Pagi itu rumah kecil di ujung komplek bangun lebih cepat dari penghuninya.
Bi Umi sudah berada di dapur sebelum adzan subuh berhenti menggema, menumis bawang untuk nasi uduk porsi besar yang entah untuk siapa—sebab tamu undangan hanya dua puluh orang, tetapi Bi Umi memasak seperti akan menikahkan anak kedua. Nathan terbangun oleh aroma santan dan daun salam, dan untuk sesaat ia mengira dirinya kembali ke hari pernikahannya: rumah yang sama, aroma yang sama, degup yang sama.
Bedanya, kali ini ia bangkit dari tempat tidur dengan dua kakinya sendiri, berjalan ke kamar mandi dengan dua kakinya sendiri, dan mengintip ke kamar sebelah—kamar kecil bercat kuning yang dulu gudang—dengan dua kaki yang sama.
Di dalam boks kayu itu, Aira sudah bangun dan sedang berdiri berpegang pada rel, rambutnya berdiri ke segala arah seperti rumput habis hujan. Melihat ayahnya, bayi itu menepuk rel boksnya dan mengeluarkan bunyi kebanggaannya: "Aaah! Ba!"
"Pagi, pemimpin demo," kata Nathan, mengangkatnya. "Hari ini loe genap satu tahun. Besok loe bisa mulai belajar nyetir."
"Ba!"
"Oke, besok aja kalah. Tahun depan."
Hari itu adalah hari ulang tahun Aira yang pertama, dan setahun penuh sejak rumah sakit, sejak tangis pertama yang seperti pemimpin demo, sejak Nathan berdiri tujuh detik di samping ranjang istrinya dan seluruh keluarga memutuskan bahwa keajaiban itu bukan kebetulan, melainkan kebiasaan yang akan mereka pelihara.
Qiandra muncul dari kamar dengan mata bengkak karena begadang menghias kue—ia bersikeras membuat sendiri kue ulang tahun putrinya, menolak pesan dari luar, dan hasilnya adalah kue yang miring tiga derajat ke kiri dengan tulisan "AIRA 1" yang huruf R-nya terbalik. Nathan menilainya sempurna. Leslie, yang datang paling pagi untuk membantu, menilainya "penuh perasaan", yang adalah bahasa paling halus yang bisa ia temukan.
"Jangan komen," kata Qiandra pada suaminya sebelum suaminya membuka mulut.
"Gue nggak komen. Gue kagum. R terbalik itu filosofis. Hidup memang nggak selalu lurus."
"Nathan."
"Kue kita juga dulu miring, ingat, pas kita coba bikin kue pasangan angsa? Kita memang keluarga kue miring."
Qiandra tidak bisa membantah fakta sejarah, jadi ia hanya melempar lap dapur ke wajah suaminya, yang ditangkap Nathan sambil tertawa—berdiri, dengan dua tangan bebas, karena Aira sedang digendong Bi Umi.
Tamu-tamu datang bergelombang menjelang siang.
Mega dan Subagio tiba pertama, membawa hadiah yang terlalu besar untuk anak berusia satu tahun: sebuah ayunan kayu yang harus dirakit Subagio sendiri di taman belakang, dan ia merakitnya dengan kekakuan seorang insinyur dan kelembutan seorang kakek. Mega langsung merebut Aira dan tidak melepaskannya selama dua puluh menit penuh, mengumumkan pada siapa pun yang lewat bahwa cucunya adalah "bayi paling pintar di Jakarta Timur, dan ini fakta, bukan opini".
Orang tua Qiandra datang berikutnya, membawa kerudung rajutan untuk Aira dan tiga stoples kue lebaran yang "kebetulan masih ada", meski lebaran sudah lama lewat dan toples itu jelas dibuat kemarin. Ibu Qiandra menangis sebentar di ambang pintu—bukan sedih, hanya begitu—ketika melihat anaknya menggendong anaknya.
Lalu gerbong Q&Q tiba: Rian, Luki, Vian, dan Feli yang cuti dari Q&Q Dua di Kramat. Mereka datang dengan spanduk—tentu saja dengan spanduk, spanduk baru yang benar-benar dijahit kali ini, bukan tambalan: SELAMAT ULANG TAHUN NONA AIRA, CALON PEMILIK Q&Q TIGA.
"Ditentang," kata Qiandra tegas, menyambut spanduk itu. "Anak gue mau jadi astronot."
"Nona belum bisa ngomong, jadi suara mayoritas menang," kata Rian, memasang spanduk di pagar.
Stephanie datang sore, bersama Kirana yang sudah kelas tiga SD dan membawa hadiah buatan sendiri: kartu ucapan dari kertas lipat dengan gambar angsa yang lehernya terlalu panjang. Stephanie sendiri membawa satu kotak baju anak dari tokonya, dan ia menyerahkannya pada Qiandra dengan cara dua perempuan yang pernah saling melukai dan memutuskan untuk tidak lagi—hati-hati, sedikit kaku, tetapi tulus.
"Kirana yang milih gambarnya," kata Stephanie. "Katanya angsa itu… loe."
Qiandra menatap kartu itu. Angsa berleher terlalu panjang, di sebelahnya angsa kecil, di sebelahnya lagi satu angsa besar dengan paruh yang tersenyum. Tiga angsa di atas kertas lipat bekas.
"Bagus," kata Qiandra, dan suaranya sedikit tidak stabil. "Lehernya memang kepanjangan, kayak gue kalau lagi kepo."
Stephanie tertawa—tawa pertama yang benar-benar lepas di antara mereka, tanpa masa lalu yang menghalangi.
Pesta itu tidak mewah. Nasi uduk, ayam goreng, kue miring, es campur dari termos besar. Anak-anak tetangga datang tanpa diundang dan diundang dengan tangan terbuka. Vian membuat siaran langsung untuk grup karyawan Q&Q, dan Feli memberi komentar dari Kramat sepanjang acara dengan emotikon yang jumlahnya melebihi jumlah tamu.
Dan ketika matahari mulai condong, ketika kue sudah dipotong—R terbalik itu diabadikan dari semua sudut—Nathan berdiri dari kursinya.
Ia mengambil Aira dari pangkuan Mega.
"Waktunya acara utama," katanya.
Semua tamu berkumpul di tepi taman. Nathan berdiri di satu ujung, putrinya di dadanya, dan ia mulai berjalan—mengelilingi taman kecil itu, langkah demi langkah, pelan tetapi tidak goyah, sementara Aira bertepuk tangan di pelukannya dan mengumumkan "Ba!" pada setiap pohon yang mereka lewati.
Satu putaran. Dua putaran.
Bi Umi menghitung langkahnya, seperti biasa, tetapi kali ini tidak ada yang tegang dalam hitungannya—ia menghitung seperti orang menghitung anak tangga menuju rumah, bukan menuju operasi. Subagio berdiri di samping istrinya, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga itu, tangannya merangkul bahu Mega di depan umum, dan tidak ada yang berkomentar, karena semua sudah terlalu sibuk menahan haru.
Mas Dodi, yang diundang khusus dan datang dengan jas satu-satunya yang ia miliki, menonton dari teras sambil mengangguk pelan. Tidak ada papan tulis hari itu. Tidak ada target. Ia hanya tamu, dan ia minum es campur dua mangkuk.
"Ini yang dulu loe janjiin," kata Qiandra ketika Nathan kembali ke teras, napasnya sedikit memburu, putrinya masih di dada. "Keliling taman sambil gendong Aira."
"Gue selalu nepatin janji," kata Nathan. "Cuma kadang lewat jalan yang muter."
"Jalan loe memang selalu muter."
"Tapi sampai, kan?"
"Sampai," kata Qiandra, dan ia mencium pipi suaminya, lalu pipi putrinya, lalu—karena tangannya tidak cukup—ia memeluk keduanya sekaligus.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, setelah ayunan kayu dicoba semua orang termasuk Subagio yang mengaku "hanya menguji konstruksi", setelah spanduk digulung untuk disimpan—Rian menolak membuang spanduk, ia mengarsipkannya—Nathan dan Qiandra duduk di teras seperti biasa. Kopi. Lemon tea tiga sendok gula. Monitor bayi di meja, memancarkan dengkur kecil yang berirama.
Setahun, pikir Qiandra. Setahun lalu ia berbaring di rumah sakit dengan badan remuk dan hati penuh. Dua tahun lalu ia menggendong suaminya yang lumpuh naik turun tangga. Tiga tahun lalu ia berdiri di depan pria yang menawarinya dunia dan memilih cangkir lemon tea.
"Satu tahun," kata Nathan, membaca pikirannya seperti biasa. "Nggak kerasa, ya?"
"Kerasa kok," kata Qiandra. "Setiap harinya kerasa. Tapi keren."
Nathan tertawa pelan. Di dalam rumah, Aira mengigau dalam tidurnya, dan dari dapur terdengar Bi Umi bersenandung—lagu yang sama yang selalu ia senandungkan, lagu yang tidak pernah mereka tanyakan judulnya, lagu yang sudah menjadi suara rumah itu sendiri.
"Besok gue mau mulai ngajarin dia jalan," kata Nathan.
"Dia belum genap setahun sehari, Bang."
"Kita kan keluarga yang suka buru-buru. Loe hamil buru-buru, gue sembuh buru-buru."
"Loe sembuh dua tahun, itu bukan buru-buru, itu perjuangan."
"Oke. Kita keluarga yang suka perjuangan."
Qiandra menyandarkan kepala ke bahu suaminya. Di langit Jakarta Timur, bintang kalah oleh lampu kota, tetapi mereka sudah lama belajar bahwa yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Seperti bintang. Seperti kesembuhan. Seperti masa depan yang dulu mustahil dan sekarang tidur di kamar kuning, mengigau tentang dunia yang tidak ia tahu telah diperjuangkan untuknya.
…