Catatan terakhir Yoga, yang dulu diselipkan di bawah pintu untuk Damar, masih tersimpan dalam berkas bukti. Renata membacanya ulang, kata demi kata, di markas malam itu.
*"Saya melihatnya. Saya tahu apa yang dia lakukan dan saya diam terlalu lama. R bukan inisial. R adalah Ruang. Tanya siapa yang punya kunci."*
"Tanya siapa yang punya kunci," ulang Renata. "Kita selalu menganggap itu petunjuk menuju Surya. Karena Surya petugas kamar mayat, dia yang punya akses ke sayap lama. Pintunya terbongkar, kasusnya selesai." Ia mengetukkan jari ke meja. "Tapi Yoga menulis ini sebelum dia tahu siapa pelakunya. Dia tidak menulis 'Surya punya kunci'. Dia menulis 'tanya siapa yang punya kunci'. Sebuah pertanyaan, bukan jawaban."
Damar mengangkat alis. "Maksudmu, jawabannya bisa lebih dari satu nama."
"Aku ingin daftar akses ke sayap lama. Siapa saja yang secara teknis bisa masuk ke basement timur, ke ruang R-1, R-2, R-3. Bukan cuma yang seharusnya. Tapi yang bisa."
Mereka butuh dua hari dan satu permintaan resmi yang setengah-resmi untuk mendapatkan catatan kunci dari bagian umum RS. Sayap lama ditutup tiga tahun lalu. Secara prosedur, kuncinya diserahkan ke gudang inventaris dan didaftar.
Petugas gudang inventaris, seorang lelaki paruh baya bernama Pak Gunawan, awalnya enggan membuka buku peminjaman lama. "Itu arsip mati, Bu. Sayap lama sudah ditutup, tidak ada yang menyentuhnya bertahun-tahun."
"Justru karena tidak ada yang menyentuhnya," kata Renata, "buku ini jujur. Tolong, Pak. Ini bagian dari kasus resmi."
Pak Gunawan menghela napas, lalu menarik buku tebal berdebu dari rak paling bawah. Halamannya menguning, tintanya pudar di sana-sini.
Renata menyusuri daftar dengan jarinya. "Kunci induk basement timur—diserahkan ke inventaris tiga tahun lalu. Dipinjam... sekali. Atas nama 'pemeliharaan'." Ia berhenti. "Pak Surya. Tiga tahun lalu, persis setelah mutasi. Dia meminjam kunci dan tidak pernah mengembalikannya."
Pak Gunawan mengernyit. "Harusnya dikembalikan dalam tiga hari. Tapi tidak ada yang menagih. Sayap itu kosong, siapa peduli."
"Itu cocok dengan Surya," kata Damar.
"Iya. Tapi lihat ini." Renata menunjuk baris lain, beberapa entri di bawah. "Ada kunci duplikat. Sayap lama punya dua kunci induk—satu untuk pintu utama, satu untuk pintu darurat di sisi timur. Yang kedua ini juga dipinjam. Bukan oleh Surya."
Damar mencondongkan tubuh. "Oleh siapa?"
Renata menelusuri kolom nama, dan keningnya berkerut. Tinta di kolom itu memudar, namanya setengah terhapus, seolah sengaja dibuat tidak terbaca. "Tidak terbaca. Tapi ada tanggalnya. Setahun lalu. Setahun lalu seseorang—bukan Surya—meminjam kunci kedua ke sayap lama yang seharusnya kosong."
"Setahun lalu Surya sudah aktif," kata Damar pelan. "Dia sudah membunuh Arman beberapa bulan sebelum bab pertama, tapi tiga tahun dia menyusun. Setahun lalu... seseorang bergabung."
Renata menatap nama yang sengaja dipudarkan itu. Seseorang telah masuk ke catatan ini dan mencoba menghapus jejak. Bukan menghapus seluruh baris—itu akan mencurigakan—tapi cukup mengaburkan nama supaya tidak terbaca.
"Yoga benar," kata Renata. "Pertanyaannya bukan 'apakah Surya punya kunci'. Pertanyaannya: siapa lagi?"
"Kunci kedua hilang," kata Damar. "Tidak pernah dikembalikan. Sama seperti milik Surya."
"Dua kunci. Dua bayangan yang dilihat Yoga." Renata menyandarkan punggungnya. "Damar, kita perlu kembali ke sayap lama. Bukan ke ruang R yang sudah kita periksa. Pintu darurat sisi timur—pintu yang dibuka kunci kedua. Aku ingin tahu ke mana pintu itu mengarah."
Damar mengangguk perlahan, tapi tangannya sudah mengusap perban di lengannya, seolah luka itu mengingatkannya bahwa kembali ke sayap lama tidak pernah aman.
"Kali ini," kata Renata, "kita bawa tim. Dan aku akan meninggalkan pengaman, seperti biasa."