Minggu-minggu awal kehamilan berjalan damai, seolah kota itu sedang menahan napasnya.
Nathan membeli empat buku kehamilan dan membacanya semua dengan stabilo. Qiandra menemukan catatan kecil di halaman-halaman yang ditandai: "Minggu 12 — jantung mulai terdengar. JANGAN LEWATKAN USG." Di bawahnya, tulisan Nathan yang kaku: "Ajak Qian makan dulu, dia mual kalau perut kosong."
Setiap malam, kalimat jujur mereka sekarang punya babak baru: mereka menyapa perut Qiandra. Nathan yang memulai, dengan canggung, pada suatu malam yang sepi. "Halo," katanya pada perut yang masih rata itu. "Gue Bapak loe. Suara gue mungkin kedengeran aneh dari dalam sana, tapi biasain. Gue akan sering ngomong."
Qiandra tertawa sampai sakit perut, dan Nathan menempelkan telinganya ke perut itu seolah tertawa Qiandra adalah bunyi yang bisa didengar janin.
Hidup, untuk sesaat, terasa selesai.
Dan pada saat itulah—seperti biasa, selalu pada saat itulah—hidup mengirimkan ujian berikutnya.
Sam akhirnya datang ke kontrakan Stephanie pada hari Minggu pagi, tanpa roti, tanpa senyum, dan tanpa harga diri yang biasa ia pakai seperti jas.
Stephanie tahu sebelum kakaknya membuka mulut. Ada cara tertentu orang berdiri di depan pintu ketika mereka datang untuk meminjam uang—bahunya sedikit maju, matanya tidak bertemu mata, dan tangannya terlalu sibuk dengan kancing jaket.
"Berapa?" tanya Stephanie, masih memegang daun pintu.
"Steph—"
"Berapa, Sam."
Sam menelan ludah. "Tiga ratus. Cicil dua ratus juga bisa. Gue ada masalah sama orang-orang. Bukan rentenir biasa, Steph. Orangnya Danu."
Nama itu membuat darah Stephanie dingin. "Loe masih utang sama orangnya Subagio? Setelah semuanya?"
"Amplop itu bukan hadiah, ternyata." Sam tertawa pecah. "Itu uang muka. Dan karena hasil tesnya gagal sesuai rencana, dia nagih balik. Dengan bunga. Dengan cara-cara yang—" ia berhenti, dan untuk pertama kalinya Stephanie melihat ketakutan yang asli di wajah kakaknya, "—loe nggak mau tahu."
Stephanie menatap kakaknya lama. Di dalam rumah, Kirana mulai terdengar merengek, dan suara kecil itu seperti pengingat bahwa hidup Stephanie sekarang punya prioritas yang berbeda.
"Gue punya tabungan seratus delapan puluh juta," kata Stephanie akhirnya. "Itu buat Kirana. Buat susunya, imunisasinya, sekolahnya nanti. Gue nggak akan ngasih itu."
"Steph, please—"
"Tapi gue akan ngasih loe ini." Stephanie mengambil ponselnya, mengetik sesuatu, lalu memperlihatkannya pada Sam. "Kontak Pak Rahmat. Teman almarhum Bapak. Dia punya bengkel tambang di Kalimantan dan lagi butuh orang administrasi yang ngerti hitung-hitungan. Kerjanya jauh, berat, dan gajinya jujur. Danu nggak akan nyari loe sampai ke sana."
Sam menatap layar ponsel itu seperti menatap surat pengasingan. "Kalimantan."
"Kalimantan."
"Loe ngusir gue."
"Gue nyelametin loe." Stephanie menatap kakaknya, dan suaranya retak tetapi berdiri. "Selama loe di Jakarta, loe akan terus jadi Sam yang lama. Kota ini penuh sama orang yang ngasih loe jalan pintas. Di sana nggak ada jalan pintas. Cuma ada kerja dan gajian. Mungkin itu yang selama ini loe butuh."
Sam menatapnya lama. Ada perlawanan di matanya, kebiasaan tiga puluh lima tahun untuk selalu menang tawar-menawar. Tetapi di belakang perlawanan itu, ada sesuatu yang lain—kelelahan. Kelelahan orang yang sudah terlalu lama berbohong kepada semua orang, termasuk dirinya sendiri.
"Kalau gue pergi," kata Sam pelan, "gue masih boleh nulis surat buat Kirana? Nggak usah dibales. Gue cuma... gue pengin dia tahu suatu hari nanti, dia pernah punya om yang brengsek, tapi omnya itu belajar."
Stephanie tidak menjawab. Tetapi ia tidak menolak, dan bagi Sam, itu sudah seperti pelukan.
Sam pergi sore itu. Ia tidak menoleh di ujung gang, dan Stephanie tidak keluar untuk melihatnya pergi. Beberapa perpisahan memang harus sekasar itu, karena kalau dilembutkan, keduanya tidak akan sanggup.
Malamnya, setelah Kirana tidur, Stephanie menemukan amplop cokelat terselip di bawah pintu. Di dalamnya tidak ada uang, tidak ada surat permintaan maaf yang panjang. Hanya satu potongan kecil kertas dengan tulisan tangan yang buru-buru: Titip salam buat Kirana. Omnya berangkat kerja. — dan di bawahnya, satu baris tulisan yang lebih pelan, seperti ditulis oleh orang yang sedang belajar menjadi jujur: Maaf.
Tiga hari kemudian, Jakarta membaca berita itu.
Portal gosip "FaktaHiburan" menurunkan artikel berjudul: "Eksklusif: Mantan Model S Melahirkan Anak Usai Cerai dari Konglomerat R—Siapa Ayahnya?". Artikel itu tidak menyebut nama lengkap, tetapi semua orang yang perlu tahu, tahu. Ada foto lama Stephanie dan Nathan saat masih menikah. Ada spekulasi. Ada komentar-komentar yang lebih kejam dari pisau.
Rian yang pertama melihatnya dan langsung menelepon Nathan dengan suara yang tidak enak: "Loe udah baca?"
Nathan membaca artikel itu dua kali. Qiandra membaca dari balik bahunya, dan tangan Nathan langsung mencari tangannya.
"Ini bukan Sam," kata Qiandra pelan. "Sam udah di Kalimantan."
"Bukan Sam." Nathan menatap layar, dan matanya menggelap dengan cara yang sudah lama tidak terlihat. "Ini orang yang mau kita sibuk ngurusin gosip, sementara mereka gerak di tempat lain. Ini Handoko. Dan kalau dia udah main di ranah keluarga—"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
Mega menelepon lima menit kemudian. Suaranya tenang, terlalu tenang—tanda badai di keluarga Rajendra.
"Nathan. Mama sudah baca. Papa juga sudah."
"Ma, ini—"
"Mama tahu ini bukan kebenaran. Mama lebih kenal wajah jurnalis bayaran daripada wajah cucunya sendiri, itu pekerjaan rumah tangga keluarga ini." Jeda kecil. "Yang Mama mau tanya satu hal: Stephanie baik-baik saja?"
Qiandra, yang mendengar pertanyaan itu dari speakerphone, mengangkat wajahnya. Bukan "bagaimana nama keluarga", bukan "bagaimana saham kita". Mega bertanya apakah Stephanie baik-baik saja.
Nathan menjawabnya dengan suara yang lembut, "Dia kuat, Ma. Lebih kuat dari yang kita kira."
"Bagus." Mega menghela napas. "Kalau begitu, kita lawan. Tapi bukan dengan cara lama Papa-mu. Dengan cara yang bisa diceritakan ke cucu kita nanti tanpa membuat kita malu."
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Tetapi kali ini, keluarga itu tidak berperang dengan bayangannya sendiri.
Kali ini mereka berdiri di sisi yang sama.
…