HARI ini hectic sekali bagiku, selesai memasang iklan lowongan kerja dua hari yang lalu ternyata responsnya sangat bagus. Banyak sekali surel yang masuk dan kebanyakan adalah curriculum vitae, belum lagi lamaran yang dikirim via ekspedisi lumayan menumpuk di atas kerja mejaku. Lantas seharian ini aku menyortirnya, kemudian melaksanakan pemanggilan untuk psikotes dan interview kerja. Setelah ini hanya tinggal menunggu dua puluh orang yang sudah kuhubungi itu, adakah yang sesuai dengan kriteria bagi divisi yang membutuhkannya?
Ada empat divisi yang membutuhkan karyawan baru, masing-masing dari mereka minta tiga orang. Aku tinggal menunggu hasilnya kira-kira siapa yang berhasil lolos sesuai kualifikasi yang telah ditetapkan oleh perusahaan, dilanjutkan wawancara dengan user yang berkaitan.
Sebagai orang yang bertugas merekrut karyawan baru, aku harus lebih dulu mengetahui calon karyawan yang benar-benar menginginkan pekerjaan. Tentu semua orang membutuhkan pekerjaan, namun aku harus lebih jeli melihatnya. Ada yang pernah mendengar istilah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Namun bisakah istilah tersebut berlaku ketika kamu akan diwawancara kerja?
Jika kamu datang terlambat saat wawancara, HRD akan menggunakan kesempatan ini untuk menilai bagaimana kamu menangani kejadian tidak terduga dan apa yang akan kamu lakukan untuk menanganinya?
Jika kamu datang terlambat, bukan berarti kesempatan untuk diterima pekerjaan hilang total. Siapkan dirimu dan hadapi situasi tersebut dengan profesional supaya bisa menyelamatkanmu saat interview.
Aku lebih menyukai pelamar yang menginformasikan keterlambatannya, tidak masalah bagiku mereka bertanya adanya kemungkinan untuk reschedule interview. Daripada harus memberikan alasan yang tidak rasional seperti macet misalnya, klise. HRD tidak akan mau tahu alasan seperti itu.
Dari proses interview itulah, perusahaan dapat mengetahui kepribadian calon karyawan lebih dalam dan mencari tahu apakah calon karyawan tersebut cocok dengan posisi yang dilamar atau tidak. Bagaimana kamu menempatkan diri ketika berada di bawah tekanan, dan bagaimana caramu menangani sebuah masalah? Semua itu dapat menjelaskan siapa dirimu yang sesungguhnya.
Aku teringat adegan di film The Pursuit of Happyness, Chris Gadner mengalami kejadian yang tidak menyenangkan saat akan menghadiri interview, yakni pakaian yang ia kenakan sangat tidak sesuai untuk dipakai wawancara kerja. Walaupun begitu, ia bisa membuktikan bahwa dirinya bisa beradaptasi dan mengesankan calon rekan kerjanya. Aku salut dengannya.
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul lima sore, sebuah alarm bagi kami untuk segera berkemas agar bisa pulang serta beristirahat. Begitu cepat sekali waktu berlalu. Namun itu tidak berlaku bagi timku, kami terbiasa dengan overtime meski tidak ada upah tambahan. Paling cepat bisa sampai rumah jam tujuh malam, itu pun sudah bersyukur sekali.
Timku ada lima orang, kami semua di bawah pimpinan Pak Cakra selaku manajer Human Resources of Development. Ada Mas Galen dan Mbak Lucy yang sudah menyandang supervisor. Mas Galen mengurusi bagian general affair dan di bawahnya ada Bagas selaku warehouse. Sementara Mbak Lucy mengurus payroll dan Selvi ada di bagian welfare atau biasa dikenal kesejahteraan karyawan seperti mengurusi iuran pensiun, klaim asuransi, bpjs dan lain sebagainya. Sedangkan recruitment, aku yang meng-handle seorang diri.
Rasa-rasanya hampir setiap hari aku nyaris tidak bertemu dengan sunset. Terkadang jika terpaksa hari Sabtu pun masuk, aku sampai harus mengatur ulang jadwal berkumpul dengan teman-temanku.
Kalau begini terus bagaimana caranya aku bisa punya pacar? Kehidupan sosialku saja sulit kudapatkan karena Senin hingga Sabtu aku kencan dengan berkas kantor, sementara hari Minggu aku hibernasi di kasur. Menyedihkan.
***
"Sha, kamu sudah selesai menyiapkan bahan untuk psikotes besok belum?" Pak Cakra menghampiriku dengan tas yang sudah bertengger di lengannya.
"Sudah Pak, ini saya lagi print out untuk soal-soalnya." Aku menyahut sembari melirik kembali alroji di tangan kiriku. Waktu sudah menunjukkan pukul enam.
"Ada berapa banyak besok yang tes?"
"Dua puluh orang, Pak," jawabku dengan penuh keyakinan.
"Oke deh, jangan lupa kandidat untuk Bu Sandra juga dicari loh. Segera!" Pak Cakra kembali mengingatkan, seolah aku akan melupakan tugas tersebut. Padahal aku terus mencarinya sampai pusing rasanya kepalaku. Semoga di antara peserta yang mengikuti psikotes besok akan ada yang cocok untuk admin Bu Sandra.
"Siap Bos," sahutku cepat sembari tangan kanan kubuat gesture hormat.
"Yang lain lagi pada ngerjain apa nih, kok belum pada pulang?" Pak Cakra mengedarkan pandangannya ke sekeliling kubikel. Ia mendekat ke kubikel Mas Galen tepat di depanku.
"Biasa Bos lagi bikin laporan," sahut Selvi santai.
"Jam segini baru input laporan? Dari pagi kamu ke mana saja, Sel?" Pak Cakra dan segala kenyinyirannya. Ia pikir kerjaan kami hanya membuat laporan saja? "Oh iya Sel, kamu sudah urus dana pensiunnya Pak Lesmana? Jangan lupa loh itu!" Pak Cakra mengingatkan seraya menatap tajam ke arah Selvi.
"Siap Pak, on process." Selvi menyahut dengan senyum datar.
"Nah Lucy, apa kamu sudah input SPD punya Pak Sammy yang kemarin belum masuk itu? Jangan lupa dimasukkan ke gaji bulan ini ya!" Giliran Mbak Lucy yang mendapatkan wejangan.
Pasalnya bulan kemarin Mbak Lucy melakukan kesalahan karena lupa meng-input dana SPD (Surat Perjalanan Dinas). Di kantor kami memang dana perjalanan dinas akan cair setelah melakukan perjalanan tersebut, jadi karyawan harus rela memakai uang pribadinya terlebih dahulu setelah itu baru perusahaan akan menggantinya. Cukup memprihatikan bukan?
"Siap Bos, sudah saya perbaiki kok. Saya pastikan dananya masuk bulan ini." Mbak Lucy menyanggupi dengan penuh keyakinan.
"Bagus kalau begitu. Nah kalau lo, Gas, lagi ngerjain apa?" Bagas yang ditanya refleks berdiri dari tempat duduknya. "Kemarin divisi accounting minta kertas multi-ply. Sudah belum, Gas?"
"Belum Bos, PO-nya belum ditandatangani sama Bu Anggi, hari ini beliau cuti jadi saya belum follow up lagi." Pak Cakra mengangguk paham kemudian beralih ke Mas Galen yang sedang menyesap kopi hitamnya.
"Lo juga Len, kontrak sama rental Lintang Utama sudah mau habis loh. Nanti tolong diperpanjang lagi ya, harga mereka lumayan soalnya dibandingkan rental lain."
"Oke Bos, suratnya sudah siap tinggal gue atur pertemuan antara vendor dengan Bos kapan ada waktunya."
Mas Galen termasuk karyawan kesayangan Pak Cakra, mereka berdua dari alumni kampus yang sama dan keduanya sudah master. Mas Galen lebih tua satu tahun dari Pak Cakra. Tapi bedanya, Mas Galen sudah menikah dan Pak Cakra masih santai melajang.
"Wah bagus kerja lo, gue suka nih pertahankan ya. Kalian semua, contoh nih Galen, kalau kerja harus gerak cepat dan punya inisiatif," serunya memandang kami semua.
Tuh 'kan sebegitu sayangnya Pak Cakra kepada Mas Galen.
"Kalau bagus tambahin bonus dong Bos," cengir Mas Galen sembari melirik Pak Cakra.
"Ah gaji lo bukannya hampir ngalahin gue? Pakai acara minta bonus segala. Lagi pula setiap tahun 'kan kalian dapat bonus," ujar Pak Cakra mantap.
"Itu 'kan bonus dari perusahaan Bos." Lagi-lagi Mas Galen berkomentar.
"Memang lo kerja untuk siapa? Untuk perusahaan 'kan?" Nah kali ini Mas Galen diam, bingung mau menjawab apa.
Bos selalu benar Mas, jangan berusaha membantah!
"Ya sudah gue pulang dulu deh, jadi kelamaan 'kan gara-gara kalian ajak ngobrol."
Perasaan tidak ada yang mengajak ngobrol, bukankah tadi lelaki itu justru mengingatkan kami untuk bekerja? Setelah itu Pak Cakra pamit kepada kami semua dan mulai meninggalkan ruangan.
"Oh iya satu lagi." Si Bos kembali berbalik badan dan melayangkan pandangan ke arah kami. "Kalian jangan kebanyakan ngeluh, kerja itu harus loyal. Pokoknya lakukan yang terbaik untuk perusahaan. Udah saya pamit ya!" tuturnya, setelah itu ia melenggang menuju pintu keluar.
Apa-apaan ini, kami disuruh loyal? Selama ini overtime masih belum dikatakan loyal.
"Loyal?" Aku mengulang kata-kata Pak Cakra.
"Loyalitas tanpa batas, Guys," sahut Mas Galen.
"Menurut lo loyalitas itu harus sebanding dengan gaji nggak sih?" tanya Bagas memandang ke arahku.
"Oh jelas dong Gas, gue nggak muna ya kerja itu pasti memperhitungkan gaji. Iya nggak?" Aku balas menatap Bagas yang terlihat masih menunggu jawabanku. "Kita pasti lihat seberapa besar 'kualitas dengan kuantitas' yang ada. Lo tentu nggak mau dong kalau besar pasak daripada tiang? Dalam artian bahwa kita pasti melihat pekerjaan yang kita lakukan haruslah sebanding dengan gaji atau award yang kita dapatkan setelahnya. Kalau udah sesuai antara pengorbanan dengan hasil yang diperoleh, barulah kita bisa pertimbangin soal loyalitas."
"Gue setuju sama Ansha," sahut Mbak Lucy.
"Tapi loyalitas yang gue pahami itu nggak melulu soal gaji, Guys. Loyalitas itu sebuah kualitas perasaan di mana kita melakukan suatu hal berdasarkan dari hati, nggak ada iming-iming untuk mendapatkan balasan atas pekerjaan yang kita lakukan." Bagas menimpali pernyataanku.
"Iya sih gue pernah baca tentang seorang Abdi Dalem yang ada di Jogja," sahutku cepat.
"Kayak Mbah Maridjan itu ya?" tanya Selvi.
"Betul," jawab Mbak Lucy.
"Memang semua orang punya pendapat yang berbeda soal istilah loyal ini. Masih ada juga orang yang mencintai pekerjaan mereka meski gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu nggak mencukupi kebutuhannya, bahkan bisa dibilang jauh dari kata cukup. Tapi mereka tetap mencintai pekerjaannya dan loyal menjalani semua. Cuma gue selaku manusia biasa kayaknya nggak bisa seperti itu," kataku sembari menyesap latte-ku.
"Itu karena Abdi Dalem masih percaya dengan keberkahan dan wahyu dari para raja, setahu gue itu yang masih mereka yakini. Jadi, walaupun mereka nggak mendapatkan kompensasi finansial dari pekerjaan yang dilakukan, ya mereka akan tetap happy dan bersyukur. Setiap orang punya pendapat masing-masing lah dengan istilah loyal ini, dan gue juga sependapat dengan asumsi Ansha. Kita manusia yang masih butuh duit, Guys," sahut Mas Galen santai.
Pembahasan timku memang seperti ini, kadang bisa bercanda sampai terasa sangat gila. Tapi saat ada pembahasan yang serius seperti ini, kami bisa menjadi bijak dan sok pintar.
Aku berdiri mencoba merenggangkan otot-ototku yang kaku, ternyata seharian duduk malah membuat tubuh terasa lelah. Sembari menunggu kertas-kertas yang masih dalam proses mencetak, aku pergi ke toilet.
Nyatanya, tidak hanya divisiku yang sering overtime. Aku melihat ke pintu kaca yang berada di seberang ruangan kami dan di sana memperlihatkan aktivitas divisi purchasing. Masih ada tiga orang di dalam, itu yang terlihat oleh mataku.
Memang loyalitas tidak bisa diukur hanya dengan uang dan sebagian orang masih rela melakukan lembur. Namun, apakah mereka melakukannya dengan ikhlas atau hanya karena tuntutan pekerjaan? Who knows.
***