Ruang diskusi di belakang lab patologi tidak pernah dirancang untuk menampung enam meja arsip sekaligus. Sekarang map-map cokelat itu menumpuk sampai ke kursi, dan Renata berdiri di tengahnya seperti orang yang tersesat di hutan kertasnya sendiri.
"Damar," katanya. "Coba lihat ini lagi."
Damar mendekat, masih dengan lengan kiri yang dibalut perban tebal di bawah jas hitamnya. Luka pisau Surya belum benar-benar kering, tapi ia menolak cuti. Tiga minggu sejak basement, dan ia hanya mau bekerja dengan tangan yang masih bisa memegang pulpen.
"Kasus Arman Wijaya," kata Renata. "Pencabutan izin apoteker, lima tahun lalu. Pemalsuan resep. Tapi lihat siapa yang menutup kasusnya." Ia menggeser satu lembar fotokopi. "Tidak sampai pengadilan. Diselesaikan di tingkat administratif. Penyidiknya menyatakan bukti tidak cukup."
"Hendra Saputra," Damar menyambung, membaca map di sebelahnya. "Tabrak lari, tiga tahun lalu, Jalan Diponegoro. Anak sepuluh tahun meninggal. Kasus juga ditutup. Saksi mencabut kesaksian. Pengendara bebas." Ia mengetukkan jari ke meja. "Pola yang sama."
Renata mengangguk pelan. Inilah yang ia takutkan sejak membaca buku catatan Surya di basement. Bukan sekadar lima nama korban. Tapi struktur di belakang lima nama itu.
"Semua korban Surya," kata Renata, "adalah orang yang seharusnya dihukum tapi tidak. Dan setiap kasus mereka ditutup dengan cara yang sama. Bukti hilang. Saksi mundur. Penyidik menyerah terlalu cepat." Ia menatap Damar. "Itu bukan kebetulan."
Damar diam beberapa detik. Di luar jendela kecil ruangan itu, lorong basement RSUD Wijaya Kusuma terdengar sepi. Pak Surya sudah dipindahkan ke rumah tahanan Polres tiga minggu lalu. Mestinya semuanya selesai. Mestinya.
"Kamu bilang Surya menghapus penyakit," kata Damar. "Tapi penyakitnya bukan orang-orang itu."
"Penyakitnya adalah sistem yang membiarkan mereka lolos." Renata menarik kursi dan duduk, kelelahan tiba-tiba terasa di tulang belakangnya. "Surya tidak memilih korbannya secara acak. Dia memilih kasus-kasus yang ditutup. Dan untuk tahu kasus mana yang ditutup secara curang, dia harus punya akses ke arsip. Arsip kepolisian, Damar. Bukan arsip rumah sakit."
Damar mengerutkan kening. "Petugas kamar mayat tidak punya akses arsip Reskrim."
"Tepat."
Mereka saling pandang. Di antara mereka, sebuah pikiran yang sama mengeras menjadi bentuk.
"Jadi entah Surya berbohong soal bertindak sendiri," kata Damar perlahan, "atau ada orang lain yang menyuapinya berkas-berkas ini."
Renata mengeluarkan buku catatan kesaksian Surya — fotokopinya, karena yang asli sudah jadi barang bukti tersegel. Ia membuka halaman yang sudah ia tandai dengan stiku kuning. Daftar nama. Beberapa sudah dicoret: Arman, Hendra, Lestari. Tapi di bawahnya masih ada belasan nama lain yang belum dicoret. Orang-orang hidup. Orang-orang yang, menurut catatan ini, lolos dari hukuman yang seharusnya.
"Di samping tiap nama," kata Renata, menunjuk, "ada angka kecil. Awalnya kupikir nomor urut. Tapi tidak. Lihat — angkanya melompat. 4471. 4472. 3380." Ia menelan ludah. "Ini nomor register perkara, Damar. Nomor berkas. Surya mencatat nomor berkas resmi tiap kasus yang ditutup."
Damar mengambil buku itu dengan tangan kirinya yang sehat. Wajahnya berubah. Sebagai penyidik, ia tahu persis apa artinya. Nomor register perkara tidak beredar di luar. Tidak ada di koran. Tidak ada di mulut orang. Itu hanya ada di satu tempat.
"Di dalam berkas," bisik Damar. "Nomor ini cuma ada di sampul berkas yang disimpan di gudang arsip Polres."
"Berarti seseorang membuka gudang itu untuk Surya," kata Renata. "Atau Surya tidak pernah sendirian."
Lampu lab di sebelah berdengung pelan. Renata tiba-tiba sangat sadar betapa sunyinya basement ini. Tiga minggu lalu, di lorong yang sama, ia hampir mati di tangan orang yang ia sapa "selamat pagi" setiap hari selama bertahun-tahun.
"Kita harus lihat berkas-berkas asli ini," kata Renata. "Semuanya. Kalau pola penutupannya cocok, kalau penyidik yang menutupnya selalu orang yang sama atau selalu lewat tangan yang sama—"
"Aku tahu siapa yang harus kutanya," kata Damar. Tapi suaranya tidak yakin, dan Renata menangkap itu. Karena di Polres, setelah kasus ini bocor, setiap orang menjadi tersangka di mata satu sama lain. Bahkan rekan yang dulu mereka percaya.
Renata menutup buku catatan itu. Di sampulnya, cetakan timbul kecil yang ia hafal: satu ular melilit tongkat. Asklepios. Lambang kedokteran sejati. Surya memilih lambang itu dengan sengaja. Pesan dari orang yang tahu persis bedanya.
"Damar," kata Renata pelan, "kalau ada orang kedua yang membuka berkas untuk Surya, orang itu masih di luar sana. Dan Surya tidak akan menyebut namanya. Dia bilang dia melindungi seseorang."
Damar menatapnya lama. "Kalau begitu kita harus menemukannya sebelum dia tahu kita sedang mencari."
Di luar, di suatu tempat di atas mereka, lift basement berbunyi turun. Keduanya membeku sejenak — refleks yang ditanam basement timur ke dalam tubuh mereka selamanya — sampai pintu lift terbuka dan hanya seorang perawat dengan troli linen yang keluar, tanpa menengok ke arah mereka.
Renata menghembuskan napas. Tapi rasa dingin di tengkuknya tidak hilang. Berkas yang ditutup itu, pikirnya, mungkin bukan satu-satunya hal di kota ini yang seharusnya tetap terkubur.