"Angka-angka yang berbohong," kata Damar di mobil, dalam perjalanan kembali ke RSUD. "Itu bisa berarti apa saja. Surya suka teka-teki."
"Bukan teka-teki untuk menyiksa," kata Renata, menatap jalan. "Teka-teki karena dia tidak bisa menyebutnya langsung. Dia melindungi penerus, tapi dia juga takut pada penerus. Jadi dia memberi petunjuk yang hanya bisa dibaca orang yang sudah dekat dengan jawabannya."
Mereka belum tahu apa arti petunjuk itu. Tapi sore itu, sebuah peristiwa lain menjawab pertanyaan yang lebih mendesak.
Damar menerima telepon dari kantornya. Wajahnya berubah saat mendengarkan. Saat menutup, ia memandang Renata dengan ekspresi yang Renata belajar takuti.
"Detail TKP Hartono bocor," kata Damar. "Posisi suntikan. Isi kertas di tangannya. Lambang Caduceus. Semuanya muncul di forum daring tadi siang. Lengkap. Akurat."
Renata terdiam. "Itu tidak masuk akal. Detail itu cuma diketahui—"
"Tim forensik. Aku. Kamu. Beberapa penyidik yang menangani." Damar menyebut jumlahnya. "Belasan orang. Tidak lebih. Dan salah satu dari belasan orang itu membocorkannya dalam hitungan jam."
Mereka duduk diam di mobil yang berhenti di lampu merah. Renata merasakan kebenaran lama itu kembali, kebenaran yang sudah mengusik mereka sejak bab-bab awal: ada kebocoran internal. Saat kasus pertama, Surya tahu jadwal jaga forensik yang tidak dipublikasikan. Surya tahu detail kejahatan yang bahkan tidak ada di berkas. Mereka pikir itu karena Surya orang dalam — petugas kamar mayat, perawat IGD lama. Tapi Surya di penjara sekarang. Dan kebocoran berlanjut.
"Ada orang dalam yang masih aktif," kata Renata pelan. "Bukan Surya. Penerus, atau seseorang yang membantu penerus. Dan orang itu ada di dalam tim kita. Atau dekat dengannya."
Damar mencengkeram setir dengan tangan kirinya. "Kalau detail TKP bocor secepat itu, orangnya ada di dalam lingkaran penyelidikan resmi. Forensik atau Reskrim."
"Atau," kata Renata, dan ini lebih buruk, "penerus sendiri ada di dalam lingkaran itu. Dia tidak perlu kebocoran kalau dia hadir di TKP. Sebagai apa? Tenaga medis. Petugas. Staf forensik. Seseorang yang punya alasan sah untuk ada di sana."
Lampu hijau. Damar tidak langsung bergerak sampai klakson di belakang membangunkannya.
Di RSUD, mereka menemui Tim Forensik resmi di ruang patologi. Renata memperhatikan setiap wajah sekarang dengan cara baru. Asisten lab yang sudah ia kenal bertahun-tahun. Petugas yang menggantikan Surya di kamar mayat — orang baru, pendiam, yang Renata sadari ia hampir tidak kenal. Teknisi laboratorium yang menangani sampel toksikologi.
Salah satu dari mereka, atau seseorang yang mereka percaya, sedang memberi makan informasi ke pembunuh.
"Kita harus menyaring," kata Damar pelan saat mereka berdua kembali ke ruang diskusi. "Tutup arus informasi. Detail TKP berikutnya tidak boleh dibagi ke seluruh tim. Hanya kamu, aku, dan dua orang yang aku percaya sepenuhnya."
"Kamu yakin ada dua orang yang bisa kamu percaya sepenuhnya?" tanya Renata.
Damar tidak menjawab langsung. Pertanyaan itu menggantung. Karena di Polres, setelah semua yang terjadi, kepercayaan sudah menjadi barang langka. Atasannya masih ingin menutup kasus cepat dengan Surya sebagai pelaku tunggal. Beberapa rekannya mungkin diam-diam mengagumi "malaikat keadilan". Dan satu di antara mereka, mungkin, adalah tangan penerus di dalam institusi.
"Renata," kata Damar akhirnya. "Surya bilang cari di tempat angka-angka berbohong. Detail TKP yang bocor itu — itu angka. Posisi. Dosis. Tapi mungkin dia tidak bicara soal kebocoran." Damar mengernyit. "Mungkin dia bicara soal data yang dipalsukan, bukan sekadar dibocorkan."
Renata berhenti. Ia menatap rekannya. "Hasil lab."
"Hasil lab," ulang Damar. "Toksikologi. Kamu bilang kamu mencurigai kalium klorida pada Hartono. Sudah kembali hasilnya?"
Renata merasa dingin di tengkuk. Ia belum mengecek. Sampel Hartono sudah dikirim ke laboratorium dua hari lalu. Hasilnya harusnya keluar pagi ini. Ia mengeluarkan ponsel, menelepon lab, menunggu, mendengarkan.
Saat ia menutup telepon, wajahnya pucat.
"Negatif," katanya. "Hasil toksikologi Hartono negatif. Tidak ada kalium klorida. Tidak ada zat asing. Menurut lab, dia memang mati karena serangan jantung."
Damar menatapnya. "Tapi kamu melihat titik suntikan."
"Aku melihat titik suntikan," kata Renata, suaranya rendah dan tajam. "Aku memotretnya. Aku mencatatnya. Tubuh itu tidak berbohong." Ia menggenggam ponsel erat-erat. "Tapi hasil labnya berbohong, Damar. Seseorang membuat angka-angka itu berbohong."
Cari di tempat angka-angka berbohong.
Surya tidak memberi teka-teki. Ia memberi alamat.