Pagi itu, lorong rumah sudah disiapkan seperti lintasan kecil. Karpet digulung. Pajangan-pajangan dipindahkan. Bi Umi berdiri di ujung dapur dengan tangan mengepal di depan dada, dan Qiandra duduk di sofa dengan Aira di pangkuannya, karena pagi ini bukan hari biasa.
Pagi ini Nathan akan mencoba berjalan tanpa tongkat.
Mas Dodi datang khusus, berdiri dua meter di samping lintasan dengan postur siaga—tidak memegang, hanya bersiap. "Aturan lama," katanya. "Kalau goyang, saya tangkap. Kalau capek, berhenti. Tidak ada pahlawan di terapi saya."
Nathan berdiri di ujung lorong. Kursi rodanya terparkir di belakangnya, tongkat-tongkatnya disandarkan di dinding, dan di depannya: tiga puluh langkah lantai marmer yang sudah ia lewati ribuan kali dengan roda, tetapi belum pernah dengan kaki sendiri.
"Nathan," kata Qiandra pelan. "Kita nggak buru-buru."
"Gue tahu." Nathan menatap lorong itu. "Tapi gue udah tunggu dua tahun."
Langkah pertama adalah langkah paling berat di dunia. Kaki kanannya maju, gemetar, ragu, seperti kaki yang tidak percaya lantai masih ada di sana. Lalu kaki kiri. Tubuhnya bergoyang sedikit, mencari keseimbangan yang sudah lama ia lupakan rasanya, dan Mas Dodi bergerak maju setengah langkah—tetapi Nathan menemukannya sendiri.
Langkah kelima lebih pasti dari langkah keempat. Langkah kedelapan lebih tinggi. Di langkah kelima belas, Aira bersuara dari pangkuan ibunya—bukan tangis, melainkan bunyi kecil yang penuh perhatian, seolah bayi itu tahu sedang ada yang penting.
Langkah kedua puluh dua. Dua puluh tujuh.
Wajah Nathan basah oleh keringat dan hal-hal lain yang tidak akan pernah ia akui. Setiap langkah membawa masa lalunya: lorong SMA Darma Garuda, rumah sakit, malam-malam di balkon hotel, kursi roda yang menjadi penjara sekaligus pelindungnya. Setiap langkah melepaskannya sedikit demi sedikit.
Di langkah ketiga puluh, ia berhenti sejenak. Napasnya memburu. Kakinya memohon berhenti.
Dan dari sofa, Qiandra berkata—bukan menyemangati, hanya mengingatkan: "Gue di sini."
Nathan melangkah lagi. Tiga puluh satu. Tiga puluh lima. Tiga puluh sembilan.
Empat puluh dua.
Ia tiba di ujung lorong, tepat di depan sofa, tepat di depan istri dan putrinya. Empat puluh dua langkah—angka yang sama yang dulu ia tempuh dengan tongkat dan keringat sebadan, angka yang Bi Umi hitung sambil menangis—kini ditempuhnya tanpa apa-apa selain dua kaki yang pernah dinyatakan selesai.
Nathan berdiri di depan Qiandra, gemetar tetapi tegak, dan Aira mengulurkan tangannya yang mungil ke arahnya seperti memberi selamat.
"Empat puluh dua," kata Nathan terengah.
"Empat puluh dua," kata Bi Umi dari dapur, sudah tidak sanggup menahan apa pun.
Qiandra mengangkat Aira sedikit lebih tinggi, dan Nathan—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—mengambil putrinya sambil berdiri. Ia menggendongnya dengan dua tangan yang gemetar, kaki yang gemetar, hati yang penuh, dan ia berdiri di sana selama yang ia bisa, keluarga kecil itu bertumpu vertikal untuk pertama kalinya: ayah berdiri, bayi di dada, ibu mengangkat wajah menatap keduanya.
"Ra," bisik Nathan pada putrinya. "Bapak loe berdiri."
Aira menjawab dengan bunyi yang tidak bisa diartikan, tetapi seluruh rumah sepakat itu adalah tepuk tangan.
Berita empat puluh dua langkah itu menyebar dalam hitungan menit, karena Bi Umi menelepon rumah sebelah sebelum tangannya berhenti gemetar. Sore itu rumah kecil itu penuh sesak: Rian datang membawa satu krat kelepon, Luki datang dengan wajah datar tetapi membawa kue tart, dan Vian datang dengan spanduk bekas yang ditambal—tulisan "SELAMAT DATANG AIRA" disilang dan di bawahnya ditulis spidol "SELAMAT JALAN OM NATHAN", yang membuat semua orang tertawa dan membuat Leslie harus menjelaskan pada adiknya perbedaan antara "berjalan" dan "pergi selamanya".
Mega dan Subagio datang terakhir, tepat sebelum matahari terbenam. Subagio tidak membawa apa-apa; ia hanya berdiri di lorong yang sama, di ujung yang sama, dan menatap lintasan kecil itu dengan mata orang yang sedang mengukur jarak yang lebih panjang dari empat puluh dua langkah—jarak antara ayah dan anak yang dulu pernah terbentang lebih jauh dari itu.
"Kamu mau Papa coba lintasannya?" tanya Nathan, setengah bercanda.
"Papa sudah terlalu tua untuk lorong," kata Subagio. Lalu, setelah jeda yang panjang, "Tapi Papa tidak terlalu tua untuk melihat anaknya melewatinya. Itu cukup."
Dan dari pria yang seumur hidupnya hanya berbicara dengan angka dan ancaman, kalimat itu adalah sebuah pelukan.
Mas Dodi mencatat sesuatu di papan tulis kecilnya. Ketika Bi Umi mengintip, catatan itu berbunyi: Hari ini target tercapai. Target berikutnya: tidak ada. Yang seperti ini tidak perlu target lagi.
Malamnya, ketika Aira sudah tidur dan rumah sudah tenang, Nathan dan Qiandra duduk di teras dengan cangkir-cangkir mereka—kopi untuknya, lemon tea untuknya, seperti ribuan malam yang sudah lewat dan ribuan malam yang akan datang.
"Loe tahu apa yang paling aneh?" kata Nathan. "Selama setahun gue pikir, kalau kaki gue sembuh, hidup gue baru mulai lagi. Ternyata hidup gue udah mulai dari dulu. Kaki ini cuma nyusul."
Qiandra menatapnya. "Kapan loe sadar itu?"
"Pas loe hamil. Pas loe ketawa lagi. Pas Papa datang ke teras kita kehujanan." Nathan mengangkat bahu. "Kaki itu sembuh paling belakangan karena dia bagian yang paling nggak penting."
Qiandra tertawa pelan. Di dalam rumah, monitor bayi berbunyi lembut—Aira bergumam dalam tidurnya, seperti ikut tertawa.
"Besok," kata Nathan, "gue mau mulai latihan sesuatu yang baru."
"Apa?"
"Berdiri cukup lama buat gendong Aira keliling taman. Mas Dodi bilang butuh waktu sebulan." Nathan menatap taman kecil mereka yang gelap. "Sebulan itu nggak ada apa-apanya. Gue orang yang ngejar loe dua setengah tahun, ingat?"
Qiandra menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya—bahu yang dulu ia bopong ke mana-mana, yang sekarang kuat lagi menyangga dirinya.
"Gue ingat semuanya," katanya. "Empat puluh dua langkah. Kalau angkanya kehabisan, kita bikin yang baru."
"Angsa aja kagak bisa ngitung," kata Nathan, menyedot kopi. "Tapi dia bisa pulang. Gue juga. Udah pulang."
Dan di teras yang tenang itu, dua orang yang pernah saling menjadi beban, duduk sebagai dua orang yang saling menjadi rumah.
…