Semuanya, Renata yakin sekarang, dimulai dari satu titik tiga tahun lalu—titik yang membuat seorang perawat senior IGD berubah menjadi pembunuh berantai. Untuk memahami Surya, untuk memahami muridnya, ia harus kembali ke kematian yang memulai segalanya: anak yang ditabrak di Jalan Diponegoro.
Berkas kasus itu tipis dan ditutup terburu-buru. Hendra Saputra menabrak seorang anak laki-laki sepuluh tahun di Jalan Diponegoro, melarikan diri, dan kasus berhenti karena "kurang saksi". Anak itu dibawa ke IGD RSUD Wijaya Kusuma dan meninggal di sana beberapa jam kemudian.
Renata harus menggali berkas ini dari arsip kepolisian yang berdebu, dengan bantuan Damar yang menandatangani permintaan resmi atas nama kasus "R". Lembar-lembarnya kuning, sebagian sudah hampir lepas dari jepitannya. Tapi Renata membaca setiap kata, seperti ia membaca setiap luka di meja otopsi.
Renata menemukan nama anak itu di lembar terakhir berkas: **Bagas Pratama, 10 tahun.**
"Bagas Pratama," kata Renata kepada Damar, menatap nama itu. "Surya merawatnya di IGD malam itu. Tiga tahun lalu. Anak ini mati di tangannya, dan pelakunya—Hendra—berjalan bebas. Inilah titik baliknya. Setelah Bagas, Surya minta mutasi ke kamar mayat."
"Untuk dekat dengan kematian," kata Damar. "Untuk akses jenazah, register, jadwal. Dia mulai merencanakan setelah anak ini mati."
Renata menelusuri berkas keluarga Bagas. Ayahnya disebut sudah meninggal sebelum kecelakaan. Ibunya—Renata membaca, lalu berhenti, lalu membaca lagi—ibunya juga meninggal, setahun setelah Bagas, karena sakit. Hati hancur, kata catatan tetangga yang diwawancarai dulu. Perempuan itu tidak bertahan kehilangan anak bungsunya.
"Keluarganya habis," kata Renata pelan. "Ayah meninggal, Bagas mati ditabrak, ibu menyusul setahun kemudian. Hampir tidak ada yang tersisa untuk menuntut keadilan." Ia menatap Damar. "Kecuali Surya, perawat yang memegang tangan anak itu saat dia meninggal. Surya menjadikan dirinya keadilan untuk keluarga yang nyaris punah."
Damar mengernyit, membaca ulang lembar keluarga. "Tunggu. Di sini disebut Bagas punya seorang—" ia menelusuri baris, "—kakak laki-laki. Beberapa tahun lebih tua. Tinggal serumah, dan setelah orang tua mereka tiada, tinggal hanya berdua."
Renata membeku. "Disebut namanya?"
"Tidak. Cuma keterangan. 'Kakak kandung, usia remaja saat kejadian'." Damar mengangkat kepala. "Tiga tahun lalu remaja. Sekarang—"
"Sekarang cukup dewasa untuk bekerja," Renata menyelesaikan. Suaranya nyaris hilang. "Cukup dewasa untuk masuk fakultas kesehatan. Untuk magang. Untuk bekerja di rumah sakit di samping orang yang menyaksikan adiknya mati."
Mereka berdua terdiam. Di luar markas, sore Kota Praja redup oleh awan. Dengung pendingin lab patologi terdengar samar dari ruang sebelah, dan untuk sekejap Renata teringat dengung pendingin kedua di sayap lama—pendingin yang menyimpan sidik jari seseorang yang namanya disembunyikan sistem.
"Kakak Bagas," kata Renata pelan. "Tumbuh dengan kehilangan yang sama dengan Surya. Bertemu Surya di rumah sakit. Dilatih. Setahun lalu, meminjam kunci kedua. Sidik jarinya ada di pendingin." Ia mengangkat wajah, dan matanya tajam sekarang, dingin seperti meja otopsi. "Surya bilang 'murid'. Dia tidak melindungi orang asing, Damar. Dia melindungi kakak dari korban yang dia balaskan."
"Penerus," kata Damar pelan.
"Penerus." Renata menutup berkas Bagas Pratama, tapi nama anak itu tetap menyala di belakang matanya. "Surya di penjara. Tapi tangan keduanya masih di luar sana, di dalam tembok rumah sakit ini, dengan tujuh nama yang belum dicoret dan seorang guru yang mengajarinya cara membuat kematian terlihat seperti takdir."
Di luar, lampu-lampu Kota Praja mulai menyala satu per satu, dan di salah satu gedung itu—Renata tahu sekarang dengan kepastian yang membuatnya merinding—seseorang sedang membaca berita tentang Surya, tersenyum, dan menajamkan pisau bedah berikutnya.