Telepon itu berdering pukul 23.40, di apartemen kecil Renata, dari nomor yang tidak ia kenal.
Ia hampir tidak mengangkat. Tiga minggu terakhir, sejak namanya muncul di koran sebagai "dokter forensik yang membongkar pembunuh berantai R", teleponnya tidak pernah berhenti. Wartawan. Orang iseng. Orang yang memuji Surya dan membenci Renata karena menangkapnya. Ia sudah belajar membiarkan nomor asing mati sendiri.
Tapi malam ini ada sesuatu. Mungkin karena perjalanan ke rumah Sumarno tadi siang masih menempel di kulitnya. Ia mengangkat.
"Halo."
Hening. Tapi bukan hening kosong. Ada napas di ujung sana. Pelan, teratur, sabar.
"Halo," ulang Renata. Tangannya bergerak diam-diam ke buku catatan di meja, pena di antara jari. Refleks. Selalu menyiapkan sesuatu.
"Dokter Renata Paramita." Suara itu laki-laki. Muda. Tenang dengan cara yang membuat tenangnya lebih menakutkan daripada teriakan. "Maaf mengganggu jam istirahat. Tapi saya pikir Anda orang yang lebih suka kebenaran daripada tidur."
Renata berdiri perlahan, berjalan ke jendela, melihat ke jalan di bawah. Sepi. Lampu jalan menyala kuning. Tidak ada siapa-siapa.
"Siapa ini?"
"Anda sudah bertemu Pak Surya hari ini?" Suara itu mengabaikan pertanyaannya. "Belum, ya. Anda menunda. Saya mengerti. Sulit menatap mata orang yang ingin Anda hidup tapi ingin teman Anda mati."
Renata membeku. Detail itu — keinginan Surya menjaganya hidup sambil menargetkan Damar — tidak pernah masuk koran. Itu hanya diucapkan di basement, dalam gelap, di antara dirinya, Damar, dan Surya. Tidak ada orang lain yang mendengar. Tidak ada.
"Bagaimana kamu tahu itu," kata Renata. Suaranya datar, tapi jantungnya berlari.
"Karena pesan tidak mati hanya karena pembacanya berhenti membaca, Dokter." Suara itu seperti tersenyum. "Surya selalu bilang Anda yang paling cepat. Dia benar. Dia jarang salah soal orang. Itu satu-satunya hal yang dia ajarkan dengan benar."
Diajarkan. Renata menutup mata sebentar. Surya ada di sel Polres, dijaga, tidak boleh menerima telepon. Suara di ujung sana ini bukan Surya. Tapi tahu apa yang Surya ucapkan dalam gelap. Tahu hal-hal yang seharusnya hanya diketahui tiga orang.
"Kamu ada di basement," kata Renata pelan. Bukan pertanyaan. "Tiga minggu lalu. Kamu mendengar kami."
Hening sejenak. Lalu: "Anda memang cepat."
Renata merasa darahnya menjadi es. Selama ini ia dan Damar berasumsi hanya bertiga di ruang R itu. Surya, mereka berdua, dalam gelap. Tapi gelap menyembunyikan lebih dari satu orang. CCTV tua itu — yang lampunya mati — Renata mencatat kejanggalan itu di bab awal penyelidikan. Mati. Bukan rusak. Dimatikan oleh seseorang yang tidak ingin terekam.
"Kenapa kamu menelepon saya," tanya Renata.
"Untuk berterima kasih." Suara itu kembali lembut. "Anda menyelamatkan Surya. Kalau tim itu tidak datang, dia akan menyelesaikan Damar dan mungkin mati melawan. Anda membuatnya tertangkap hidup-hidup. Saya berutang itu pada Anda."
"Saya tidak menyelamatkannya untukmu."
"Tidak penting niat Anda. Penting hasilnya." Jeda. "Saya menelepon juga untuk memberi tahu Anda sesuatu, Dokter, karena saya menghormati cara Anda membaca. Surya berhenti. Tapi pekerjaannya belum selesai. Daftar itu masih panjang. Anda sudah melihat bukunya. Anda tahu masih banyak nama yang belum dicoret."
Renata mencengkeram pena di tangannya. "Jangan."
"Saya tidak membunuh orang, Dokter." Suara itu mengucapkan kalimat yang persis sama dengan yang Renata baca di kapsul lambung Hendra, di kertas Lestari. Persis. Diturunkan, kata demi kata. "Saya menghapus penyakit. Anda akan melihatnya. Yang pertama akan datang sebentar lagi. Dan saya harap Anda membacanya secepat Anda membaca yang lain."
"Siapa kamu," kata Renata, dan untuk pertama kalinya suaranya tidak datar lagi.
"Saya," kata suara itu, "yang dilewatkan semua orang. Selamat malam, Dokter. Kunci pintu Anda. Bukan karena saya. Karena kebiasaan baik tidak boleh hilang."
Sambungan terputus.
Renata berdiri di tengah apartemennya yang sunyi, ponsel masih menempel di telinganya, mendengarkan nada putus yang berdengung kosong. Lalu ia bergerak. Cepat. Ia mengunci pintu — dua kunci, gerendel — menutup tirai, menulis nomor yang menelepon ke buku catatannya walau ia tahu nomor itu pasti tidak akan bisa dilacak. Lalu ia menelepon Damar.
"Damar." Suaranya tegang. "Ada orang ketiga di basement malam itu. Dia menelepon saya barusan. Dia tahu apa yang Surya katakan dalam gelap. Dan dia bilang—" Renata menarik napas, "—dia bilang akan ada jenazah baru. Sebentar lagi."
Di ujung sana, Damar diam sejenak. Lalu, dengan suara yang lebih dingin dari yang pernah Renata dengar darinya: "Surya tidak sendirian. Dari awal."
"Bukan dari awal," kata Renata, dan kebenaran itu menusuknya saat ia mengucapkannya. "Dari sebelum awal. Orang ini lebih muda. Sumarno bertemu dengannya tiga tahun lalu. Damar, dia bukan kaki tangan." Renata menatap pantulan wajahnya sendiri di jendela gelap. "Dia penerus."