Trimester pertama kehamilan Qiandra berjalan seperti musim hujan: tidak berbahaya, tetapi tidak nyaman, dan tidak ada yang tahu kapan berhentinya.
Mual pagi hari datang dengan jadwal yang tidak bisa diduga. Bau kopi—minuman kesayangannya—tiba-tiba menjadi musuh. Nathan, yang selama ini paling keras menentang kopi pagi Qiandra, kini dengan ironi besar menyeduhkan kopi untuk dirinya sendiri di dapur, dan Qiandra harus menutup hidupnya.
"Karma," kata Nathan, tidak berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Jangan senyum. Ini darurat nasional."
"Tiga sendok gula," kata Nathan sambil menyerahkan lemon tea hangat pengganti. "Kopi loe gue ganti sementara. Sembilan bulan."
"Sembilan bulan tanpa kopi. Loe tega."
"Anak gue di dalam sana butuh loe lebih dari kafein butuh loe."
Qiandra menerima gelas itu dengan wajah masam, tetapi diminumnya juga. Hal-hal kecil seperti ini—yang dulu terasa seperti kontrol—sekarang terasa seperti kasih sayang. Aneh, pikirnya, bagaimana kalimat yang sama bisa berubah makna hanya karena hati yang mengucapkannya sudah berubah.
Minggu itu juga, mereka menjalani sesi terakhir dengan dokter Larasati—bukan berhenti selamanya, tetapi karena dokter itu berkata sesuatu yang tidak pernah mereka duga akan terdengar:
"Kalian sudah boleh pulang."
"Artinya?" tanya Nathan.
"Artinya pekerjaan rumahnya sudah selesai. Kalian sudah bisa bicara tanpa saling menyakiti. Sudah bisa cemburu tanpa saling menuduh. Sudah bisa takut tanpa saling mengurung." Dokter Larasati menutup mapnya. "Pasangan yang sehat bukan pasangan yang tidak pernah berantem. Pasangan yang sehat adalah pasangan yang tahu cara pulang setelah berantem. Kalian sudah tahu jalan pulang."
Di mobil pulang, mereka berdua diam agak lama. Lalu Qiandra berkata, "Kita lulus."
"Kita lulus," kata Nathan. "Gue terakhir lulus-lulusan itu SMA, dan itu pun pakai nyontek."
"Yang ini nggak ada contekannya."
"Iya." Nathan menatap jalan. "Makanya rasanya lebih mahal."
Nathan sendiri berubah dalam cara yang terlihat oleh semua orang. Ia tetap protektif, tetapi protektif yang bertanya dulu. "Loe mau tetap kerja sampai bulan ke berapa?" bukan "Mulai besok loe berhenti." Qiandra menjawab ia mau bekerja sampai badannya sendiri yang bilang berhenti, dan Nathan menerimanya—dengan syarat Pak Shodiq selalu siaga dan Bang Andi tahu kondisinya.
Bang Andi tahu dalam waktu dua hari, karena Qiandra muntah di dapur dan Feli tidak bisa menyimpan rahasia lebih lama dari nasi matang.
Berita itu mengubah Q&Q. Warung itu, yang baru saja selamat dari kematiannya, kini punya sesuatu untuk ditunggu. Elli mulai menyusun tabel nutrisi ibu hamil di papan dapur—dengan referensi, tentu saja, dan separuhnya keliru. Feli menitipkan "jatah kasih sayang" berupa es jeruk gratis setiap hari. Johan, tanpa banyak bicara, mulai mengambil alih tugas-tugas berat Qiandra tanpa diminta.
Akhir minggu itu, pengumuman resmi disampaikan di meja makan rumah besar. Mega dan Subagio datang ke rumah cluster—undangan makan malam pertama yang diadakan Nathan dan Qiandra sebagai tuan rumah. Bi Umi memasak sejak pagi dengan wajah yang bersinar-sinar.
Di tengah makan, Nathan mengetuk gelasnya dengan sendok, dan berkata singkat, "Kami mau kasih tahu sesuatu. Qian hamil. Empat minggu."
Mega langsung berdiri dan memeluk Qiandra tanpa aba-aba, tanpa keanggunan yang biasanya ia jaga mati-matian. Subagio tidak berdiri. Pria tua itu tetap duduk, tetapi tangannya gemetar saat meletakkan sendoknya, dan ia menatap meja makan itu sangat lama, seperti orang yang takut mengangkat wajahnya.
"Pa?" panggil Nathan.
"Empat puluh satu tahun," kata Subagio pelan, "Papa menunggu meja ini ramai lagi." Ia mengangkat wajahnya, dan tidak ada yang menegurnya ketika matanya basah. "Terima kasih, Nak. Kamu memulihkan lebih dari yang kamu rusak."
Qiandra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengambil piring mertuanya, mengisinya dengan ceker Lombok ijo, dan meletakkannya kembali di depan pria tua itu—cara orang Jawa mengatakan kami keluarga tanpa perlu mengucapkannya.
Di tengah semua kehangatan itu, satu gertakan datang dari arah yang sudah mereka duga.
Rian masuk ke ruangan Nathan dengan wajah yang tidak enak. "Cakra Nirwana baru aja beli dua ruko di sebelah kiri Q&Q."
Nathan mengangkat wajah dari dokumennya. "Sebelah langsung?"
"Dengan gang sempit doang pemisahnya. Dan mereka udah ngajuin izin renovasi total. Kalau dua ruko itu jadi sesuatu yang nyaingin—kafe, warung modern, apa pun—Q&Q kejepit di tengah."
Nathan diam sejenak. Handoko tidak mundur setelah kalah di Tasik; ia hanya memindahkan papan catur. Strategi lama orang yang tidak bisa membeli sesuatu: mengelilinginya sampai sesuatu itu mati sendiri.
"Rencana mereka butuh enam bulan sebelum operasi," kata Nathan, berpikir keras. "Kita punya enam bulan buat bikin Q&Q terlalu kuat buat digoyang."
"Gimana caranya?"
Nathan menatap peta kawasan itu di layar laptopnya, dan perlahan senyumnya terbentuk—senyum yang dulu ditakuti satu sekolah, tetapi sekarang dipakai untuk hal yang berbeda.
"Kita bikin warung itu naik kelas tanpa kehilangan jiwanya. Branding. Sistem. Menu. Gue udah pelajari dapur Q&Q sejak beli tanahnya—ceker Lombok ijonya itu, Ri, bisa jadi franchise."
Rian menatap sepupunya. "Loe mau ngefranchise-in Q&Q?"
"Gue mau bikin Handoko nyesel beli dua ruko di sebelah warung legendaris."
Malamnya, di teras, Nathan menyampaikan rencana itu ke Qiandra. Qiandra mendengarkan dengan teh hangat di tangan, dan ketika Nathan selesai, ia berkata, "Bang Andi harus setuju. Dan karyawannya harus dapet bagian. Kalau Q&Q naik kelas, mereka yang naik duluan, bukan kita."
"Deal," kata Nathan, tanpa jeda.
Qiandra menatapnya, tersenyum. "Dua puluh dua persen naik jadi berapa?"
"Empat puluh." Nathan menyentuh gelasnya ke gelas Qiandra seperti bersulang. "Dan naik terus."
Tetapi malam itu juga, di sisi lain kota, di kamar kost yang jauh lebih kecil dari apartemen Kuningan, Sam menatap ponselnya yang menampilkan berita properti: Rajendra Land Memperluas Portofolio di Jakarta Pusat. Di sebelah ponselnya ada amplop tagihan yang sudah tidak bisa ia bayar, dan nomor-nomor yang tidak berhenti meneleponnya.
Ia mengetik satu pesan pada Stephanie, menghapusnya, mengetiknya lagi, dan menghapusnya lagi.
Akhirnya ponsel itu ia letakkan tanpa pesan apa pun terkirim.
Untuk sekarang.
…