Renata meminta bertemu Surya. Permintaan itu butuh tiga hari dan tanda tangan dua pejabat, tapi akhirnya ia duduk di ruang kunjungan tahanan, dipisahkan dari Surya oleh meja logam dan seorang sipir di sudut.
Surya tampak lebih kurus dari di basement, tapi sikapnya tidak berubah. Punggung lurus. Tangan terlipat. Saat melihat Renata, wajahnya melembut, hampir hangat—seperti seorang guru tua yang menyambut murid kesayangan.
"Bu Renata," katanya. "Saya menduga Anda akan datang. Pembaca selalu kembali ke teksnya."
"Saya bukan pembaca Anda," kata Renata datar. "Saya dokter forensik. Saya membaca yang mati, bukan yang Anda tulis."
Surya tersenyum tipis, tidak tersinggung. "Kalau begitu, apa yang Anda baca, Dokter?"
Renata meletakkan satu lembar foto di atas meja. Foto laci pendingin kedua, dengan sidik jari yang disorot ultraviolet. Ia mengamati wajah Surya saat ia memandanginya—mencari kedipan, perubahan napas, ketegangan rahang. Apa pun.
Surya hanya menatap foto itu, lalu menatap Renata. Tenang.
"Pendingin di gudang sisi timur," kata Renata. "Dibuka dengan kunci kedua. Hidup. Baru dipakai. Dan ada sidik jari di dalamnya. Bukan sidik jari Anda."
"Saya bekerja di sana selama tiga tahun," kata Surya. "Banyak orang menyentuh banyak hal."
"Tidak. Anda merawat tempat itu sendirian, diam-diam. Anda mematikan CCTV. Anda menyembunyikan setiap jejak. Orang yang sehati-hati Anda tidak akan membiarkan sidik jari orang asing di laci pendingin." Renata mencondongkan tubuh. "Kecuali sidik itu bukan milik orang asing."
Untuk sepersekian detik—begitu singkat hingga Renata hampir meragukan dirinya sendiri—pupil Surya menyempit. Lalu hilang.
"Saya bertindak sendiri," kata Surya. Suaranya rata, terlatih. "Saya yang membunuh kelimanya. Saya yang menulis pesan. Saya yang merawat ruang itu. Kalau ada sidik jari yang tidak Anda kenali, mungkin petugas tiga tahun lalu, mungkin pekerja renovasi. Saya tidak tahu. Saya bertindak sendiri, Dokter."
"Dr. Yoga Pratama melihat dua bayangan," kata Renata pelan. "Malam Lestari mati, dia melihat dua orang menutup pintu. Bukan satu. Dua."
Sesuatu bergerak di wajah Surya saat itu. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih lembut, lebih sulit dinamai. Kesedihan, mungkin. Atau perlindungan.
"Dokter Yoga," kata Surya pelan, "adalah orang baik yang melihat hal yang tidak seharusnya dilihatnya. Saya menyesal soal dia. Itu salah satu hal yang benar-benar saya sesali." Ia menatap Renata lurus. "Tapi dia salah lihat. Tidak ada dua bayangan. Hanya saya, dan bayangan saya sendiri di dinding."
Tenang. Terlalu tenang. Renata sudah cukup lama membaca tubuh untuk tahu kapan ketenangan adalah perisai, bukan kebenaran. Surya tidak menyangkal dengan emosi. Ia menyangkal dengan presisi—dan presisi itu sendiri adalah jawabannya. Orang tak bersalah membantah dengan kebingungan. Orang yang melindungi seseorang membantah dengan kesempurnaan.
"Anda melindungi seseorang," kata Renata.
Surya tidak menjawab. Ia menatap fotonya sendiri di pantulan meja logam, lalu mengangkat wajah.
"Saya akan menanyakan satu hal pada Anda, Bu Dokter," katanya. "Sebagai sesama orang yang memahami tubuh manusia. Kalau seseorang menanggung penyakit yang tidak diciptakannya sendiri—penyakit yang ditularkan padanya oleh dunia yang busuk—apakah orang itu pantas dihukum sama dengan yang menularkan?"
Renata menatapnya. "Penyakit tidak menyuntik kalium klorida ke vena orang, Pak Surya. Manusia yang melakukannya."
Surya tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyum itu terlihat lelah. "Anda membaca dengan baik," katanya. "Anda selalu membaca dengan baik. Itu sebabnya saya berharap Anda berhenti membaca sebelum sampai ke halaman yang akan menyakiti Anda."
Ia berdiri. Kunjungan selesai. Sipir mendekat.
"Halaman apa?" tanya Renata.
Surya sudah berbalik. Ia tidak menjawab. Tapi sebelum pintu sel menelannya, ia berkata pelan, hampir kepada dirinya sendiri:
"Setiap guru berharap muridnya tidak mengulangi kesalahannya. Tapi murid jarang mendengar."
Pintu tertutup. Renata duduk sendiri di ruang kunjungan, dengan satu kata bergema di kepalanya, dingin dan jelas.
*Murid.*