue masih nggak enak," kata Bang Andi di tengah jalan. "Ngomongin harga tanah sama bapak sendiri yang lagi sakit."
"Kita nggak ngomongin harga dulu," kata Qiandra. "Kita ngomongin dia dulu. Orangnya dulu. Baru tanahnya."
Nathan mengangguk. "Dan satu hal, Bang. Gue nggak akan nawar tanah ini kayak caleg nawar janji. Harga pasar. Terbuka. Kalau Bapak loe nggak mau, kita pulang dengan hormat dan cari jalan lain."
Ayah Bang Andi bernama Pak Harta, seorang pria kurus tujuh puluhan dengan suara masih besar meski badannya sudah mengecil. Ia menerima mereka di teras rumahnya yang menghadap sawah, dengan kursi-kursi rotan tua dan teh tubruk yang pahitnya jujur.
Ia sudah tahu mereka akan datang. Bang Andi sudah menelepon. Tetapi pria tua itu tetap memulai dengan cara orang tua memulai: dengan bertanya hal-hal lain dulu. Soal jalan tol, soal harga gabah, soal anak-anak tetangga. Baru setelah teh kedua ia sampai ke pokoknya.
"Jadi kalian mau beli tanah warung saya," katanya. "Supaya warungnya tidak jadi ruko."
"Supaya warungnya tetap warung, Pak." Nathan mengangguk. "Dikelola Andi seperti biasa. Karyawannya tidak ada yang berubah. Saya cuma memegang tanahnya, dan menyewakannya kembali dengan harga yang tidak akan naik sembarangan."
Pak Harta menatap Nathan lama, dari rambut sampai kursi rodanya, dengan tatapan orang kampung yang tidak sungkan menilai orang kota. Lalu ia bertanya hal yang tidak ada dalam map mana pun:
"Kamu kenapa mau repot-repot? Kamu bukan pemilik warung itu. Kamu bahkan tidak pernah makan di situ, kan?"
Nathan tidak menjawab cepat. Ia menatap sawah di depan mereka, hijau dan bergerak pelan ditiup angin.
"Karena istri saya bekerja di sana tujuh tahun, Pak," katanya akhirnya. "Dan selama empat bulan pertama pernikahan kami, ketika saya membuat hidupnya sempit, warung itu satu-satunya tempat dia masih bisa napas. Saya berutang pada warung itu. Bukan utang uang. Utang udara."
Pak Harta terdiam. Ia menatap Qiandra, yang menunduk karena matanya panas. Ia menatap anaknya, yang sejak tadi berpura-pura mengaduk teh.
"Kalian ini orang kota aneh," kata pria tua itu akhirnya, dan suaranya sudah tidak sekeras tadi. "Datang jauh-jauh, pakai kursi roda, ngomongin udara."
Ia berdiri, masuk ke dalam, dan kembali membawa sebuah map tua berisi surat-surat tanah yang sudah menguning di tepinya.
"Saya tidak mau tahu soal developer-developer itu. Mereka kirim orang ke sini dua kali, pakai sepatu mengkilap, ngomongnya cepat semua. Orang yang ngomong cepat biasanya menyembunyikan sesuatu." Ia meletakkan map itu di atas meja. "Kalian ngomongnya pelan. Jadi saya pilih kalian."
Harganya disepakati sore itu juga: harga pasar, tanpa permainan, tanpa perantara. Cakra Nirwana kalah bukan karena kalah uang, tetapi karena kalah bicara—dan Handoko Wirya, di kantornya yang tinggi di Jakarta, hanya bisa menerima laporan kekalahan itu dengan wajah yang semakin tidak ramah.
Perjalanan pulang ke Jakarta terasa ringan. Bang Andi tertidur di kursi depan dengan mulut sedikit terbuka, lelah yang akhirnya boleh dilepas. Di kursi belakang, Qiandra bersandar ke bahu Nathan—hal yang masih baru, masih hati-hati, tetapi tidak lagi dihitung.
"Kita menang," katanya pelan.
"Kita menang karena nggak main licik," kata Nathan. "Ternyata bisa juga, ya. Selama ini gue pikir bisnis itu harus selalu satu langkah lebih kotor dari lawan."
"Selamat datang di dunia orang baik," kata Qiandra. "Sepinya minta ampun, tapi tidurnya nyenyak."
Nathan tertawa. Di depan, Pak Shodiq—yang kembali bertugas khusus untuk perjalanan jauh ini—ikut tersenyum tanpa menoleh, dan untuk pertama kalinya menyetel dangdut dengan volume yang lebih keras dari biasanya, karena rumah yang bahagia pantas diiringi musik yang bahagia.
Malamnya, di Q&Q, Bang Andi mengumpulkan semua karyawan dan mengumumkan: warung tetap buka. Semua orang tetap bekerja. Tidak ada yang berubah.
Feli menangis lagi, kali ini tidak dihapus-hapus. Wawan berteriak seperti gol. Kristian mengangkat Elli dan memutarnya sampai Elli memukul kepalanya minta diturunkan. Dan Johan berdiri di dekat dapur, menatap Qiandra dari kejauhan, dan mengangguk pelan—terima kasih yang tidak perlu diucapkan antara dua teman.
Qiandra membalas anggukan itu, lalu menatap suaminya yang menunggu di mobil di depan warung, tidak masuk karena tahu malam ini milik para pekerja.
Tetapi Feli kebetulan melihatnya. Dan Feli tidak pernah bisa menahan apa pun.
"Eh, itu suami loe!" serunya, dan sebelum Qiandra sempat mencegah, seluruh karyawan sudah bergerak ke depan, menyeret Nathan keluar dari mobil—dengan sopan tapi memaksa—dan menarik kursi rodanya masuk ke dalam warung. Ada yang menyelipkan piring ke pangkuannya. Ada yang menuangkan es teh. Wawan mengangkat gelasnya tinggi-tinggi dan berteriak, "Buat keluarga Q&Q!"
Dan Nathan Rajendra, yang dua belas tahun lalu ditakuti satu sekolah, duduk di tengah warung lesehan dengan piring di pangkuan, dikelilingi pelayan-pelayan yang berteriak gembira, dan tertawa sampai matanya basah.
Di balik kaca, Nathan tersenyum. Dan Qiandra menyadari, dengan kepastian yang akhirnya tidak lagi menakutkan, bahwa ia sedang jatuh cinta pada suaminya sendiri.
…