Rumah tahanan Polres berbau disinfektan murahan dan kelembapan. Renata berjalan di lorong sel dengan seorang sipir di depannya dan Damar di belakang — Damar yang bersikeras ikut, walau ia hanya boleh menonton dari balik kaca, karena Surya menolak bicara jika Damar ada di ruangan yang sama.
"Sel nomor tujuh," kata sipir, berhenti.
Pak Surya duduk di tepi ranjang besi, tangan terlipat di pangkuan, punggung tegak. Tiga minggu di tahanan tidak mengubahnya. Rambut putihnya tetap rapi. Wajahnya tetap tenang dengan keramahan yang membuat orang lupa apa yang ada di baliknya. Saat Renata masuk, ia mendongak dan tersenyum, seolah menyambut tamu di rumahnya sendiri.
"Selamat pagi, Bu Dokter," katanya, dengan suara yang persis seperti dulu di lorong basement. "Saya kira Anda tidak akan datang. Anda menunda tiga minggu."
Renata duduk di kursi besi di seberang jeruji. Ia tidak membawa apa-apa kecuali sebuah map. Ia tidak membukanya.
"Ada jenazah baru, Pak Surya," kata Renata. "Hartono. Kemarin pagi."
Surya tidak terkejut. Itu yang Renata perhatikan pertama. Tidak ada kedipan, tidak ada kerutan. Hanya senyum yang melembut sedikit, seperti orang tua yang bangga.
"Hartono," ulang Surya. "Alat kesehatan palsu. Dua pasien mati. Berkasnya hilang sebelum sidang." Ia mengangguk pelan. "Penyakit yang lama. Saya senang seseorang merawatnya."
"Anda di sini," kata Renata. "Di sel ini. Selama tiga minggu. Jadi bukan Anda yang menyuntiknya."
"Tentu bukan saya." Surya menatapnya, dan ada sesuatu di matanya yang Renata tidak suka — kebanggaan, hangat dan tenang. "Saya menulis, Bu Dokter. Orang lain melanjutkan. Bukankah itu tujuan setiap guru?"
Renata menjaga wajahnya datar. Inilah yang ia cari — pengakuan adanya penerus, dan Surya memberikannya tanpa diminta, hampir tak sabar. Ia bangga. Ia ingin Renata tahu pekerjaannya tidak berhenti.
"Siapa dia," kata Renata.
Surya tersenyum lebih lebar. "Anda tahu saya tidak akan menjawab itu."
"Dia memakai Caduceus," kata Renata.
Dan untuk pertama kalinya, senyum Surya berkedut. Hanya sepersekian detik. Tapi Renata melihatnya — ia terlatih melihat hal-hal kecil di wajah, di tubuh, hal-hal yang dikira orang tersembunyi. Caduceus mengusiknya. Lambang yang salah. Lambang yang Surya benci.
"Anda terganggu," kata Renata pelan. "Anda mengajarinya bedanya. Asklepios — kedokteran sejati. Caduceus — dagang, kepalsuan. Anda pasti mengajarinya itu dengan bangga. Dan dia memilih Caduceus. Untuk menentang Anda."
Surya diam. Tangannya, yang tadi terlipat tenang, kini menggenggam sedikit lebih erat.
"Murid Anda mulai membangkang, Pak Surya," lanjut Renata. Ia mencondongkan badan. "Anda membunuh untuk menghapus penyakit. Orang-orang yang lolos hukum, yang korbannya mati di tangan Anda di IGD. Itu kode Anda. Itu batas Anda. Tapi murid Anda — apa batasnya?"
"Dia mengikuti daftar," kata Surya. Tapi suaranya kehilangan sebagian kepercayaan dirinya.
"Apakah dia?" Renata membuka map sekarang, mengeluarkan satu lembar — fotokopi kertas Hartono. Ia menempelkannya ke jeruji agar Surya bisa melihat lambang Caduceus di sudutnya. "Pak Surya, Anda mengikuti aturan Anda sendiri selama bertahun-tahun. Tidak ada orang tak bersalah. Hanya penjahat yang lolos. Anda bahkan membiarkan saya hidup karena saya 'pembaca'. Anda punya garis. Tapi orang yang Anda latih—" Renata menatapnya, "—saya rasa dia tidak punya garis Anda. Saya rasa dia menghapus huruf-huruf Anda dan menulis aturannya sendiri. Dan Anda tahu itu. Itu sebabnya senyum Anda berhenti tadi."
Surya menatap kertas itu lama. Lalu ke wajah Renata. Untuk sesaat, di balik ketenangan itu, Renata melihat sesuatu yang ia tidak duga: keraguan. Mungkin bahkan ketakutan.
"Anda memang yang paling cepat," kata Surya akhirnya, suaranya pelan. "Itu sebabnya saya memilih Anda untuk membaca. Saya ingin pesan saya dibaca oleh seseorang yang layak."
"Pesan Anda sudah dibaca," kata Renata. "Tapi sekarang ada orang yang menulis ulang pesan itu, dan saya tidak yakin Anda bisa mengendalikannya dari sini. Bantu saya, Pak Surya. Sebelum dia membunuh seseorang yang bahkan tidak ada di daftar Anda."
Surya menutup mata sejenak. Lalu membukanya, dan ketenangan itu kembali, dinding itu naik lagi.
"Saya tidak bisa membantu Anda menangkapnya, Bu Dokter," katanya. "Tapi saya bisa memberi Anda satu hal. Karena saya menghormati cara Anda membaca." Ia mencondongkan badan ke jeruji, dan suaranya turun jadi bisikan. "Dia tidak meninggalkan jejak di luar. Dia tidak ceroboh di lapangan. Kalau Anda ingin menemukannya, jangan cari di tempat para korban jatuh. Cari di tempat angka-angka berbohong."
Renata mengernyit. "Apa maksudnya?"
Tapi Surya sudah duduk kembali, melipat tangan, tersenyum tipis. "Selamat pagi, Bu Dokter. Kunci pintu Anda."
Di balik kaca, Damar menatap, dan Renata tahu ia mendengar kalimat itu juga. Kunci pintu Anda. Persis yang penerus katakan di telepon. Guru dan murid memakai kata yang sama. Tapi Renata menyimpan kalimat yang lain di kepalanya, kalimat yang baru saja Surya berikan seperti remah roti di hutan gelap.
Cari di tempat angka-angka berbohong.