Renata menyebar tiga lembar kertas di meja ruang diskusi: kertas dari genggaman Hendra, kertas dari kamar Lestari, dan kertas baru dari tangan Hartono. Di sampingnya, kaca pembesar dan lampu meja yang ia miringkan agar tinta memantul pada sudut tertentu.
"Tulisan tangan tidak berbohong," kata Renata. "Sama seperti jenazah."
Damar berdiri di seberang meja, menonton. Ia sudah memanggil seorang ahli dokumen dari laboratorium forensik Polda untuk pemeriksaan resmi, tapi Renata ingin melihat sendiri dulu. Ia memiliki mata yang terlatih mencari pola, dan pola adalah tanda tangan jiwa.
"Lihat huruf 'g'," kata Renata, menunjuk. "Di kertas Surya — Hendra dan Lestari — ekor huruf 'g' membentuk lingkaran penuh, tertutup. Konsisten. Orang yang menulisnya tenang, terkendali, sudah tua dengan kebiasaan tangan yang mengeras puluhan tahun." Ia menggeser kaca pembesar ke kertas Hartono. "Sekarang yang ini. Ekor 'g' juga melingkar. Tapi lihat — ada sedikit getaran di tarikan bawah. Tekanan pena lebih kuat. Tangan yang lebih muda, lebih cepat, lebih bersemangat."
Damar mencondongkan badan. "Jadi orang berbeda."
"Orang berbeda yang mencoba menulis seperti orang pertama." Renata mundur, menatap ketiga kertas itu bersamaan. "Ini bukan kebetulan kemiripan. Ini latihan. Seseorang menghabiskan waktu mempelajari tulisan Surya dan menirunya. Tapi tubuh tidak bisa berbohong sempurna. Tubuhnya sendiri muda, dan kemudaan itu bocor ke ujung pena."
"Pemalsu tulisan," kata Damar.
"Bukan pemalsu." Renata menggeleng. "Pemalsu meniru untuk menyembunyikan dirinya. Orang ini meniru untuk menunjukkan dirinya keturunan Surya. Dia ingin kita tahu garis silsilahnya. Lihat lambangnya — dia bahkan tidak menyembunyikan bahwa dia berbeda. Caduceus, bukan Asklepios. Dia berkata: aku murid Surya, tapi aku bukan Surya."
Damar menarik kursi dan duduk perlahan, menjaga lengannya yang terluka. "Penerus."
"Penerus." Renata mengucapkan kata itu seperti mencicipi sesuatu yang pahit. "Surya tidak bertindak sendiri selama ini. Tapi bukan dalam arti ada komplotan sederajat. Dia melatih seseorang. Bertahun-tahun. Mungkin sejak tiga tahun lalu." Ia teringat Sumarno, ancaman yang rapi, pria muda dengan mata tua. "Sejak Surya pindah ke kamar mayat."
Damar mengambil salah satu kertas dengan hati-hati. "Kalau penerus ini sudah aktif tiga tahun lalu — meneror saksi, membersihkan jejak — kenapa baru sekarang dia mulai membunuh dengan pesan dan lambang? Kenapa menunggu sampai Surya ditangkap?"
Pertanyaan bagus. Renata berjalan ke papan tempat mereka menempel foto dan benang merah. "Karena selama Surya bebas, Surya yang menulis. Penerus belajar, mempersiapkan jalan — membersihkan saksi, membuka berkas, mengatur akses. Dia tangan, Surya kepala." Ia menunjuk foto Surya yang ramah-menipu itu. "Tapi sekarang kepalanya di penjara. Jadi tangan harus jadi kepala. Penerus naik kelas. Dan pesan Hartono adalah pidato kelulusannya."
"'Kelas belum bubar,'" kutip Damar dari kertas itu. Wajahnya muram.
"Tepat."
Mereka diam sejenak. Di luar jendela basement, lorong sepi seperti biasa. Renata sadar betapa kebiasaan ini — bekerja di basement, dekat kamar mayat — kini terasa berbahaya dengan cara yang dulu tidak. Karena penerus ini, siapa pun dia, kemungkinan besar adalah orang yang bekerja di gedung yang sama. Bergerak di lorong yang sama. Mungkin menyapanya di lift.
"Damar," kata Renata pelan. "Kalau dia penerus, dan Surya melatihnya tiga tahun, berarti dia harus dekat dengan Surya. Harus punya akses ke kamar mayat, atau ke IGD tempat Surya dulu bekerja, atau ke arsip. Harus punya pelatihan medis — dia tahu vena, tahu dosis, tahu cara menyamarkan kematian sebagai serangan jantung."
"Tenaga medis," kata Damar. "Muda."
"Tenaga medis muda yang kehilangan seseorang." Renata teringat motif Surya — korban kejahatan yang mati di tangannya di IGD. "Surya tidak melatih orang acak. Dia memilih seseorang yang punya luka yang sama. Seseorang yang juga kehilangan orang karena kejahatan yang lolos hukum. Itu cara Surya merekrut. Bukan dengan uang. Dengan luka."
Damar memandangnya lama. "Itu mempersempit daftar."
"Tapi tidak cukup sempit." Renata menatap kembali ketiga kertas. Tiruan, atau penerus. Sekarang ia tahu jawabannya. Bukan tiruan — tiruan tidak akan mengubah lambang dengan sengaja. Penerus, yang sudah cukup tumbuh untuk mulai memberontak terhadap gurunya, satu lambang pada satu waktu.
Dan itu, pikir Renata, mungkin satu-satunya celah yang mereka punya. Karena murid yang mulai berbeda dari gurunya adalah murid yang mulai membuat keputusan sendiri. Dan keputusan sendiri membuat kesalahan.
"Aku perlu bicara dengan Surya," kata Renata.
Damar mendongak tajam. "Renata—"
"Dia melatih orang ini. Dia tahu siapa orang ini." Renata menatap rekannya. "Dan satu hal yang aku tahu tentang Surya: dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membaca saya. Mungkin sekarang giliran saya membaca dia."