Dr. Yoga Pratama dimakamkan tanpa otopsi. Keluarganya, didukung petinggi RS yang tidak ingin nama rumah sakit terseret, menolak keras saat ia mati. "Kecelakaan rumah tangga," begitu surat kematiannya. Terpeleset di kamar mandi, cedera kepala, meninggal.
Renata tidak percaya satu kata pun.
"Untuk mengekshumasi," ia menjelaskan kepada Damar saat mereka berkendara ke rumah keluarga Yoga, "aku butuh tiga hal. Izin keluarga. Izin pengadilan. Dan kasus resmi dibuka sebagai pembunuhan. Kita punya yang ketiga sekarang—kasus 'R' sudah resmi. Tapi keluarga menolak, dan tanpa keluarga, pengadilan sulit memberi izin."
"Maka kita harus meyakinkan keluarga," kata Damar.
Rumah keluarga Yoga sederhana, di gang yang teduh. Istrinya, seorang perempuan muda bernama Bu Maya, membuka pintu dengan mata yang masih menyimpan duka tiga minggu. Di belakangnya, seorang anak perempuan kecil mengintip dari balik gorden.
Renata tidak buru-buru bicara tentang ekshumasi. Ia duduk, menerima teh, dan bertanya tentang Yoga sebagai manusia. Bagaimana ia di rumah. Apa yang ia khawatirkan menjelang akhir.
Bu Maya menunduk. "Dua minggu sebelum dia... pergi, dia berubah. Tidak bisa tidur. Mengunci pintu kalau pulang malam. Suatu malam aku menemukannya menulis sesuatu, lalu menyobeknya saat aku masuk." Suaranya bergetar. "Aku tanya ada apa. Dia cuma bilang, 'Aku melihat sesuatu di rumah sakit, Maya. Sesuatu yang membuatku tidak bisa diam, tapi kalau aku bicara, aku takut.'"
Renata menahan napas. "Dia menyebut apa yang dilihatnya?"
"Tidak persis. Tapi dia bilang satu hal yang aneh." Bu Maya menatap cangkirnya. "Dia bilang, 'Mereka pikir cuma satu orang. Tapi dua tangan menutup pintu itu, Maya. Aku melihat dua bayangan.'"
Ruangan terasa membeku. Damar dan Renata bertukar pandang.
"Dua bayangan," ulang Renata pelan. "Anda yakin dia bilang dua?"
"Aku yakin. Aku ingat karena waktu itu kupikir dia mengigau karena tidak tidur." Bu Maya menyeka matanya. "Lalu dia jatuh di kamar mandi. Begitu kata polisi. Tapi suamiku... dia tidak ceroboh, Dokter. Dia dokter IGD. Dia tahu cara menjaga diri."
Renata mencondongkan tubuh. "Bu Maya, saya tidak akan berbohong kepada Anda. Saya percaya suami Anda dibunuh karena yang ia lihat. Dan saya percaya tubuhnya menyimpan bukti yang bisa membuktikannya—bukti yang akan memulihkan namanya, dan menghentikan orang yang membunuhnya. Tapi untuk itu, saya butuh izin Anda untuk memeriksanya. Saya tahu ini permintaan yang berat."
Bu Maya menatapnya lama. Lalu menatap anaknya di balik gorden. "Kalau saya izinkan... apakah suami saya akan dikenang sebagai orang yang jatuh di kamar mandi? Atau sebagai orang yang mencoba melakukan hal yang benar?"
"Sebagai saksi," kata Renata. "Sebagai orang yang berani. Saya berjanji."
Bu Maya menutup matanya, lalu mengangguk satu kali. "Periksa dia. Buktikan dia tidak terpeleset."
Di mobil, dalam perjalanan pulang, keduanya diam lama. Akhirnya Damar bicara.
"Dua bayangan," katanya. "Yoga melihat dua orang malam dia membunuh Lestari. Atau dua orang yang menutup pintu."
"Surya tidak pernah menyebut orang kedua dalam pengakuannya," kata Renata. "Tidak sekali pun. Dia mengaku semua—Lestari, Hendra, semua—tapi dia tidak pernah menyebut ada tangan lain." Ia menatap jalan di depan. "Kenapa orang yang mengaku semua pembunuhan justru menyembunyikan satu fakta? Hanya satu fakta?"
"Karena fakta itu yang ingin dilindunginya," kata Damar.
Renata mengangguk pelan. "Dia menutup mata kita dengan pengakuan, supaya kita tidak melihat bayangan kedua."
Mereka berhenti di lampu merah dekat persimpangan menuju RS. Damar mengetukkan jari ke setir, gelisah.
"Kalau benar ada dua," katanya, "maka selama Surya menanggung semua, orang kedua punya kebebasan penuh. Kita memuji diri sendiri menangkap pelaku, sementara separuh pelaku berjalan bebas di lorong-lorong itu."
"Dan dia tahu kita tidak mencarinya," kata Renata. "Itu hadiah terbesar yang bisa diberikan Surya kepadanya. Bukan kebebasan. Tapi ketidaktahuan kita."
Lampu berganti hijau. Damar tidak langsung menjalankan mobil. Ia menatap Renata.
"Bu Maya bilang Yoga menulis sesuatu lalu menyobeknya," katanya. "Bagaimana kalau yang dia sobek itu bukan ketakutan. Bagaimana kalau itu nama?"
Renata menoleh tajam. "Nama orang kedua."
"Yoga dokter IGD. Dia mengenal staf di sekitarnya. Kalau dia melihat dua bayangan dan mengenali salah satunya..." Damar membiarkan kalimatnya menggantung.
"Maka dia tahu persis siapa yang harus ditakuti," kata Renata pelan. "Dan itu sebabnya dia tidak bisa tidur. Bukan karena melihat orang asing membunuh. Tapi karena melihat seseorang yang dia kenal." Ia menarik napas. "Kita harus tahu siapa yang dekat dengan Yoga di IGD. Siapa yang dia ajak kerja, dia latih, dia percaya."
Mobil akhirnya bergerak, menembus sore Kota Praja yang basah.