Terapi intensif itu dimulai seminggu setelah urusan Q&Q selesai.
Rumah sakit rehabilitasi di kawasan Jakarta Selatan itu punya lorong panjang berlantai kayu yang sengaja dibuat tidak rata-rata sempurna, karena pasien harus belajar pada ketidaksempurnaan. Nathan datang ke sana tiga kali seminggu, dan setiap kali pulang, wajahnya seperti orang yang baru berkelahi dengan laut.
Hari-hari awal adalah hari-hari yang kejam. Kaki yang sudah hampir setahun tidak menopang tubuh tidak mau diajak bekerja sama begitu saja. Ada sesi di mana Nathan hanya bisa menggerakkan jari kirinya dua milimeter, dan fisioterapisnya merayakannya seperti gol Piala Dunia, sementara Nathan sendiri ingin membanting sesuatu.
"Marah itu bagus," kata fisioterapisnya, Mas Dodi, pria besar dengan kesabaran yang lebih besar lagi. "Marah berarti masih ada yang mau bergerak. Yang bahaya itu pasien yang udah ikhlas."
Qiandra ikut di setiap sesi Sabtu. Ia duduk di kursi pengunjung, kadang mengerjakan pesanan reseller, kadang hanya menonton. Nathan sempat protes di awal—"Loe nggak usah lihat gue jatuh-jatuhan"—tetapi Qiandra menjawab dengan tenang, "Loe pernah lihat gue di titik paling hancur. Giliran gue lihat loe bangun. Adil, kan?"
Dan Nathan tidak bisa membantah kalimat itu.
Minggu keenam, ia bisa mengangkat lutut kirinya sendiri. Minggu kesepuluh, ia bisa berdiri di antara palang paralel dengan tangan menahan sembilan puluh persen berat badannya, selama tiga detik. Mas Dodi mencatat semuanya di papan tulis kecil yang selalu ia bawa, seperti wasit yang mencatat skor pertandingan yang hanya dimengerti dua orang.
Dan pada minggu keempat belas, hari Kamis sore yang biasa-biasa saja, sesuatu yang tidak biasa terjadi.
Qiandra tidak ada di sana hari itu—ia sedang di Q&Q, shift sore. Di ruang terapi hanya ada Nathan, Mas Dodi, dan palang paralel yang sudah menjadi musuh sekaligus sahabatnya selama tiga bulan terakhir.
"Kita coba sesuatu hari ini," kata Mas Dodi. "Berat di kaki, bukan di tangan. Saya pegang pinggang bapak. Kalau sakit, bilang."
"Sakit itu default-nya, Mas."
"Sakit yang beda maksud saya."
Nathan menarik napas. Ia menempatkan kedua tangannya di palang, mengangkat tubuhnya seperti biasa, tetapi kali ini Mas Dodi menggeser bebannya—pelan-pelan, seinci demi seinci—dari lengan ke kaki.
Kaki itu gemetar. Keringat langsung mengalir di pelipis Nathan. Setiap saraf di tubuhnya berteriak menyuruhnya berhenti, dan di dalam kepalanya, suara lama itu muncul lagi: kau lumpuh, kau rusak, kau tidak akan pernah—
"Satu," kata Mas Dodi.
Nathan menutup matanya.
Ia tidak memikirkan kakinya. Ia memikirkan dapur rumahnya, lemon tea yang ia buat setiap pagi, bunyi sendok berputar di gelas kristal. Ia memikirkan teras yang basah dan kalimat-kalimat jujur sebelum tidur. Ia memikirkan cincin zamrud di jari Qiandra. Ia memikirkan seorang perempuan yang berkata kalau nanti dengan telinga memerah.
"Dua."
Sesuatu di lutut kirinya menyala—bukan sakit, melainkan kehadiran. Otot yang sudah lama tidur itu bangun, bergetar, dan menahan.
"Tiga. Empat."
Nathan membuka matanya. Ia sedang berdiri. Tidak tinggi, tidak tegap, tidak gagah—tetapi berdiri, dengan kedua kakinya sendiri menyentuh lantai, dengan bobot tubuhnya sendiri, di antara dua palang besi yang dingin.
"Lima. Enam."
Kakinya menyerah di detik ketujuh, dan Mas Dodi menangkapnya dengan mudah, menurunkannya kembali ke kursi roda dengan gerakan yang sudah terlatih. Nathan terengah-engah seperti baru lari maraton. Seluruh bajunya basah.
"Tujuh detik," kata Mas Dodi, dan suaranya tidak tenang lagi. "Tujuh detik penuh, Pak. Beban penuh di kaki. Ini—" ia menatap catatannya, lalu menatap Nathan, "—ini bukan seharusnya terjadi dalam empat belas minggu. Ini seharusnya terjadi dalam satu tahun. Kalau beruntung."
Nathan menatap kakinya. Dua benda yang telah menjadi musuhnya, sumber malunya, alasan ditinggalkan, alasan dipertahankan. Dan selama tujuh detik barusan, dua benda itu menjadi miliknya lagi.
Laki-laki itu menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis.
Bukan menangis sedih. Menangis seperti orang yang sudah lama berada di ruangan gelap dan tiba-tiba ada yang membuka pintu—cahayanya menyakitkan, tetapi tidak ada orang waras yang akan berbalik dari cahaya.
Mas Dodi tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangan di bahu pasiennya dan membiarkan lorong kayu itu menyimpan suaranya.
Sebelum pulang, Nathan menelepon satu orang. Bukan Qiandra—itu akan ia ceritakan langsung, tatap muka, karena hal-hal terbaik tidak boleh lewat telepon. Ia menelepon ibunya.
"Mama."
"Nathan? Ada apa? Kamu jarang telepon sore—"
"Gue berdiri hari ini, Ma. Tujuh detik."
Sunyi di ujung sana. Lalu bunyi yang tidak pernah Nathan dengar selama bertahun-tahun: ibunya menangis. Tidak keras, tidak dramatis. Menangis seperti orang yang sudah lama tidak berani berharap dan tiba-tiba diizinkan berharap lagi.
"Mama datang besok," kata Mega, suaranya pecah dan cepat. "Mama bawa Papa."
Dan keesokan harinya, mereka datang. Subagio tidak berkata banyak—ia hanya berdiri di lorong terapi, menyaksikan putranya menahan bobot tubuhnya sendiri selama sebelas detik, dan ketika semua orang bertepuk, pria tua itu berbalik menghadap dinding seolah ada yang menarik di kacamatanya.
"Debu," katanya pada Mas Dodi yang bingung. "Lorong ini berdebu."
Lorong itu tidak berdebu. Tetapi tidak ada yang menegurnya.
Malam itu, di rumah, Nathan tidak langsung bercerita. Ia menunggu sampai makan malam selesai, sampai Bi Umi masuk kamarnya, sampai mereka berdua di kamar dengan lampu tidur yang remang.
"Hari ini gue ngerasain apa-apa yang mau gue ceritain," katanya.
"Kalimat jujur malam ini kedengerannya serius," kata Qiandra, menaruh ponselnya.
"Gue berdiri tujuh detik."
Qiandra tidak bergerak. Kemudian ia bangkit dari ranjang, berlutut di depan kursi roda suaminya, dan menatapnya dari bawah—dari bawah, untuk pertama kalinya—dengan mata yang basah dan senyum yang tidak bisa dikendalikan.
"Tujuh detik pertama dari ribuan detik yang akan datang," katanya.
Dan malam itu, garis batas di atas ranjang itu tidak hanya dilintasi. Ia dihapus, oleh dua orang yang akhirnya berdiri di sisi yang sama, menghadap arah yang sama, dan tidak lagi takut pada hari esok yang akan datang.
…