Tim forensik turun ke sayap lama bersama mereka kali ini—resmi, dengan surat perintah, dengan lampu kerja yang membanjiri ruang R-1, R-2, R-3 sampai ke setiap sudut yang dulu gelap.
Tanpa kegelapan, ruang itu kehilangan sebagian terornya, tapi tidak semuanya. Pendingin masih mendengung. Lemari R-3 masih terbuka, kosong sekarang—jenazah Bahrudin sudah lama dipindahkan. Meja kerja sudah dikosongkan dari map dan buku, tapi bekas-bekasnya masih ada: lingkaran-lingkaran pucat di permukaan logam tempat benda-benda pernah diletakkan.
Sebelum turun, Renata melakukan kebiasaannya. Ia menelepon pengawas piket yang sama—polisi tepercaya di luar tim besar yang dulu menyelamatkan mereka di bab basement. "Kami turun ke sayap lama sekarang, dengan tim forensik. Kalau aku tidak menghubungimu lagi dalam dua jam, kirim orang." Pengaman mati. Ia tidak akan pernah turun ke tempat itu tanpa meninggalkan rencana keluar.
Renata memimpin tim ke pintu darurat sisi timur—pintu yang dibuka kunci kedua. Pintu itu terkunci, tapi kunci induk inventaris membukanya. Di baliknya bukan ruang baru, melainkan koridor pendek buntu, gudang kecil yang dulu menyimpan tabung oksigen dan brankar tua.
"Tidak ada apa-apa," gumam salah satu petugas forensik.
"Periksa lagi," kata Renata. "Yang dipakai pelaku tidak selalu yang terlihat. Periksa pendingin kedua."
Sayap lama punya dua unit pendingin jenazah. Yang pertama, di ruang R utama, sudah diperiksa. Yang kedua, di gudang sisi timur ini, mereka kira mati sejak sayap ditutup. Tapi saat Renata menyentuh gagangnya, jari-jarinya merasakan getaran halus.
"Pendingin ini hidup," katanya pelan. "Pendingin di ruang yang seharusnya kosong, dibuka kunci kedua, masih hidup."
Ia membukanya. Hampa—tidak ada jenazah. Tapi laci geser di dalamnya bersih, terlalu bersih, baru dipakai dan dilap. Dan di tepi laci logam, di bawah lampu ultraviolet yang dibawa tim, muncul sesuatu yang tak terlihat oleh mata telanjang.
"Sidik jari," kata petugas forensik, mencondongkan tubuh. "Beberapa. Sebagian setengah terhapus oleh disinfektan. Tapi ini—" ia menunjuk satu set sidik yang utuh di sisi dalam laci, tempat tangan harus mencengkeram untuk menarik—"ini bersih."
Renata menahan napas. "Bandingkan dengan sidik jari Surya."
Mereka mengambil cetakan, memfotonya, dan mengirim permintaan pencocokan ke pusat data. Hasilnya datang malam itu juga ke markas, lewat email yang dibuka Damar dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Tidak cocok," kata Damar, membaca layar. "Sidik jari di pendingin kedua—tidak cocok dengan Pak Surya."
Renata duduk perlahan. "Lalu cocok dengan siapa?"
"Tidak ada di database kriminal." Damar menggulir ke bawah. "Tapi—tunggu. Pusat data juga membandingkan dengan database kepegawaian RSUD Wijaya Kusuma. Semua staf wajib mendaftarkan sidik jari untuk akses ruang terbatas." Ia berhenti. Wajahnya berubah. "Ada kecocokan."
"Siapa?"
Damar menatap layar lama sekali sebelum menjawab. "Hasilnya... terkunci. Aksesnya dibatasi. Catatan kepegawaian orang ini ditandai 'rahasia' di sistem. Aku tidak bisa melihat namanya tanpa otorisasi lebih tinggi."
Renata mencondongkan tubuh menatap layar. Sebuah catatan kepegawaian RS yang sengaja disembunyikan. Sebuah sidik jari di pendingin yang seharusnya tidak pernah dipakai. Kunci kedua yang dipinjam setahun lalu oleh nama yang sengaja dipudarkan.
"Surya tidak sendirian," kata Renata. Suaranya nyaris berbisik. "Ada seseorang di dalam tembok rumah sakit ini, seseorang yang berdiri di samping kita selama ini, dan namanya disembunyikan oleh seseorang yang punya kuasa untuk menyembunyikannya."
Damar menutup laptopnya pelan. "Maka pertanyaan berikutnya bukan cuma siapa orang kedua itu."
"Tapi siapa yang melindunginya," Renata menyelesaikan.
Di luar, hujan kembali turun, dan untuk pertama kalinya sejak Surya ditangkap, Renata merasa kasus ini tidak mengecil. Ia membesar.