Gagang pintu baja itu berderak. Bukan dari dalam, dari luar.
Renata berdiri menempel ke dinding pendingin R-2, jantungnya menabuh tulang rusuknya. Di tengah ruang, lampu langit-langit yang baru menyala membuat segalanya tampak terlalu jelas: lantai semen yang dipel licin, meja kerja penuh map, dan Pak Surya yang berdiri tiga meter dari Damar dengan pisau bedah terangkat setinggi bahu.
"Kalau begitu, kita selesaikan bab ini sebelum mereka sampai," kata Surya. Suaranya tetap pelan, seperti orang menjelaskan dosis obat kepada perawat baru.
Ia melangkah maju.
Damar tidak mundur. Damar maju.
Itu yang tidak diperhitungkan Surya. Pisau bedah dirancang untuk menyayat kulit yang diam, bukan menghadang tubuh yang menubruk. Damar menyambar pergelangan tangan Surya dengan kedua tangannya, mengarahkan mata pisau ke samping. Mereka jatuh ke lantai dalam pelukan yang ganjil, seperti dua orang yang saling memeluk dan saling membunuh sekaligus.
"Renata, pintu!" teriak Damar, suaranya tercekik.
Renata sudah bergerak. Ia menarik palang baja yang menutup dari dalam—pelaku ternyata mengunci ganda, dari dalam dan dari luar. Palang dalam berderit, lalu lepas. Dari luar, suara berteriak: "Mundur! Mundur dari pintu!"
Renata menjatuhkan diri ke samping. Pintu baja terhantam dari luar sekali, dua kali, lalu terbuka dengan bunyi besi yang memekik.
Cahaya senter membanjiri ruang. Empat, lima orang berseragam menyerbu masuk. Yang pertama adalah pengawas piket—wajah tegang, tangan menggenggam tongkat, mata mencari-cari dalam keremangan yang kini terang.
Di lantai, Surya dan Damar masih bergulat. Mata pisau bergeser, mencari celah. Renata melihat bilah itu menyentuh lengan kiri Damar dan menyayat—garis merah merekah di kain jas, lalu menebal.
"Lepaskan pisaunya!" Pengawas piket menubruk Surya dari belakang, menekan lehernya ke lantai. Dua petugas lain mengunci lengan pria itu. Pisau bedah terlepas, berdenting di semen, berputar dan berhenti tepat di dekat kaki Renata.
Ia tidak menyentuhnya. Bukti. Selalu bukti.
"Damar." Renata berlutut di sisi penyidik itu. Lengan kirinya basah, tapi sayatannya menyamping—dangkal, tidak menembus arteri. Renata menekan luka itu dengan telapak tangannya sendiri, keras. "Tetap sadar. Lihat aku. Lukanya tidak dalam. Kau dengar?"
"Aku dengar." Damar meringis, tapi matanya tajam. "Dia—dia hidup?"
Renata menoleh. Surya tertelungkup di lantai, tangan diborgol di belakang punggung, pipi menempel di semen. Ia tidak melawan lagi. Ia bahkan—Renata membeku—ia tersenyum.
"Hidup," kata Renata pelan. "Kita semua hidup."
Surya memutar kepala sedikit, mencari wajah Renata di antara kaki para petugas. "Itu," bisiknya, "yang penting, Bu Dokter. Bahwa Anda hidup."
Pengawas piket menariknya berdiri. Lampu indikator CCTV tua di langit-langit—yang tadi mati—kini berkedip merah. Menyala. Merekam. Renata mendongak ke arah lensa berdebu itu dan menyadari: alat yang dimatikan pelaku untuk menutupi jejaknya kini menjadi saksi yang akan menenggelamkannya.
"Bawa dia keluar," kata pengawas piket. "Jangan ada yang menyentuh meja itu. Tunggu tim forensik."
Mereka menggiring Surya melewati pintu baja, menaiki tangga sempit menuju basement timur, lalu naik lagi ke koridor tak terpakai. Renata mengikuti, masih menekan lengan Damar yang dipapah dua petugas. Di belakang mereka, ruang R-1, R-2, R-3 tertinggal terang-benderang—pendingin masih mendengung, jenazah Bahrudin masih terbaring di lemari R-3, map-map masih menumpuk di meja seperti perpustakaan kematian yang menunggu dibaca.
Di atas, di koridor utama RSUD Wijaya Kusuma, udara terasa berbeda. Bau antiseptik menggantikan bau dingin logam. Lampu neon yang biasa terasa terlalu hidup setelah kegelapan tadi.
Ambulans datang untuk Damar. Sebelum dinaikkan, ia mencengkeram pergelangan tangan Renata.
"Buku itu," katanya. "Buku catatan tebal di meja. Pastikan tim mengamankannya. Jangan biarkan hilang. Jangan biarkan siapa pun di dalam sistem ini menyentuhnya duluan."
Renata mengangguk. Tapi sesuatu menggigit di dalam dadanya, dingin dan tak hilang. Saat di basement tadi, sekilas, ia sempat membuka buku itu. Dan ia ingat: nama-nama di sana jauh lebih banyak daripada lima jenazah yang sudah jatuh.
Daftarnya belum selesai.