Berita itu menggelinding selama tiga hari, dan seperti semua bola salju gosip, ia membesar dengan sendirinya. Portal-portal lain mulai menyalin. Akun-akun gosip menambahkan bumbu. Seseorang menggali foto lama Stephanie di runway; seseorang yang lain menggali foto Nathan dengan kursi rodanya; dan internet, seperti biasa, mengubah hidup orang menjadi tontonan makan siang.
Keluarga Rajendra punya cara lama menghadapi hal seperti ini: tekan, beli, hapus. Subagio tahu semua pintunya, dan untuk beberapa jam, pria tua itu sempat berdiri di depan teleponnya dengan jari menggantung di atas nama-nama lama.
Tetapi Nathan datang ke rumah besar malam itu dan berkata, "Jangan, Pa."
"Kau tahu ini bisa merusak tender minggu depan," kata Subagio. "Klien dari Surabaya itu kolot. Mereka baca gosip."
"Kalau kita kalah tender karena gosip yang salah, berarti klien itu tidak cocok dengan kita." Nathan meletakkan sesuatu di meja ayahnya: sebuah draf. "Kita tidak akan membantah, Pa. Kita tidak akan menghapus. Kita akan bicara."
Draf itu tidak ditulis oleh pengacara. Ia ditulis di meja makan kontrakan kecil di Tebet, oleh tiga orang yang dalam sejarah yang normal seharusnya tidak pernah duduk bersama: Nathan, Qiandra, dan Stephanie.
Stephanie menerima mereka berdua dengan Kirana tidur di gendongan kain. Di atas mejanya ada tiga cangkir teh dan satu laptop tua. Pemandangan itu sendiri sudah seperti ganjaran dari semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui: mantan istri, istri, dan suami di tengahnya, tidak untuk bertengkar, melainkan untuk menulis satu surat yang sama.
"Kita nggak usah bohong," kata Stephanie saat itu. "Gue capek bohong. Kita juga nggak usah buka semuanya. Kita cukup bilang yang benar, seperlunya, dengan kepala tegak."
"Dan nama Kirana nggak masuk," tambah Qiandra. "Anak itu bukan properti berita. Nggak sekarang, nggak nanti."
Nathan menatap dua perempuan di hadapannya dan untuk kesekian kalinya merasa dirinya orang paling beruntung di kota itu. Mereka menulis bersama selama dua jam, mengubah kata demi kata, sementara Kirana mengigau dalam tidurnya dan hujan kecil mengetuk atap kontrakan.
Draf itu sederhana: satu pernyataan tertulis, ditandatangani tiga nama—Nathan, Stephanie, dan Qiandra.
Subagio membacanya dua kali. Isinya tidak membela siapa-siapa. Isinya hanya kebenaran yang diberi pakaian sopan: bahwa pernikahan pertama telah selesai secara sah sebelum kehamilan; bahwa bayi itu bukan anak Nathan berdasarkan tes yang sah; bahwa keluarga menghormati privasi seorang ibu tunggal; dan bahwa setiap upaya menyeret anak di bawah umur ke dalam berita akan ditindak secara hukum.
Di bawahnya, ada satu kalimat tambahan yang ditulis tangan oleh Stephanie sendiri: "Saya mohon publik berhenti bertanya siapa ayahnya, dan mulai bertanya apakah ibu dan bayinya sehat. Kami sehat. Terima kasih."
"Perempuan itu lebih berani dari setengah pengacara kita," gumam Subagio. Lalu, dengan berat, "Tanda tangani."
Pernyataan itu dirilis Kamis pagi, dan sesuatu yang tidak biasa terjadi: badai berhenti lebih cepat dari yang diprediksi siapa pun. Kejujuran ternyata adalah barang langka yang membingungkan internet—tidak ada celah untuk ditarik-ulur, tidak ada bantahan untuk dibantah kembali. Portal FaktaHiburan menghapus artikelnya dalam dua hari setelah surat hukum keluarga Rajendra tiba, dan diskusi publik berbelok, anehnya, menjadi simpati: akun-akun ibu-ibu mulai membela Stephanie; kolom komentar yang tadinya kejam berubah menjadi doa-doa pendek untuk Kirana.
Dan Handoko Wirya kehilangan pionnya.
Yang paling tidak terduga justru terjadi pada Stephanie. Malam setelah pernyataan itu beredar, ia duduk menyusui Kirana sambil membaca kolom komentar—kebiasaan buruk yang seharusnya tidak dilakukan siapa pun—dan menemukan, di antara ribuan kata, satu komentar dari akun tanpa nama: "Jadi ibu itu berat. Semoga kamu kuat, Nona." Stephanie menatap komentar itu lama sekali, sampai layar ponselnya buram, dan ia menangis bukan karena sakit hati melainkan karena untuk pertama kalinya, dunia menatapnya tanpa menghakimi.
Ia mengirim tangkapan layar komentar itu ke Qiandra tanpa kata-kata. Qiandra membalasnya dengan satu emoji hati—emoji pertama yang pernah mereka tukarkan.
Nathan mengetahui langkah terakhir lawannya dari Rian: dua ruko di sebelah Q&Q yang sedang direnovasi itu tiba-tiba berhenti pekerjaannya. Izinnya ditarik sendiri oleh pemiliknya. Orang-orang seperti Handoko tahu kapan pertempuran sudah tidak sepadan dengan biayanya.
"Dia mundur," kata Rian, hampir tidak percaya.
"Dia tidak mundur. Dia menyimpan bidaknya untuk permainan lain." Nathan menutup laptopnya. "Tapi itu masalah tahun depan. Tahun ini, kita punya hal yang lebih penting."
Malam itu, keluarga besar berkumpul di rumah cluster untuk makan malam syukuran kecil-kecilan. Mega datang dengan tiga kantong baju bayi yang dibelinya secara berlebihan. Subagio datang dengan tongkatnya dan sikapnya yang sudah melunak seperti tanah setelah hujan. Bahkan empat sepupu dari rumah sebelah ikut—Rian membawa kelepon, Luki membawa kalkulator entah untuk apa, Vian membawa nilai ujian yang bagus untuk dipamerkan, dan Leslie datang terakhir dengan sesuatu yang tidak pernah ia bawa sebelumnya: senyum yang tidak pahit.
Ia menghampiri Qiandra di dapur saat yang lain sibuk di meja makan.
"Loe menang," kata Leslie pendek.
"Ini bukan perlombaan, Les."
"Bagi gue dulu lomba." Leslie menyandarkan punggung ke dinding dapur, menatap keluarga yang riuh di ruang sebelah. "Empat tahun gue yakin gue yang paling cocok buat dia. Ternyata yang dia butuhin bukan yang paling cocok. Yang dia butuhin itu yang paling berani bertahan. Dan itu loe."
Qiandra tidak tahu harus berkata apa, jadi ia menyodorkan piring berisi ceker Lombok ijo.
Leslie menatap piring itu, lalu tertawa—tawa lepas pertama yang pernah Qiandra dengar dari wanita itu. "Gue benci pedes."
"Semua orang di rumah ini awalnya benci pedes," kata Qiandra. "Nanti juga ketularan."
Di ruang makan, Nathan mengangkat gelasnya, dan semua orang mengikutinya. Tidak ada pidato. Hanya satu kalimat dari Subagio yang sudah belajar, dengan susah payah, untuk berbicara seperti ayah:
"Untuk yang sudah ada di meja ini, dan untuk yang sedang dalam perjalanan."
Semua gelas bertemu di tengah. Dan di perut Qiandra, tanpa ada yang bisa membuktikannya tetapi semua orang bersumpah merasakannya, sesuatu yang kecil ikut merayakan.
…