Buku catatan itu diamankan tim forensik, difoto setiap halaman, lalu disalin. Tiga hari kemudian Renata dan Damar mendapat izin memeriksa salinannya di ruang diskusi belakang lab patologi—markas tak resmi mereka, dengan papan tulis besar, kopi instan, dan jendela kecil yang menghadap ke parkiran belakang.
Damar menempelkan halaman demi halaman fotokopi ke papan. Lengannya masih diperban, tapi gerakannya sudah lebih lancar.
"Sampul depan, dia mulai tiga tahun lalu," kata Damar. "Persis setelah mutasi ke kamar mayat."
Renata membaca tulisan tangan Surya. Rapi, kecil, miring ke kanan—tulisan orang yang biasa mencatat dosis dan jadwal obat. Setiap entri punya pola yang sama: nama korban kejahatan di atas, lalu jenis kejahatan, lalu nama pelaku yang lolos hukum, lalu satu kalimat kesaksian. Sebagian besar entri berakhir dengan keterangan singkat: tempat dan cara korban kejahatan itu meninggal.
"Lihat ini," kata Renata, menunjuk satu kolom yang berulang. "Hampir semua korban kejahatan meninggal di IGD RSUD Wijaya Kusuma. Anak yang ditabrak. Pasien yang diberi obat palsu. Pasien yang jatahnya dijual. Mereka semua mati di tangan Surya, atau di depan matanya, saat dia masih perawat IGD."
"Dia menyaksikan akibatnya," kata Damar pelan. "Lalu dia melihat pelakunya berjalan bebas."
"Dan dia menyimpan setiap nama." Renata menyusuri daftar dengan jarinya. "Ini bukan catatan pembunuh, Damar. Ini catatan saksi. Catatan kemarahan yang ditahan tiga tahun sebelum meledak."
Damar menarik kursi dan duduk. "Berapa total nama pelaku di buku ini?"
Renata menghitung pelan, membalik halaman salinan satu per satu. Setiap nama pelaku—orang yang lolos hukum—ada yang dicoret dengan satu garis silang, ada yang tidak.
"Yang dicoret silang," kata Renata akhirnya, "lima. Arman, Hendra, Lestari." Ia berhenti. "Bahrudin dan Yoga ada di halaman terpisah, ditandai berbeda—mereka bukan 'penyakit', kata Surya. Mereka penghalang."
"Dan yang tidak dicoret?"
Renata mengangkat buku itu sehingga Damar bisa melihat. Di halaman-halaman belakang, di bawah garis tebal, ada deretan nama tanpa silang. Tujuh nama.
"Tujuh," kata Renata. Suaranya rata, tapi tangannya tidak. "Tujuh orang yang menurut Surya pantas mati. Tujuh yang belum sempat dia—'kembalikan'."
Damar berdiri, mendekati papan, membaca tujuh nama itu. Wajahnya mengeras. "Beberapa nama ini aku kenal. Kasus-kasus yang ditutup. Pemerkosaan yang dibebaskan karena 'kurang bukti'. Penggelapan dana bantuan bencana yang korbannya mati di pengungsian. Dokter palsu yang membunuh tiga pasien dengan operasi sembarangan dan masih buka praktik."
Renata menyalin tujuh nama itu ke buku catatannya sendiri, lalu memberi tanda di samping masing-masing. "Lihat polanya. Setiap pelaku di daftar ini punya korban yang mati di IGD Wijaya Kusuma. Itu benang merahnya. Surya tidak memilih sembarang penjahat—dia memilih penjahat yang korbannya pernah ia rawat, ia pegang tangannya, ia saksikan mati. Daftar ini bukan tentang keadilan abstrak. Ini sangat pribadi."
"Setiap nama adalah satu malam jaga yang tidak bisa dia lupakan," kata Damar pelan.
"Mereka semua lolos," kata Renata.
"Mereka semua lolos," Damar mengulang. Ia menoleh ke Renata. "Tapi sekarang Surya di sel. Dia tidak bisa menyentuh mereka lagi."
Renata diam lama. Ia menatap tujuh nama itu, lalu menatap salinan halaman terakhir buku—halaman yang dulu ia baca di basement dalam cahaya senter. Di bawah daftar tujuh nama, dengan tinta yang sama, ada satu kalimat yang membuat lehernya dingin sejak malam itu:
*"Pekerjaan tidak berhenti hanya karena tangan yang menulisnya berhenti bergerak."*
"Damar," kata Renata. "Bagaimana kalau dia tidak berniat menyelesaikan daftar ini sendirian?"
Damar menatap kalimat itu lama sekali. Di luar, hujan mulai turun, menggaris jendela kecil ruang diskusi.
"Tujuh orang masih hidup," kata Renata pelan, "dan pembunuh mereka yakin pekerjaannya akan selesai. Padahal dia di balik jeruji. Kau tahu apa artinya itu?"
Damar tidak menjawab. Tapi mereka berdua tahu. Daftar itu belum selesai. Dan Surya tidak menulis kalimat penutup untuk dirinya sendiri.
Ia menulisnya untuk seseorang yang lain.