Jam dua pagi di rumah itu berubah menjadi medan tempur yang penuh kasih.
Bi Umi bangun oleh bunyi langkah kaki Nathan di lorong—bunyi yang masih mengejutkannya setiap kali, tongkat ketiak yang beradu dengan lantai, langkah yang diseret tetapi maju. Nathan sudah berdiri di samping ranjang, sudah berpakaian entah bagaimana caranya, dan sudah mengangkat telepon dengan satu tangan sambil memegang tas persalinan dengan tangan satunya.
"Pak Shodiq. Sekarang. Iya, sekarang."
"Nat, napas dulu—"
"Gue udah latihan napasnya dari buku. Loe yang kontraksi, gue yang panik. Itu pembagian tugas yang salah, tapi sudah terlambat buat revisi."
Qiandra tertawa di tengah kontraksinya, dan entah bagaimana, tawa itu membantu.
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung dalam hujan badai. Jakarta jam tiga pagi biasanya lengang, tetapi malam itu jalanan seperti sengaja mengetes mereka: banjir kecil di satu ruas, pohon tumbang di ruas lain. Pak Shodiq menyetir dengan ketenangan seorang veteran, sementara Nathan menggenggam tangan Qiandra dan menghitung kontraksinya dengan stopwatch ponsel seperti orang gila.
"Empat menit sekali," katanya.
"Nat."
"Lima menit sekali udah bahaya, empat menit udah—"
"Nathan. Lihat gue." Qiandra menatapnya, dan dalam satu tatapan itu, badai di luar seperti dikecilkan volumenya. "Kita udah sampai. Tenang."
Mereka sampai. Rumah sakit itu—rumah sakit yang sama yang dulu menjadi saksi hari paling buruk dalam hidup mereka—menyambut mereka dengan lampu-lampu putih dan lorong yang sama. Nathan sadar akan ironi itu saat kursi rodanya melintasi lobi: terakhir kali ia di sini, ia masuk dengan kaki yang mati dan istri yang pergi. Sekarang ia masuk dengan kaki yang hidup dan istri yang menggenggam tangannya.
Rumah yang sama. Dua kehidupan yang berbeda.
Persalinan itu berjalan tujuh jam. Qiandra adalah petarung yang tidak pernah berteriak—ia hanya menggertakkan gigi, menggenggam, dan bertahan, seperti biasanya, seperti selalu. Nathan tidak meninggalkan sisi ranjangnya sedetik pun, dan ketika para perawat menyuruhnya duduk, ia menjawab, "Gue udah duduk setahun. Sekarang gue berdiri."
Di luar, ruang tunggu perlahan terisi. Mega tiba lebih dulu dengan mata sembab karena bangun kesiangan oleh kabar—ironi yang tidak hilang pada siapa pun. Subagio datang tiga puluh menit kemudian dengan jas yang dipakai terbalik, dan tidak ada seorang pun yang berani memberitahunya sampai Mega sendiri yang tertawa dan membetulkannya.
Bi Umi datang dengan tas berisi termos dan doa-doa yang ia baca tanpa suara. Empat sepupu datang bergerombol dan langsung dilarang ribut oleh satpam rumah sakit—Vian mencoba mendekorasi lorong dengan spidol, Rian mencoba menjual kelepon pada keluarga pasien lain, dan Leslie hanya duduk diam di sudut, memeluk jaketnya, dengan mata yang terus menatap pintu ruang bersalin.
Ketika pintu itu akhirnya terbuka dan Nathan muncul dengan wajah yang basah, Leslie-lah yang berdiri paling cepat.
"Perempuan," kata Nathan serak. "Keduanya selamat."
Leslie menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan Rian memeluknya dari samping tanpa mengatakan apa-apa. Beberapa kelegaan memang hanya bisa dirayakan dengan diam.
Dan ia berdiri.
Dengan tongkatnya, dengan kaki yang gemetar, dengan keringat yang mengalir dan otot-otot yang berteriak protes, Nathan Rajendra berdiri di samping ranjang persalinan istrinya selama dua jam terakhir, karena ia sudah berjanji pada seseorang yang belum lahir: gue mau nyambut loe berdiri.
Pukul sebelas lewat tujuh belas, di tengah hujan yang masih mengguyur Jakarta, Aira lahir.
Tangisnya langsung besar—keras, protes, marah pada dunia yang dingin—dan seluruh ruangan tertawa lega. Tiga koma satu kilogram. Perempuan. Sempurna dengan sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki dan suara yang, menurut Nathan nanti, "kedengeran kayak pemimpin demo".
Perawat meletakkan bayi itu di dada Qiandra, dan untuk beberapa detik, ruangan itu berhenti menjadi rumah sakit dan menjadi sesuatu yang lain—menjadi pusat dari segala sesuatu.
"Lihat mukanya," bisik Qiandra, lelah dan basah dan bahagia.
Nathan menatap bayi itu. Ia sudah membayangkan momen ini ribuan kali, menyiapkan kalimat-kalimat penting, dan semuanya menguap. Yang keluar dari mulutnya hanya suara kecil yang pecah:
"Halo, Aira."
Bayi itu berhenti menangis. Sesaat saja. Tetapi Nathan akan bersumpah sampai akhir hidupnya bahwa bayi itu berhenti karena mendengar suaranya.
Di luar ruang persalinan, kabar bergerak cepat. Mega menangis terbuka tanpa peduli riasannya, dan Subagio—Subagio Rajendra yang empat puluh tahun tidak pernah menangis di depan siapa pun—berdiri di lorong dengan punggung menghadap semua orang dan bahu yang bergetar. Ketika seorang perawat keluar dan berkata "Selamat, Kakek", pria tua itu hanya bisa mengangguk berkali-kali seperti anak kecil.
Ibu Qiandra tiba bersama Pak Darto, Tasya, dan Sisil satu jam kemudian, membawa doa-doa dan rantang berisi sayur asam yang tidak diizinkan masuk ruang bersalin. Stephanie mengirimkan karangan bunga dengan kartu bertuliskan: Dari Kirana, yang sudah lebih dulu lihat dunia. Selamat datang, Dek Aira.
Sore itu, ketika semua tamu sudah pulang dan lampu kamar rawat sudah diredupkan, Nathan berdiri di samping boks bayi—berdiri, dengan tongkatnya, seperti janjinya—dan menatap putrinya yang tertidur dengan tangan mungil terbuka.
"Dia persis kayak loe," bisik Nathan.
"Baru lahir udah di-comment," Qiandra tersenyum lemah dari ranjangnya. "Tunggu dia besar dulu."
Nathan duduk di tepi ranjang istrinya, meraih tangannya, dan berkata pelan, "Gue pernah bilang ke loe, dulu, waktu kita baru nikah: cepat atau lambat gue akan jadi suami loe secara utuh."
"Gue ingat."
"Gue kira 'utuh' itu soal kaki." Nathan menatap bayi mereka, lalu menatap Qiandra, dan matanya penuh dengan hal-hal yang tidak muat diucapkan. "Ternyata bukan. Kaki itu bonus. Utuh itu ini. Loe. Dia. Rumah yang nggak lagi berantakan."
Di luar jendela, hujan mulai reda. Dan di dalam kamar itu, untuk pertama kalinya sejak sebuah kecelakaan di malam yang basah mengubah tiga hidup sekaligus, semuanya benar-benar, sepenuhnya, selesai menjadi luka—
dan mulai menjadi cerita.
Cerita yang kelak akan mereka ceritakan pada Aira, pada suatu sore yang jauh, tentang angsa yang tidak pernah pergi.
…