Enam bulan berlalu seperti air sungai yang tenang—bergerak, tetapi tidak tergesa.
Perut Qiandra membesar dengan anggun, dan hidup mereka berubah menyesuaikan bentuknya. Nathan memasang pegangan di seluruh lorong rumah, bukan untuk dirinya, tetapi untuk Qiandra yang makin sering kehilangan keseimbangan. Buku-buku kehamilannya berganti dengan buku-buku nama bayi, yang halaman-halamannya penuh coretan dan debat kecil.
"Nakara," usul Nathan suatu malam. "Kuat."
"Nakara kayak nama restoran Jepang," tolak Qiandra. "Gue mau yang ada angin-anginnya. Aira, gimana?"
"Aira," ulang Nathan, mencicipi kata itu. "Aira Rajendra. Kedengerannya kayak orang yang nggak pernah takut."
"Mudah-mudahan."
Perdebatan nama itu berlangsung berminggu-minggu dan menjadi hiburan seluruh rumah. Bi Umi mengusulkan nama-nama Jawa klasik yang langsung ditolak dua-duanya dengan sopan. Rian menyarankan "Keleponia" dan langsung diusir dari ruang diskusi. Mega ingin ada unsur "Rajendra" di dalamnya, Subagio ingin nama yang "bisa diucapkan investor asing", dan pada suatu titik Qiandra harus mengetuk meja dan berkata, "Ini anak gue, bukan proyek joint venture."
Semua orang diam. Lalu Subagio tertawa—keras, lepas, mengejutkan—dan berkata, "Betul. Anakmu. Kalian yang memutuskan."
Aira tetap bertahan di puncak daftar, tetapi tidak ada yang mengunci keputusan itu sampai bayinya benar-benar terlihat matanya. "Kita lihat dulu mukanya," kata Nathan. "Baru kita kasih nama. Kayak orang yang beli barang, harus cek dulu."
"Astaga, Nat. Dia bukan paket."
"Paket paling mahal yang pernah gue tunggu."
Dan di bawah perbincangan-perbincangan ringan itu, dua pekerjaan besar berjalan diam-diam: Qiandra menumbuhkan seorang manusia, dan Nathan membangun kembali sepasang kaki.
Terapi fisiknya sudah naik tingkat. Palang paralel sudah ditinggalkan; sekarang ada sepasang tongkat ketiak dan lorong rumah yang diubah menjadi lintasan. Sepuluh langkah. Lima belas langkah. Pada bulan ketujuh kehamilan Qiandra, Nathan berhasil berjalan dari kamar ke dapur—empat puluh dua langkah—dengan tongkat dan keringat yang membasahi seluruh punggungnya, disaksikan Bi Umi yang menangis sambil memegang lap.
"Bi Umi kenapa nangis?" tanya Nathan, terengah-engah.
"Bi Umi nungguin ini dari hari Aden kecelakaan," kata wanita tua itu, menyeka matanya. "Empat puluh dua langkah. Bi Umi hitung."
Di sela-sela semua itu, ada satu sore yang menjadi tanda bahwa luka-luka lama benar-benar sedang menutup: makan siang bersama di rumah besar Menteng, ketika orang tua Qiandra datang untuk pertama kalinya sebagai besan, bukan sebagai tamu yang tertekan.
Qiandra sempat tegang sejak pagi. Ia tahu sejarahnya. Ibunya pernah pingsan karena tekanan keluarga ini; ayahnya pernah jatuh sakit. Tetapi sore itu Subagio menyambut ayah Qiandra di pintu dengan sesuatu yang mengejutkan semua orang: ia turun dari kursi kepalanya, berjalan menghampiri guru wiyata dari Tanah Abang itu, dan mengulurkan tangannya lebih dulu.
"Pak Darto," kata Subagio. "Akhirnya saya bisa bertemu orang yang membesarkan perempuan sekuat menantu saya."
Ayah Qiandra, pria sederhana yang seumur hidupnya hanya percaya pada buku dan doa, menjabat tangan itu dengan canggung tetapi hangat. "Anak saya kuat karena hidupnya keras, Pak. Bukan karena kami hebat."
"Justru itu yang hebat."
Mega dan ibu Qiandra menemukan bahasa mereka sendiri di sudut lain: dua perempuan dari dua dunia, satu perokok arisan dan satu pedagang kelontong, berbicara tentang hal yang menyatukan semua ibu di dunia—anak-anak mereka yang keras kepala dan cucu yang sedang dalam perjalanan.
"Mertua saya dulu bilang, menantu yang baik itu yang diam," kata ibu Qiandra sambil menuang teh. "Saya nggak pernah ngajarin Qiandra diam. Makanya dia jadi begini."
"Dan untunglah dia begitu," jawab Mega, dan keduanya tertawa seperti sudah saling kenal dua puluh tahun.
Di meja makan, Subagio dan ayah Qiandra menemukan kesamaan yang tidak disangka siapa pun: keduanya sama-sama kehilangan ayah mereka muda, sama-sama membesarkan anak dengan cara yang mereka tahu—keras untuk Subagio, sabar untuk Pak Darto—dan sore itu, untuk pertama kalinya, Subagio mendengar dengan tulus saat Pak Darto berkata, "Anak itu bukan dipaksa jadi kuat, Pak. Anak itu ditemani sampai dia kuat sendiri."
Subagio tidak menjawab. Tetapi ia mendengarkan, dan di usia enam puluh empat tahun, orang tua itu masih bisa belajar—itu sendiri sebuah keajaiban kecil.
Malam-malam terakhir sebelum kelahiran berjalan seperti hitung mundur yang hangat. Kamar bayi sudah selesai: cat kuning lembut, boks kayu yang dirakit Nathan sendiri dari atas kursi rodanya dengan bantuan Rian, dan satu rak kecil berisi buku-buku cerita yang sudah dibaca Nathan keras-keras pada perut Qiandra setiap malam, dengan suara yang disamarkan seperti narator.
Q&Q berjalan dengan sistem baru—brand ceker Lombok ijo mulai dibicarakan orang, dan Bang Andi mulai belajar kata "franchise" tanpa takut. Stephanie datang berkunjung dua kali sebulan dengan Kirana yang sudah bisa duduk; dua perempuan itu menjadi teman yang aneh tetapi tulus, dan Kirana menjadi bayi pertama yang diletakkan di atas boks bayi Aira, "menguji kelayakan", kata Stephanie.
Semuanya siap. Semuanya menunggu.
Pembuatan kamar bayi sendiri menjadi legenda kecil di keluarga itu. Rian datang dengan bor listrik dan keyakinan palsu; Luki membaca manual perakitan seperti membaca laporan keuangan; Vian dilarang memegang apa pun yang tajam. Nathan memimpin dari kursi rodanya seperti konduktor orkestra, dan ketika boks bayi itu akhirnya berdiri—miring dua derajat karena satu baut disembunyikan Vian di sakunya—tidak ada yang tega membongkarnya ulang. Boks itu tetap miring dua derajat sampai hari kelahiran, dan semua orang sepakat menyebutnya "karya keluarga".
Bi Umi menaruh satu barang terakhir di kamar itu: sebuah selimut rajut kecil yang ia buat sendiri selama berbulan-bulan, kuning gading, dengan sulaman huruf "A" di sudutnya. "Bi Umi nggak tahu hurufnya bener apa nggak," katanya malu-malu. Qiandra memeluk wanita tua itu tanpa kata.
Dan pada suatu malam di minggu ketiga puluh delapan, ketika hujan badai pertama musim itu turun dengan derasnya ke Jakarta, Qiandra terbangun jam dua pagi, memegang perutnya, dan berkata dengan suara yang sangat tenang kepada suaminya yang langsung terjaga:
"Nat. Air ketuban gue pecah."
Nathan menatapnya sepersekian detik. Lalu seluruh rumah itu bangun.
…