Dengan Surya mengaku dan tempat kejadian diamankan, kasus "R" akhirnya dibuka resmi sebagai pembunuhan berantai. Itu mengubah segalanya secara hukum. Yang dulu ditutup sebagai kecelakaan dan kematian alami kini bisa dibuka, diperiksa, divisum.
Renata melakukan otopsi resmi Aiptu Bahrudin di ruang otopsi utama RSUD Wijaya Kusuma. Ini berbeda dari pemeriksaan diam-diam di basement—kini ada surat perintah, ada penyidik resmi yang menyaksikan, ada formulir visum et repertum yang harus diisi kata demi kata dengan presisi yang bisa bertahan di pengadilan.
Pak Surya tidak lagi mendampinginya. Petugas kamar mayat sementara adalah pemuda gugup bernama Wira, yang tangannya gemetar saat membantu menggeser jenazah. Renata memperhatikan itu—ia memperhatikan semua orang baru di sekelilingnya sekarang.
"Tarik napas, Wira," kata Renata. "Jenazah tidak akan menyakitimu. Yang hidup yang harus kau khawatirkan."
Wira tersenyum kaku dan mengangguk.
Renata mulai. Bahrudin, lelaki bertubuh tegap, mati dengan wajah tenang yang menipu. Tidak ada luka kasar di permukaan. Tapi Renata tahu ke mana harus mencari.
"Petechiae di konjungtiva bilateral," ia mendiktekan ke perekam, sambil menyibak kelopak mata. Titik-titik perdarahan halus, seperti taburan merah di putih mata. "Konsisten dengan asfiksia."
Ia memeriksa leher. Lalu jari-jarinya berhenti.
"Tidak ada fraktur os hyoid," katanya. Itu berbeda dari Hendra. "Tapi ada memar dalam di sisi leher, dan... di sini." Ia menunjuk titik kecil di pangkal tengkuk. "Bekas tusukan jarum. Tunggal. Rapi."
"Disuntik?" tanya penyidik yang menyaksikan.
"Mungkin disuntik dulu untuk melumpuhkan, lalu dicekik—atau sebaliknya. Saya butuh toksikologi." Renata mengambil sampel darah, urine, dan cairan vitreus dari mata—cairan yang paling lambat terurai, paling jujur. "Kirim ke lab. Cari kalium klorida, cari sedatif. Cari semuanya."
Di meja sebelah, ia juga memeriksa ulang berkas Lestari Handayani, yang jenazahnya sudah dimakamkan tapi sampelnya disimpan. Ia meminta toksikologi diulang dengan metode yang lebih sensitif.
Tiga hari kemudian hasilnya datang. Renata membacanya di markas, dengan Damar di sebelahnya.
"Lestari," kata Renata, membuka lembar pertama. "Kadar kalium di cairan vitreus jauh di atas normal. Pada orang mati, kalium memang naik secara alami, tapi tidak setinggi ini, tidak secepat ini. Dikombinasikan dengan bekas suntikan tunggal di vena lipat siku kiri—ini kalium klorida intravena. Henti jantung. Persis seperti yang kuduga sejak awal."
"Dan Bahrudin?"
Renata membalik ke lembar kedua, dan keningnya berkerut. "Sedatif kerja cepat di darahnya. Midazolam. Dosis tinggi. Itu menjelaskan kenapa lelaki sebesar dia tidak melawan saat dicekik." Ia mengangkat kepala. "Surya melumpuhkannya dulu, baru menghabisinya. Terencana. Dingin."
Damar mengangguk perlahan. "Ini bukti yang tidak bisa dibantah. Kalium di Lestari, midazolam dan asfiksia di Bahrudin, os hyoid retak di Hendra. Tiga metode berbeda, tapi satu tanda tangan: medis, presisi, terencana."
Renata menatap berkas itu lama. "Tiga metode," ulangnya pelan. "Pencekikan tangan kosong untuk Hendra—dekat, intim, marah. Kalium klorida untuk Lestari—dingin, klinis, dari jarak satu jarum. Midazolam lalu cekik untuk Bahrudin—hati-hati, melumpuhkan dulu, seolah pelakunya tahu korbannya kuat dan berbahaya." Ia mengetukkan jari ke meja. "Hendra dibunuh oleh kemarahan. Lestari dibunuh oleh perhitungan. Itu dua suasana hati yang berbeda, Damar."
"Pembunuh bisa berubah suasana hati."
"Bisa. Tapi metode pun berubah seiring rasa percaya diri. Pencekikan tangan kosong itu berisiko—butuh kekuatan, meninggalkan jejak, korban melawan. Suntikan kalium nyaris tanpa risiko." Renata menyandarkan punggungnya. "Biasanya pembunuh bergerak dari yang berisiko ke yang aman saat dia makin mahir. Tapi di sini polanya tidak rapi. Seolah ada dua tingkat keterampilan."
"Satu tanda tangan," kata Renata. Lalu ia berhenti. "Atau dua."
"Apa?"
Renata menatap dua lembar hasil itu berdampingan. "Lestari disuntik kalium. Bahrudin disuntik midazolam lalu dicekik. Cara yang berbeda. Aku selalu mengira itu karena Surya menyesuaikan metode dengan keadaan." Ia menggigit bibir bawahnya. "Tapi bagaimana kalau bukan cuma karena keadaan? Bagaimana kalau tangan yang menyuntik Lestari... tidak sama dengan tangan yang menyuntik Bahrudin?"
Damar terdiam. Di luar, mobil melintas, lampunya menyapu jendela.
"Kau bilang dia mengaku semua," kata Damar akhirnya.
"Dia mengaku semua," kata Renata pelan. "Itulah yang membuatku tidak bisa tidur."