AKU berjalan lunglai menuju kubikel.
"Ya Tuhan, gue kena damprat Bu Sandra." Aku kembali ke mejaku, setelah keluar dari ruang meeting menemui manajer marketing yang terkenal killer itu.
"Kenapa, Sha?" tanya Mbak Lucy khawatir, kepalanya menyembul di balik kubikel tepat di sebelahku.
"Ini Mbak, gara-gara kandidat yang mau di-interview batal hadir. Abis deh gue dimaki-maki Bu Sandra." Aku menenggelamkan kepala ke atas meja, lalu kuentak-entakkan kaki saking kesalnya. Bagaimana tidak, sudah tiga kandidat yang batal di-interview oleh Bu Sandra. Entah apa yang terjadi, seolah semesta telah berkonspirasi untuk membuatku berada dalam masalah. Atau mungkin mereka tahu secerewet apa calon bosnya nanti?
It's a bad mistake. Tentu semua ini bukan sengaja, bukan juga salahku. Ya Mana kutahu kalau tiba-tiba calon karyawan itu batal hadir. Padahal mereka sudah melakukan psikotes dan interview dua hari yang lalu oleh pihak divisiku. Kenapa giliran tes dengan user, mereka malah tidak bisa hadir? Dua tahun kurang dua bulan bekerja di sini cukup menguras emosi serta tenagaku, lama-lama tensiku bisa naik dengan drastis.
"Wah Bu Sandra, cari mati lo!" Mbak Lucy menimpali, sembari tangannya mencomot keripik kentang di dalam toples kecil yang selalu tersedia di kala dirinya butuh camilan.
Pasalnya Mbak Lucy juga pernah menjadi korban amukan Bu Sandra. Saat itu –Miss Killer begitu sebutan kami untuknya— komplain, dan mengatakan bahwa dia belum mendapatkan payslip. Padahal payslip tersebut sudah diberikan kepada Intan, dan adminnya itu sudah menaruh tepat di atas meja kerja Bu Sandra.
Yah, mungkin saja tertumpuk dengan berkas lain atau terselip di suatu tempat. Dan seminggu kemudian, salah satu staf di divisi marketing bercerita tentang kebenaran ceritanya. Mbak Lucy selaku korban salah amukan tentu saja merasa naik pitam. Namun apa mau dikata jabatan yang berbicara, kamu tidak bisa apa-apa seolah masalah tersebut dianggap sebagai angin lalu.
"Ya makanya nih Mbak, siap-siap dapet komplain deh." Aku berujar pasrah.
Extension-ku berbunyi dan kulihat layar yang memunculkan nomor ruangan si Bos, pasti ia ingin membahas masalah ini. Jantungku bertalu-talu, takut disemprot oleh Pak Cakra. Berntung pekerjaanku yang lain sudah selesai, paling tidak ia bisa lebih ramah. Ingat, itu hanya sebuah harapanku.
Aku berdiri meneliti kembali setelanku karena rok selututku sedikit tersingkap setelah duduk tadi, kemudian mengikat kembali rambutku agar terlihat tidak begitu berantakan.
Langkah kakiku segera membawa untuk berjalan ke sebuah ruangan menghadap Pak Cakra. Ruangannya tidak jauh hanya di belakang kubikelku, setelah mengetuk pintu ruangannya aku masuk ke dalam. Si Bos langsung duduk tegak saat mengetahui kehadiranku di hadapannya. Matanya memicing memperhatikan penampilanku. Aku mulai waspada.
"Bapak manggil saya?" Aku berbasa-basi, ya barangkali Pak Cakra bukan mau membahas masalahku dengan Bu Sandra.
"Kamu ada masalah apa lagi dengan Bu Sandra?"
See, he knows what I mean. Tatapannya seakan menusuk tepat ke jantungku.
Bosku ini sebenarnya baik hati, sering mentraktir anak buahnya. Bukan hanya saat ia ulang tahun saja, di hari spesial tertentu pun Pak Cakra sering menyempatkan waktu dan uangnya untuk kami.
Tapi, jangan coba-coba membuat kesalahan atau menunda-nunda pekerjaan. Masalahnya Pak Cakra akan berubah cuek, kami tidak akan ditegur selama berhari-hari. Akibatnya tahu sendiri, pekerjaan akan sedikit tertunda karena lelaki itu seolah-olah jual mahal ketika kami meminta tanda tangan. Betul sekali saudara-saudara, Pak Cakra itu suka ngambek. Mirip cewek 'kan. Nah, karena kepribadian dan jiwanya seperti wanita, Si Bos itu sangat perhatian. Itu sih salah satu alasanku masih betah berada di perusahaan ini, khususnya di divisi HRD.
I Gede Cakra Wicaksono, lelaki campuran Bali dan Jawa ini berusia 36 tahun. Pak Cakra sudah delapan tahun bekerja di perusahaan ini. Ia menjabat sebagai manajer human resources of development, mempunyai lima bawahan termasuk diriku. Lelaki single yang mengaku punya tunangan itu selalu disiplin, ramah, loyal pada bawahan namun sering ngambek seperti yang aku ceritakan sebelumnya.
"Itu Pak, calon kandidat yang mau di-interview Bu Sandra batal hadir." Aku menjawab dengan sangat hati-hati, takutnya Pak Cakra marah dan menganggapku hanya mencari alasan saja.
"Kalau begitu kamu segera buka situs online, cari yang benar-benar qualify." Telunjuk besar Pak Cakra menunjuk-nunjuk ke arahku, seakan memberitahukan agar aku benar-benar mengerti ucapannya.
"Baik Pak, nanti saya kerjakan."
"Kalau bisa secepatnya ya, Sha. Kamu tahu ‘kan Intan tiga minggu lagi cuti hamil? Kalau sampai kelamaan, bagaimana dia bisa mengajari anak baru?" Pak Cakra memberi jeda pada kalimatnya. "Memangnya kamu mau diperbantukan ke marketing?"
"Ih jangan dong Pak. Nanti Bapak nggak ada yang bantuin kalau saya dimutasi," tolakku cepat seraya tangan terangkat ke udara memberikan gesture menolak.
"Ya sudah makanya cepat cari yang sesuai dengan permintaan Bu Sandra!"
"Masalahnya Pak, Bu Sandra minta kriterianya lumayan ribet." Aku mengatakan secara gambling. Semoga Pak Cakra tidak memarahiku tentang kejujuran yang kukatakan ini.
"Memang seperti apa yang dia minta?" Pak Cakra penasaran juga ternyata.
"Bu Sandra tuh maunya laki-laki yang masih single, umurnya dibawah 30 tahun, minimal S1, pekerja keras, cekatan, rumahnya di daerah Jakarta, dan satu lagi siap bekerja secepatnya plus—" Belum sempat aku melanjutkan cerita, Pak Cakra menatapku tak percaya seolah ia menganggapku hanya mengada-ada.
"Kok Bu Sandra minta laki-laki ya? Intan ‘kan perempuan," katanya ikutan berpikir.
"Saya kurang tahu alasannya, Pak," jawabku tersenyum datar.
"Itu serius qualification-nya Bu Sandra, Sha?"
"Serius, masa saya bohong, Pak." Aku ikut serius menatap Pak Cakra.
"Kok mirip kriteria untuk calon suami ya?" komentarnya. Aku terkikik sebentar karena tidak tahan untuk mengeluarkan kegelian di dalam diriku. "Ya sudah kamu segera kerjakan sana. Awas saja kamu kena komplain lagi, saya tidak akan mengajak kamu makan di Hanamasa!"
"Dih, si Bos bisanya ngancem. Iya saya langsung kerjain, doain Pak supaya dapet pesanan dari Bu Sandra." Pak Cakra tersenyum sebentar sebelum aku meninggalkan ruangannya.
Setelah aku keluar dari ruangan Pak Cakra, teman satu timku tampak cemas memperhatikan raut wajahku. Mungkin mereka takut kalau aku kena semprot si Bos. Beruntung Pak Cakra tidak mengomel yang berlebihan, mungkin beliau sudah hafal dengan sifat manajer marketing itu.
"Gimana... Gimana...?" sembur Mbak Lucy ketika aku sudah duduk di kursiku.
"Ya nggak gimana-gimana Mbak, gue disuruh cari kandidat lagi buat Bu Sandra se.ce.pat.nya."
"Itu aja? Bos nggak ngamuk?" Aku mengangguk sembari membuka Microsoft Words. Jari-jari lentikku mengetikkan sebuah tulisan berisi kriteria calon kandidat admin marketing pesanan Bu Sandra untuk kusebar ke situs online.
"Gue harus cepet dapetin kandidat buat Bu Sandra biar Pak Cakra ngajak gue makan ke Hanamasa," kataku datar. Daya penglihatanku masih tetap fokus pada layar komputer.
"Apaan lo bawa-bawa Hanamasa?" Bagas yang baru duduk di kursinya menyambar ucapanku.
"Gue mau diajak Pak Cakra makan di Hanamasa," kataku sekali lagi.
"Wah curang Pak Cakra, masa gue nggak diajak?" Bagas tiba-tiba berubah mellow. Memang yah, itu anak kalau sudah mendengar pembahasaan tentang makanan bawaannya menyambar saja. Celamitan deh!
"Apaan, orang baru wacana juga," sahutku menatap ke arah Bagas yang sedang menambah kertas pada mesin printer.
"Oh kirain udah fixed," cicitnya. "Eh katanya lo tadi kena tegur Bu Sandra, Sha?" Bagas membahas kembali luka di hatiku.
"Iye, kenapa?" tantangku.
"Ah udah biasa itu mah, nggak usah dipikirin, Sha. Enjoy your own job desk, daripada lo stres sendiri nantinya," katanya menceramahiku. Bagas usianya lebih muda dua tahun dariku, namun terkadang lelaki itu bisa juga bersikap bijaksana selayaknya orang tua.
"Lagi pada ngomongin apaan nih?" Mas Galen datang lalu duduk di kursinya.
"Biasa Miss Killer," sungut Bagas menyahut.
"Bu Sandra, kenapa lagi?" Mas Galen mulai terlihat penasaran.
"Itu si Ansha habis kena tegur." Lagi-lagi Bagas menimpali, biar saja seperti itu. Terkadang lelaki itu ada gunanya juga. Lain kali biar kuangkat Bagas jadi juru bicara saja, supaya aku tidak menghabiskan banyak energi untuk menjawab pertanyaan orang lain.
Sepertinya itu ide yang bagus, perlu kupikirkan.
***
Kantin adalah tempat kedua setelah kubikel untuk rumpi-rumpi manja bersama timku. Meski hari ini formasi kami tidak lengkap. Mas Galen makan di luar karena harus pergi ke rental, sementara Mbak Lucy sudah brunch karena harus segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Biasanya kami membawa bekal dan makan di kubikel, namun secara kebetulan hari ini semuanya tidak membawa. Aku memesan soto ayam. Bagas memesan nasi plus lauk pauk sementara Selvi makan gado-gado tanpa nasi. Niatnya sih mau diet dalam rangka tetap langsing menjelang hari pernikahannya.
"Memang Mbak Intan kapan cutinya sih?" tanya Bagas sembari menyesap es jeruknya.
"Kata Pak Cakra tiga minggu lagi, bener nggak Sel?" Aku melirik ke arah Selvi yang sedang sibuk melihat ponselnya, mengabaikan gado-gadonya yang baru dimakan beberapa suap.
"Iya tanggal tiga puluh dia udah cuti," jawab Selvi tanpa menatap kami.
"Sekarang tanggal satu berarti bener tiga minggu lagi, Gas. Memangnya kenapa?"
"Kalau belum sampai ada gantinya gawat juga dong, gue bisa langsung berhubungan sama dia. Makanya Sha, buruan cari pengganti Mbak Intan!" Ucapan Bagas terdengar menggebu-gebu.
"Iya gue juga lagi usaha nyari, tapi ‘kan lo tahu sendiri kriteria yang dia minta itu banyak banget."
"Iya juga sih," cicit Bagas. "Mungkin Miss Killer sekalian nyari calon suami kali ya," ujar Bagas sembari terkikik.
Sandra Claudia Hapsari, wanita tegas dan disiplin berusia 37 tahun. Beliau sudah sebelas tahun bekerja di perusahaan ini, maka tak heran sekarang menjabat sebagai manajer marketing yang paling disegani. Mbak Intan admin terlama yang pernah bekerja dengannya. Admin sebelumnya hanya bisa bertahan selama enam bulan, itu sudah bisa dikatakan jago karena tahan menghadapi wanita yang dijuluki sebagai Miss Killer itu.
Mungkin karena Mbak Intan sudah menikah, jadi daripada jobless lebih baik ia bekerja. Lagi pula Mbak Intan sudah menjadi karyawan tetap sejak satu tahun yang lalu, mungkin hal itu menjadi salah satu pertimbangan baginya. Kami berpikir, sepertinya hanya Mbak Intan yang bisa 'menjinakkan' Bu Sandra selama ini.
Ponselku berdering, kulihat nama Mbak Lucy tertera di sana. Aku menyesap es jerukku sampai tandas. Setelah itu menggeser tombol hijau pada layar, penasaran juga ada apa Mbak Lucy meneleponku.
"Halo Mbak, ada apa?"
"Lo cepetan ke sini, Sha! Bu Sandra nyariin lo nih."
"Oh iya Mbak, gue segera ke sana."
***