Mereka pulang dari rumah sakit pada hari keempat, dan rumah cluster itu menyambut seperti rumah yang sudah menunggu terlalu lama.
Bi Umi berdiri di teras dengan tangan gemetar memegang kembang telon—adat lama yang ia pertahankan mati-matian. Di rumah sebelah, empat sepupu sudah memasang spanduk bertuliskan "SELAMAT DATANG AIRA" yang huruf-hurufnya tidak rata karena Vian yang mengecatnya. Rian datang dengan kelepon gratis untuk semua orang. Luki membawa amplop tebal bertuliskan "tabungan pendidikan" dengan cara orang yang tidak tahu cara mengatakan selamat. Dan Leslie berdiri paling belakang, memegang hadiah kecil yang tidak ia serahkan sampai semua orang selesai.
"Buat dia," kata Leslie pelan pada Qiandra, menyerahkan kotak kecil itu. Di dalamnya ada gelang perak mungil dengan ukiran huruf A. "Gue nggak tau harus bilang apa. Jadi gue beli aja."
"Udah cukup," kata Qiandra, dan memeluknya. Leslie menegang sepersekian detik, lalu memeluk balik, dan sesuatu yang sudah lama beku di antara dua perempuan itu mencair tanpa upacara.
Minggu-minggu pertama dengan Aira adalah minggu-minggu yang dijalani dengan mata setengah terbuka. Tidur menjadi barang mewah. Bayi itu bangun setiap dua jam dengan suara yang—sialnya—memang seperti pemimpin demo. Nathan dan Qiandra membagi malam seperti membagi shift: Nathan mengambil jam sepuluh sampai jam dua, Qiandra jam dua sampai subuh.
Hari-hari berikutnya adalah arus tamu yang tidak pernah berhenti. Mega datang setiap dua hari dengan alasan-alasan yang makin transparan—"kebetulan lewat", padahal rumah besar ada di sisi lain kota. Subagio datang bersama istrinya dan selalu berdiri paling lama di samping boks bayi, tidak berkata apa-apa, hanya menatap cucunya dengan wajah yang sudah sepenuhnya berubah menjadi wajah kakek.
Orang tua Qiandra datang di akhir pekan pertama. Ibunya langsung mengambil alih dapur Bi Umi dengan otoritas yang hanya dimiliki ibu-ibu, dan dua wanita tua itu—Bi Umi dan ibu Qiandra—menjadi sekutu dalam waktu satu sore, bersatu dalam misi memastikan Aira "tidak kekurangan apa-apa". Pak Darto membawa hadiah yang paling sederhana dan paling berarti: sebuah buku cerita bekas miliknya sendiri, yang dulu ia bacakan untuk Qiandra kecil, dengan sampul yang sudah diperbaiki dengan selotip berkali-kali.
"Ini untuk Aira," katanya kaku. "Ayahmu boleh kaya raya, tapi buku ini tidak bisa dibeli."
Nathan menerima buku itu dengan kedua tangan, seperti menerima pusaka.
Dari Q&Q, delegasi datang bergiliran setiap sore: Feli dengan kue-kue, Elli dengan pamflet kesehatan bayi yang separuhnya benar, Wawan dengan boneka yang terlalu besar untuk boks bayi, Kristian dengan lagu-lagu ciptaannya yang tidak diminta siapa pun, dan Johan dengan kipas angin kecil—hadiah paling praktis dari semua hadiah.
Malam itu juga, ketika semua orang sudah pulang, Stephanie datang dengan Kirana. Dua bayi itu diletakkan berdampingan di karpet ruang tengah: Kirana yang sudah bisa merangkak dengan niat, dan Aira yang masih seperti kue kecil yang bernapas. Dua ibu menatap mereka dari sofa, dan Nathan dari kursinya, dan untuk sesaat tidak ada yang bicara.
"Lucu ya," kata Stephanie akhirnya. "Dulu kita semua berantem-beranteman. Sekarang anak-anak kita main bareng."
"Dunia emang suka begitu," kata Qiandra. "Dia ngerusak dulu, baru dibenerin belakangan."
Ada malam ketiga ketika Qiandra terbangun jam setengah dua dan menemukan kamar bayi kosong. Panik menyambar selama sepersekian detik, sampai ia mendengar suara pelan dari teras.
Di sana, di bawah lampu kuning yang sama tempat semua hal penting di hidup mereka selalu terjadi, Nathan duduk di kursi kayu dengan Aira tertidur di dadanya, dan laki-laki itu sedang berbicara pelan-pelan pada putrinya yang tiga hari.
"...jadi pas gue SMA, gue ngejar nyokap loe dua setengah tahun. Dua setengah tahun, Ra. Orang-orang bilang gue gila. Tapi gue nggak bisa berhenti, karena nyokap loe itu satu-satunya orang yang pernah bilang 'nggak' ke gue."
Qiandra tidak bergerak dari ambang pintu.
"Dan loe tahu apa yang diajari itu ke gue?" Nathan melanjutkan, jarinya menyentuh tangan mungil yang menggenggam jarinya. "Bahwa 'nggak' itu bukan tembok. 'Nggak' itu pintu yang nungguin kita jadi orang yang pantas masuk. Nyokap loe ngajarin gue itu. Gue butuh dua belas tahun buat ngerti."
Aira menggeliat kecil dalam tidurnya.
"Jadi nanti, kalau loe udah besar, dan ada cowok yang ngejar-ngejar loe kayak gue ngejar nyokap loe..." Nathan berhenti, dan Qiandra bisa mendengar senyumnya, "...lo bilang 'nggak' dulu dua setengah tahun. Biar dia belajar."
Qiandra tertawa pelan dari ambang pintu, dan Nathan menoleh, tidak kaget, karena ia selalu tahu kapan istrinya ada di dekatnya.
"Dengerin gosip ayah-anak itu nggak sopan, Qian."
"Gue istri loe. Gue berhak atas semua gosip di rumah ini."
Nathan menepuk kursi kosong di sampingnya. Qiandra duduk di sana, bersandar ke bahunya, dan mereka duduk bertiga di teras yang basah oleh embun malam, keluarga kecil yang dibangun dari puing-puing, yang tidak seharusnya ada tetapi ada.
Di dalam saku Nathan, ponselnya bergetar. Pesan dari Mas Dodi: "Jadwal besok jangan lupa. Target baru: lepas tongkat satu."
Nathan menatap pesan itu, lalu menatap bayi di dadanya, lalu menatap istrinya di sampingnya.
"Besok gue mulai latihan tanpa satu tongkat," katanya.
"Pelan-pelan."
"Pelan-pelan," Nathan setuju. "Kita kan ahli pelan-pelan. Dua belas tahun, empat bulan penjara rasa, tujuh detik, empat puluh dua langkah. Semua pelan-pelan. Semua nyampe."
Qiandra menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Di dadanya, Aira bernapas dengan ritme kecil yang menenangkan, seperti metronom yang mengatur ulang jantung semua orang di rumah itu. Qiandra berpikir tentang betapa jauhnya mereka dari malam pertama di suite hotel itu, ketika seorang laki-laki duduk di balkon sendirian dan seorang perempuan beringsut menjauh dalam tidurnya. Sekarang mereka berbagi teras, berbagi malam, berbagi satu kehidupan kecil yang bernapas di antara mereka.
Dan malam itu, keluarga kecil itu masuk ke rumah bersama-sama, meninggalkan teras yang basah, sementara di langit Jakarta yang biasanya tertutup, ada satu bintang yang berhasil menembus.
Hanya satu. Tetapi cukup.
…