Aira berumur empat bulan ketika Qiandra kembali ke Q&Q, paruh waktu, tiga hari seminggu.
Keputusan itu dibuat di teras, seperti biasa, dengan cara baru: dibicarakan. Nathan tidak melarang, tetapi ada satu hal yang harus ia perjuangkan di dalam dirinya sendiri, dan Qiandra bisa melihatnya—perjuangan kecil itu terlihat di jari-jarinya yang mengetuk pegangan kursi roda.
"Gue akan nggak nyaman," kata Nathan jujur, mengikuti aturan mereka: katakan yang dirasakan, bukan yang seharusnya. "Bukan karena loe. Karena kepala gue masih suka muter skenario lama. Tapi gue akan urus itu sendiri. Loe berangkat."
"Dan kalau kepalanya muter lagi?"
"Gue cerita ke loe malamnya. Satu kalimat jujur." Nathan tersenyum kecil. "Itu kan aturannya."
Qiandra berangkat kerja hari Senin itu, dan Q&Q menyambutnya seperti menyambut pahlawan yang kembali dari perang. Feli memasang pita. Elli menyiapkan slide presentasi tentang "perkembangan bayi empat bulan" yang tidak diminta siapa pun. Dan pelanggan-pelanggan lama bertanya, "Mana bayinya?" seolah Aira sudah menjadi maskot warung itu sejak dalam kandungan.
Di rumah, Nathan menjalani hari-hari pertamanya sebagai bapak paruh waktu—dengan Bi Umi sebagai komandan lapangan yang sebenarnya. Ada satu siang ketika Aira menangis tanpa henti selama satu jam dan Nathan, dengan segala ketenangan bisnisnya, hampir menelepon rumah sakit sebelum Bi Umi mendeteksi masalahnya dalam tiga detik: popoknya sesak.
"Bayi itu nggak butuh analisis, Aden," kata Bi Umi sambil tertawa. "Dia butuh diganti popoknya."
"Di perusahaan, masalah selalu butuh analisis."
"Bayi bukan perusahaan."
Sementara itu, Q&Q sendiri sedang berkembang dengan cara yang tidak pernah dibayangkan Bang Andi. Warung cabang pertama—di Kramat, tidak jauh dari pusat—dibuka bulan itu dengan nama sederhana: Q&Q Dua. Feli diangkat menjadi kepala kasir cabang itu, dan ia menangis waktu menerima seragam barunya. Wawan dan Kristian membagi diri antara dua warung. Elli menolak promosi dengan alasan yang sangat Elli: "Gue nggak mau tanggung jawab. Tanggung jawab bikin jerawatan."
Bang Andi berdiri di depan cabang baru itu pada hari pembukaan, menatap papan nama yang menyala, dan berkata pada Qiandra yang berdiri di sampingnya dengan Aira di gendongan, "Bapak gue dulu bangun satu warung buat nafkahin keluarga. Sekarang ada dua. Dan semuanya gara-gara kalian berdua nggak pernah nyerah."
"Bukan kami, Bang. Kita semua."
"Iya. Tapi kalian yang mulai."
Di dua ruko sebelah Q&Q yang lama, proyek renovasi milik Cakra Nirwana tidak pernah selesai. Bangunan itu berdiri setengah jadi seperti monumen kekalahan orang yang terlalu sering bermain di bawah meja. Sesekali warga bertanya-tanya, tetapi tidak ada yang tahu pasti, dan Handoko Wirya tidak pernah lagi mengirim bayangannya ke kawasan itu.
Dan di tengah semua itu, surat itu tiba.
Bukan ke rumah Nathan. Ke kontrakan Stephanie di Tebet. Amplop cokelat biasa, perangko Samarinda, tulisan tangan yang lebih rapi dari yang Stephanie ingat. Di dalamnya ada dua lembar kertas: satu untuk Stephanie, satu untuk Kirana.
Untuk Stephanie:
Steph. Gue kerja beneran sekarang. Gajinya kecil, keringatnya banyak, dan nggak ada yang bisa diakalin. Loe bakal suka tempat ini: semua orang miskin bareng, jadi nggak ada yang sok. Gue udah mulai nyicil utang gue. Pelan, tapi jalan. Jangan jawab surat ini kalau loe belum siap. Gue cuma mau loe tahu gue hidup, dan untuk pertama kalinya, gue hidup bener. — Sam.
Dan untuk Kirana, ditulis dengan huruf yang lebih pelan, seperti orang yang menulis pada masa depan:
Halo, Nona Kecil. Loe nggak akan inget gue. Nggak apa-apa. Gue cuma mau ninggalin ini di suatu tempat, biar kalau suatu hari loe nanya, nyokap loe punya sesuatu buat ditunjukkin. Om loe pernah jadi orang jahat yang nyayangin loe dengan cara yang salah. Sekarang dia lagi belajar jadi orang baik. Doain dia, ya. Ra.
Stephanie membaca surat itu tiga kali di ambang pintu kontrakannya, dengan Kirana menggigit bahunya. Lalu ia melipatnya rapi, memasukkannya ke kotak kecil di lemari—kotak tempat ia menyimpan hal-hal yang akan ia berikan pada Kirana kelak, saat anak itu cukup besar untuk mengerti bahwa keluarganya tidak sempurna, tetapi nyata.
Hidup Stephanie sendiri pelan-pelan menemukan bentuknya. Toko online baju anaknya mulai ramai, dan ia menjalankannya dengan disiplin yang dulu hanya ia kenal di dunia modeling. Ia memotret produknya sendiri, menulis deskripsinya sendiri, dan membalas komplain pelanggan dengan kesabaran yang akan membuat orang-orang masa lalunya tidak percaya. Kadang-kadang, di malam yang sepi, ia masih teringat apartemen Kuningan dan gelas-gelas alkohol itu—tetapi ingatan itu sekarang datang seperti kabar dari negeri yang sudah ia tinggalkan, bukan rumah yang ia rindukan.
Kirana tumbuh dengan cepat, dan ia tumbuh dikelilingi orang-orang yang memilih untuk tinggal. Itu, pikir Stephanie, adalah satu-satunya warisan yang penting.
Malam itu Stephanie menelepon Qiandra. Bukan untuk minta apa-apa. Hanya untuk bercerita. Dan dua perempuan itu—yang pernah berdiri di dua sisi jurang yang sama—berbicara hampir satu jam, tentang bayi, tentang kerjaan, tentang betapa anehnya hidup bisa berubah arah.
"Suami gue latihan jalan tiap sore sekarang," kata Qiandra di ujung telepon. "Satu tongkat. Besok targetnya lepas dua-duanya."
"Dia bisa."
"Gue tau."
"Qian." Stephanie diam sejenak. "Makasih ya. Buat semuanya. Buat nggak pernah nutup pintu."
"Pintunya emang nggak pernah gue kunci," kata Qiandra. "Ingat?"
Stephanie tertawa, dan untuk pertama kalinya, tawanya terdengar seperti bunyi lonceng kecil—ringan, bersih, dan tidak menyimpan apa-apa di belakangnya.
Dan di kota itu, pada malam itu, beberapa orang tidur lebih nyenyak dari biasanya: seorang ibu tunggal di Tebet, seorang pria yang sedang belajar jujur di Samarinda, dan sebuah keluarga kecil di Jakarta Pusat yang besok pagi akan menyaksikan seorang ayah mencoba berjalan tanpa tongkatnya.
Aira sendiri tidur paling nyenyak dari semuanya, karena bayi selalu tahu lebih dulu bahwa besok adalah hari yang baik. Dan besok memang benar-benar hari yang baik.
…