Aira belajar berjalan pada musim hujan yang sama yang dulu menjadi saksi ayahnya belajar berjalan kembali.
Bedanya, Aira tidak butuh dua tahun. Aira tidak butuh Mas Dodi, tidak butuh papan tulis, tidak butuh air mata dan daging yang menolak. Aira hanya butuh sepasang tangan yang menunggu di seberang ruangan, dan sepasang tangan itu adalah tangan ayahnya—tangan yang dulu pernah tidak bisa merasakan apa-apa dari pinggang ke bawah, yang sekarang terbuka lebar, menunggu.
"Sini, Ra. Sini."
Aira berdiri di sisi sofa, berpegang pada bantal, menimbang-nimbang jarak tiga langkah yang membentang antara dirinya dan ayahnya dengan keseriusan seorang jenderal. Qiandra merekam dari dapur, satu tangan memegang ponsel, satu tangan menutup mulut sendiri. Bi Umi berdiri di belakangnya, tidak menghitung—untuk pertama kalinya Bi Umi tidak menghitung apa pun, sebab ada hal-hal yang memang tidak perlu dihitung.
Aira melepas bantalnya.
Satu langkah. Goyah. Dua langkah. Kedua tangan kecilnya terangkat seperti sayap yang belum selesai tumbuh. Tiga langkah—
—dan ia jatuh ke depan, tepat ke pelukan ayahnya, yang menangkapnya sambil jatuh berlutut, dan keduanya terguling di karpet dalam tawa yang membuat seluruh rumah bergetar.
"Tiga langkah!" seru Qiandra.
"Dua setengah!" bantah Nathan dari bawah tumpukan anaknya. "Tiga itu kalau sampai berdiri! Ini jatuh!"
"Jatuh ke pelukan bapaknya itu namanya tiga langkah," kata Bi Umi, dan karena ini rumah ini, pendapat Bi Umi adalah keputusan final yang tidak bisa banding.
Malam itu, setelah Aira tidur—kelelahan oleh kemuliaan tiga langkahnya—Nathan dan Qiandra duduk di teras. Hujan baru saja berhenti. Tanah taman basah dan berbau seperti permulaan. Di meja kecil di antara mereka: kopi untuknya, lemon tea tiga sendok gula untuknya, dan sepasang cangkir itu sudah sedemikian menjadi bagian dari pemandangan sehingga Bi Umi tidak pernah lagi bertanya siapa minum apa.
Qiandra menatap taman yang gelap, ayunan kayu yang basah, spanduk-spanduk yang tersimpan rapi di gudang bekas kamar—gudang yang sekarang menjadi arsip kecil kehidupan mereka. Ia diam cukup lama, sampai Nathan menoleh.
"Mikir apa?"
"Gue mau ngomong sesuatu," kata Qiandra. "Dan gue udah nyiapin ini lama banget. Jangan ketawa."
"Gue nggak pernah ketawa kalau loe serius."
"Loe selalu ketawa."
"Oke, gue usaha."
Qiandra menarik napas. Ia menatap suaminya—pria yang dulu ia kenal sebagai bos yang dingin, yang menawarinya pernikahan seperti menawari kontrak, yang duduk di kursi roda selama dua tahun dan tidak pernah sekalipun berhenti menjadi utuh. Ia ingat hari pertama, bertahun-tahun lalu, di ruang kerja itu, ketika pria ini mengatakan sesuatu yang saat itu terdengar seperti strategi dan belakangan terbukti sebagai sumpah.
"Dulu," kata Qiandra, "loe pernah bilang sama gue. Perasaan loe ke gue itu seperti angsa. Satu, dan untuk selamanya."
Nathan mengangguk pelan. Ia ingat. Tentu ia ingat—kalimat itu adalah kalimat yang mempertaruhkan segalanya, kalimat yang ia ucapkan sebelum tahu apakah ada yang akan menangkapnya.
"Waktu itu gue nggak bisa bales," lanjut Qiandra. "Bukan karena gue nggak ngerasain. Tapi karena gue nggak ngerti. Gue pikir cinta itu yang kayak di sinetron—yang gemuruh, yang bikin orang teriak-teriak di bandara. Gue butuh…" Ia tertawa kecil, menatap cangkirnya. "Gue butuh kursi roda, rumah sakit, bopong-bopongan, lemon tea yang keasinan, papa loe yang kehujanan di teras kita, surat dari Samarinda, empat puluh dua langkah, dan satu bayi yang suaranya kayak pemimpin demo… buat ngerti apa yang loe omongin waktu itu."
Nathan tidak bergerak. Hujan menetes sisa dari atap teras, satu-satu, seperti rumah itu sendiri sedang mendengarkan.
"Sekarang gue ngerti," kata Qiandra. Ia mengangkat wajah, dan matanya—mata yang sama yang dulu menatap lamaran itu dengan kewaspadaan—sekarang menatap dengan seluruhnya. "Cinta itu bukan yang gemuruh. Cinta itu yang tinggal. Yang ngitungin langkah. Yang bikinin minuman tanpa ditanya. Yang milih buat pulang, tiap hari, ke orang yang sama."
Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan suaminya di atas meja kecil itu.
"Jadi ini jawaban gue. Telat bertahun-tahun, tapi gue orangnya memang telat kalau soal ngomong." Suaranya bergetar, tetapi tidak jatuh. "Perasaan gue ke loe juga seperti angsa, Nathan. Satu. Dan untuk selamanya."
Nathan menatap istrinya untuk waktu yang lama. Dan pria yang pernah menghadapi ruang rapat penuh musuh, yang pernah merangkak keluar dari jurang bernama lumpuh, yang pernah berdiri empat puluh dua langkah melawan vonis seluruh dokter di dunia—pria itu menangis, di terasnya sendiri, dengan tenang, seperti orang yang akhirnya tiba di rumah setelah perjalanan yang sangat jauh.
"Loe tahu," katanya akhirnya, suaranya kasar, "gue tungguin itu sejak hari pertama."
"Gue tahu."
"Worth it."
"Gue tahu."
Mereka tertawa di sela-sela air mata—tawa kecil, tawa orang yang sudah tidak perlu membuktikan apa-apa pada siapa-siapa. Dari dalam rumah, monitor bayi berbunyi: Aira bergumam dalam tidurnya, lalu diam lagi, seolah ikut menyimak dan merasa puas.
"Besok kita mulai latihan lagi," kata Nathan, menyeka wajahnya. "Dia baru bisa tiga langkah. Target berikutnya: lorong penuh."
"Loe dan target loe."
"Mas Dodi yang nurunin. Itu penyakit keturunan profesi."
"Kalau lorong penuh beres, target berikutnya apa? Lari maraton?"
"Nggak." Nathan menatap taman yang basah, ayunan kayu yang menunggu pagi. "Target berikutnya: nemenin dia jalan ke mana pun dia mau. Sampai dia nggak butuh ditungguin lagi. Terus tetap nungguin."
"Itu target yang nggak bisa dicoret dari papan tulis, Bang."
"Memang," kata Nathan. "Yang paling penting selalu gitu."
Dan malam itu, di teras sebuah rumah kecil di ujung komplek—teras yang pernah menjadi ruang sidang keluarga, ruang menangis, ruang tunggu, ruang pulang—dua orang duduk berdampingan hingga larut, cangkir-cangkir mereka menghangat di tangan, sementara di kamar kuning di dalam rumah, seorang anak kecil tidur dengan dua tangan terangkat seperti sayap, bermimpi tentang langkah-langkah yang belum ia tempuh, di dunia yang sudah diperjuangkan untuknya.
Jauh di suatu tempat, di danau yang tidak pernah mereka kunjungi, sepasang angsa berenang berdampingan seperti selalu dilakukan angsa: satu di samping satu, melingkar di air yang tenang, tidak buru-buru, tidak berpisah, karena begitulah mereka diciptakan—satu, dan untuk selamanya.
Seperti mereka.
Seperti romansa angsa.
…
TAMAT