Jenazah itu masuk ke kamar mayat RSUD Wijaya Kusuma pukul 06.10, dua hari setelah telepon malam itu.
Renata sudah ada di sana sejak subuh. Ia tidak bisa tidur lagi. Ia hanya menunggu, dengan rasa mual yang tidak kunjung pergi, kepastian yang ia tahu akan datang. Saat brankar didorong masuk dan petugas IGD menyerahkan formulir, ia membaca penyebab kematian yang tertulis di sana — "henti jantung, dugaan serangan jantung" — dan tahu sebelum ia membuka kantong jenazah bahwa orang ini tidak mati karena jantungnya.
Korban: laki-laki, sekitar lima puluh tahun. Wajah tenang, seperti tidur. Renata mengenali sebagian wajah itu dari arsip yang ia dan Damar pelajari minggu lalu. Hartono. Mantan kepala bagian pengadaan di sebuah dinas, yang tiga tahun lalu lolos dari kasus korupsi alat kesehatan karena berkasnya "hilang" sebelum sidang. Alat kesehatan palsu yang ia loloskan, menurut catatan Surya, telah membunuh setidaknya dua pasien di IGD.
Nama Hartono ada di buku Surya. Belum dicoret. Sampai sekarang.
Renata memakai sarung tangan dengan tangan yang ia paksa tidak gemetar. Ia memeriksa metodis, persis seperti yang diajarkan profesinya, persis seperti yang ia lakukan pada Hendra di bab pertama hidupnya yang berubah. Konjungtiva — bersih, tidak ada petechiae kali ini. Bukan pencekikan. Ia memeriksa lipat siku. Kiri. Di sana: titik suntikan tunggal, rapi, di vena yang dipilih dengan presisi seseorang yang tahu anatomi. Persis seperti Lestari.
Kalium klorida, pikir Renata. Atau sesuatu seperti itu. Henti jantung yang menyamar sebagai serangan jantung. Butuh toksikologi untuk membuktikan, tapi tangannya sudah tahu.
Lalu ia memeriksa genggaman tangan kanan korban.
Ada kertas di sana. Dilipat kecil, ditempatkan dengan sengaja, persis seperti Hendra. Renata mengeluarkannya dengan pinset, membukanya pelan di bawah lampu.
Tulisannya rapi. Tinta hitam. Dan di sudut kanan bawah, cetakan timbul yang ia kenal — tapi ia harus melihat dua kali, karena ada sesuatu yang berbeda.
Pesannya berbunyi:
"Hartono meloloskan alat yang membunuh pasien demi komisi. Pengadilan kehilangan berkasnya. Saya tidak. Selamat pagi, Dokter Renata. Surya beristirahat sekarang. Tapi kelas belum bubar. Bacalah."
Renata membaca tiga kali. Lalu ia melihat lambang di sudut kertas, dan napasnya tertahan.
Bukan Asklepios. Tongkat dengan satu ular, tanpa sayap — itu lambang yang selalu Surya pakai, lambang kedokteran sejati. Tapi lambang di kertas ini berbeda. Dua ular. Sayap di atas tongkat.
Caduceus.
Renata berdiri tegak. Ia tahu persis apa artinya, dan ia tahu pelaku pun tahu. Caduceus — lambang dagang yang sering keliru dipakai sebagai simbol medis. Surya membenci kekeliruan itu. Surya memakai Asklepios dengan sengaja, dengan bangga, sebagai tanda ia adalah orang medis sejati yang paham bedanya.
Pelaku baru ini memilih Caduceus. Sengaja. Mustahil tidak sengaja — siapa pun yang Surya latih pasti tahu bedanya. Ini bukan kesalahan. Ini pernyataan.
Renata memotret kertas itu, lalu menyimpannya dalam kantong bukti. Tangannya stabil sekarang, ditopang oleh sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut — keperluan untuk membaca, untuk mengerti, untuk mendahului. Ia menelepon Damar dan Tim Forensik resmi. Tidak ada lagi bekerja diam-diam berdua. Ini sudah jadi pembunuhan berantai aktif, dengan Surya di balik jeruji.
Pak Surya dipenjara. Tapi pembunuhan berlanjut.
Saat Damar tiba, wajahnya keras. Ia melihat jenazah Hartono, lalu kertas dalam kantong bukti, lalu lambang di sudutnya.
"Caduceus," kata Damar pelan.
"Dia tahu bedanya," kata Renata. "Dan dia memilih yang salah. Dengan sengaja."
Damar menatapnya. "Kenapa? Kalau Surya bangga jadi medis sejati, kenapa penerusnya memakai lambang yang dibenci gurunya?"
Renata memandang lambang dua ular bersayap itu, dan jawabannya datang ke kepalanya seperti dingin yang merayap dari lantai. Tapi ia belum mau mengucapkannya. Belum yakin. Ia hanya berkata:
"Karena dia ingin kita tahu dia bukan Surya. Dia ingin kita tahu dia berbeda." Renata menutup kantong jenazah Hartono perlahan, dengan rasa hormat yang ia berikan pada setiap orang mati, bahkan yang berdosa. "Pertanyaannya, Damar — dia meniru gurunya, atau dia mengkhianatinya?"
Di luar, pagi merangkak naik di atas Kota Praja, dan untuk pertama kalinya sejak Surya ditahan, ada nama baru yang dicoret dari daftar yang seharusnya sudah mati bersama pembuatnya.