Dalam gelap, suara adalah satu-satunya peta.
"Pak Surya." Renata berusaha menjaga suaranya stabil, sambil tangannya meraba mencari Damar. Jemarinya menemukan lengan jas penyidik itu, dan ia merasakan Damar bergeser pelan, menempatkan tubuhnya di antara Renata dan arah suara. "Apa pun yang Bapak rasa sedang Bapak lakukan, ini tidak akan menghapus apa-apa. Bapak hanya menambah nama di daftar yang sama."
"Daftar yang sama?" Suara Pak Surya bergerak, perlahan, dari kiri ke kanan. Ia mengelilingi mereka di kegelapan. "Bu Dokter, saya menyimpan daftar yang sebenarnya. Daftar anak-anak yang mati di tangan saya di IGD karena pengemudi mabuk. Daftar pasien yang kejang sampai mati karena obat palsu. Daftar perempuan yang dirusak lalu pelakunya pulang tersenyum. Saya yang memegang tangan mereka saat mereka pergi. Saya yang menutup mata mereka. Lalu saya melihat para pembunuh itu bebas. Hukum Anda yang punya daftar kosong, Bu. Bukan saya."
"Saya tidak membela mereka." Renata berbicara ke arah suara, mengulur waktu, otaknya berpacu menghitung jarak ke pintu, ke meja, ke apa pun yang bisa menjadi senjata. "Tapi Bapak membunuh Lestari. Dia perawat seperti Bapak dulu. Dan Bahrudin, dia cuma polisi yang malas, bukan pembunuh. Daftar Bapak mulai mengembang, Pak. Itu yang selalu terjadi. Garisnya bergeser, sampai siapa pun yang menghalangi jadi pantas mati."
Hening sejenak. Renata tahu ia menyentuh sesuatu.
"Yoga melihat saya menyuntik Lestari." Suara itu lebih dekat sekarang. "Dia mengikuti saya. Saya tidak ingin membunuhnya. Tapi dia mau bicara pada polisi." Jeda. "Bahrudin... Bahrudin akan menutup kasus Anda, Bu. Dia akan mengubur semuanya, dan korban-korban itu akan mati untuk kedua kalinya, dalam berkas yang ditutup. Saya hanya memberinya tempat yang pantas."
"Dan kami?" Damar bicara untuk pertama kalinya, suaranya rendah, terkendali. "Anda mengunci kami di sini. R-4 dan R-5?"
"Tidak." Suara Pak Surya melembut, dan justru itu yang membuat Renata merinding. "Bu Renata bukan untuk dibunuh. Bu Renata adalah satu-satunya yang membaca. Tanpa pembaca, sebuah pesan mati. Saya butuh dia hidup. Tapi Anda, Pak Damar..." Suara itu berhenti tepat di belakang mereka. "Anda mau menutup mulutnya."
Renata mendengar gerakan cepat—gesekan kain, langkah—dan ia bertindak tanpa berpikir. Ia menyambar buku catatan tebal dari meja yang ia ingat posisinya, lalu mengayunkannya keras ke arah suara. Buku itu menghantam sesuatu. Ada erangan, langkah goyah.
"Lari!" Renata menarik lengan Damar ke arah pintu.
Tetapi pintu terkunci. Renata membanting bahunya ke baja dingin, percuma. Di belakang mereka, dalam gelap, ia mendengar Pak Surya bangkit, dan kali ini ada bunyi lain—gemerincing logam. Sesuatu yang tajam.
"Damar, senter!"
Damar menyalakan senter ponselnya. Berkas cahaya menyapu ruangan, menangkap sosok Pak Surya yang berdiri tiga meter dari mereka, tenang seperti biasa, di tangannya sebuah pisau bedah berkilau. Wajah yang selalu ramah itu kini tanpa ekspresi, seperti wajah jenazah.
"Pak Damar," kata Pak Surya, melangkah maju. "Anda tahu, leher itu hanya butuh sayatan dua sentimeter di tempat yang tepat. Saya tahu tempatnya. Saya sudah melakukannya ribuan kali, dalam pikiran saya."
Damar mendorong Renata ke belakangnya, satu tangan meraih ke pinggang, ke tempat di mana seharusnya ada senjata—dan Renata baru sadar Damar tidak membawa pistolnya. Mereka datang diam-diam, tanpa prosedur, tepat seperti yang diinginkan Pak Surya.
Renata berpikir cepat. Ia memang tidak punya senjata. Tetapi ia tidak datang sepolos yang Pak Surya kira. Pengaman mati itu—janji ke pengawas piket—seharusnya sudah lewat tenggatnya. Mereka terjebak di sini jauh lebih lama dari yang ia rencanakan, dan ia tidak pernah bisa menelepon untuk membatalkannya, sebab di balik beton basement ini ponselnya hanya menunjukkan layar kosong tanpa garis. Kalau pengawas itu menepati ucapannya, tim sedang dalam perjalanan. Renata hanya perlu bertahan cukup lama.
Maka ia berjudi dengan satu hal lain. Ponsel masih di tangannya, layar senter menyala menerangi pisau bedah Pak Surya. Tanpa menurunkan cahaya itu, ibu jarinya bergerak di balik perangkat, menelusuri riwayat panggilan yang letak menunya ia hafal, melewati nomor pengawas piket yang tadi ia hubungi, turun ke satu entri yang ia cari—nomor meja kamar mayat, yang ia telepon tadi pagi saat Pak Surya mengabari jenazah baru. Ia menekan panggil. Ia tidak tahu apakah sambungan itu akan tembus di basement tanpa sinyal. Ia hanya tahu satu hal: ke mana pun nomor meja itu dialihkan malam ini, ia dialihkan ke ponsel orang yang sedang menjaganya, di ruangan ini juga.
Sedetik kemudian, ponsel di saku Pak Surya berdenting nyaring, memantul di ruang baja.
Pria itu berhenti. Untuk pertama kalinya, sesuatu retak di ketenangannya. Ia menatap ke arah Renata, lalu ke bawah, ke saku jasnya sendiri yang berbunyi membuka posisinya dalam gelap, mengkhianati setiap langkah yang tadi ia sembunyikan.
"Bapak mengajari saya membaca pergerakan dari satu suara," kata Renata, suaranya tersengal tetapi mantap. "Sekarang saya tahu persis Bapak berdiri di mana."
Detik itu juga, dari arah pintu, gerendel baja berderak. Lalu lampu menyala kembali—saklar utama, dari luar. Tenggat tengah malam sudah lewat tanpa kabar dari mereka, dan pengawas piket menepati janjinya: ia mengirim tim ke alamat yang ditinggalkan Renata. Di sudut langit-langit, kamera CCTV tua yang sempat Renata curigai itu kini menyala bersama listriknya, lampu merah kecilnya berkedip, lensanya berputar pelan ke arah meja kerja.
"Bapak merawat segalanya di ruang ini, kecuali satu kamera yang Bapak kira sudah mati," kata Renata. "Tapi yang mati hanya lampunya. Begitu listrik kembali, ia merekam. Bapak bilang Bapak memilih saya karena saya membaca. Bapak lupa satu hal, Pak Surya. Pembaca yang baik tidak cuma membaca. Dia menulis balasan, dan ia memastikan ada yang ikut membacanya."
Dari kejauhan, di balik pintu baja, suara langkah membesar. Banyak. Berlari menuruni tangga basement. Teriakan. Cahaya senter menyorot dari celah bawah pintu.
Pak Surya menoleh ke pintu, lalu kembali ke Renata, pisau bedah masih di tangannya. Senyum tipis—senyum yang sama yang menyapanya setiap pagi—muncul kembali di wajahnya.
"Kalau begitu," bisiknya, mengangkat pisau, "kita selesaikan bab ini sebelum mereka sampai."
Dan ia melangkah maju, tepat saat gagang pintu baja mulai diguncang dari luar.