Surya ditahan di sel sementara Polres pada pukul dua dini hari. Renata tidak diizinkan masuk, tapi ia menunggu di ruang tunggu yang dingin sampai pagi, dengan tangan yang masih berbau darah Damar walau sudah dicuci tiga kali.
Damar dijahit tujuh jahitan di lengan kiri dan dipulangkan dari IGD menjelang subuh, dengan perban tebal dan perintah istirahat yang sudah pasti tidak akan dipatuhinya.
Pukul sembilan pagi, mereka diperbolehkan melihat interogasi pertama melalui kaca satu arah.
Surya duduk tenang di kursi logam, kedua tangan di atas meja, punggung lurus. Dua puluh tahun bekerja di rumah sakit telah mengajarinya cara duduk di ruangan yang dingin tanpa gemetar. Penyidik di hadapannya—bukan Damar; Damar diskors dari kasus ini secara teknis karena menjadi korban dan saksi sekaligus—membacakan tuduhan.
"Anda dituduh atas pembunuhan Aiptu Bahrudin. Anda ditemukan di tempat kejadian dengan senjata, bersama jenazah."
"Saya tidak menyangkal," kata Surya.
Penyidik itu berhenti, seolah tidak menyangka pengakuan datang secepat ini.
"Saya tidak menyangkal Bahrudin," ulang Surya, "dan saya tidak menyangkal yang lain. Hendra Saputra. Lestari Handayani. Arman Wijaya. Dokter Yoga Pratama." Ia menyebut nama-nama itu seperti membacakan daftar pasien jaga malam, satu per satu, tanpa jeda emosi. "Tuliskan semua. Saya menunggu lama untuk seseorang menuliskannya dengan benar."
Di balik kaca, Renata merasakan tengkuknya dingin.
"Lihat dia," bisik Damar. "Dia tidak membela diri. Dia bangga."
"Bukan bangga," kata Renata pelan. "Lebih buruk. Dia merasa benar."
Penyidik melanjutkan. "Anda mengaku membunuh lima orang."
"Saya mengaku mengembalikan lima orang ke tempat yang seharusnya." Surya menundukkan pandangan ke tangannya sendiri—tangan tua, jari-jari yang selama bertahun-tahun menutup mata orang mati, melipat tangan jenazah di dada, mencuci tubuh yang tak lagi bernyawa. "Anda tahu apa yang dilakukan seorang petugas kamar mayat, Pak? Setiap hari saya menutup mata orang. Mata yang sudah berhenti melihat. Tapi ada mata yang seharusnya ditutup sejak lama, dan tetap saja berkeliaran. Hidup. Bernapas. Berjalan di pasar. Saya hanya menutupnya."
Penyidik menatapnya lama, lalu menulis sesuatu.
Renata menggeleng pelan. Ada yang tidak beres. Bukan dari pengakuan—pengakuan itu lengkap, terlalu lengkap. Yang tidak beres adalah ritmenya. Surya menyebut lima nama dengan lancar, terlatih, seakan sudah lama menyiapkan kalimat penutup. Tapi malam tadi, di basement, ia tidak bertindak seperti orang yang ingin tertangkap. Ia mengunci pintu. Ia mengangkat pisau.
Orang yang ingin menyerahkan diri tidak mengunci pintu dari dalam.
"Dia menyiapkan ini," kata Renata. "Pengakuan ini. Seolah dia tahu hari ini akan datang dan ingin mengontrol bagaimana ceritanya ditutup."
"Penjahat yang tertangkap selalu ingin terlihat hebat," kata Damar.
"Tidak. Bukan itu." Renata menatap punggung lurus pria di balik kaca. "Dia menutup mata kita. Sama seperti dia menutup mata orang mati. Dia memberi kita lima jenazah supaya kita berhenti mencari yang keenam."
Damar memutar kepalanya menatap Renata. "Yang keenam?"
"Buku catatan itu." Suara Renata turun menjadi hampir bisikan. "Aku sempat membukanya, Damar. Lima nama yang dia akui—itu hanya halaman pertama. Di belakang ada lebih banyak. Nama-nama dengan tanda silang, dan nama-nama tanpa tanda silang."
"Tanda silang artinya sudah—"
"Sudah mati. Sudah selesai." Renata menelan ludah. "Dan yang tanpa silang... masih hidup. Masih menunggu giliran."
Di balik kaca, Surya mengangkat wajahnya, seolah mendengar—padahal mustahil mendengar. Ia menatap lurus ke arah cermin satu arah, ke arah tempat Renata berdiri, dan tersenyum tipis.
"Dia tahu kita di sini," kata Damar.
"Dia selalu tahu," kata Renata. "Itu sebabnya dia memilihku."