Ruang besuk tahanan berbau disinfektan murah dan keringat. Pak Surya duduk di balik kaca pembatas, mengenakan rompi tahanan oranye yang membuat wajahnya tampak lebih tua, lebih kelabu. Tapi matanya tidak berubah—tenang, ramah, seperti petugas kamar mayat yang dulu menyapanya "Selamat pagi, Bu Dokter" sambil menyodorkan kopi.
"Saya tahu Anda akan datang," kata Surya. Ia tersenyum tipis. "Anda selalu datang ketika ada pesan yang belum selesai dibaca."
Renata duduk. Ia tidak membawa rekaman resmi—ini bukan interogasi, atasan Damar tak tahu ia di sini. Hanya dua orang yang dipisahkan kaca dan kebenaran.
"Ada pembunuhan baru, Pak," kata Renata. "Anda tahu itu. Toksikologi yang dimanipulasi. Kertas bertanda R dengan tulisan yang meniru tulisan Anda. Anda di sel ini, tapi pesan Anda masih berjalan."
"Saya menulis," kata Surya pelan. "Orang lain melanjutkan. Saya pernah bilang itu pada Anda."
"Reza Pratama."
Untuk pertama kalinya dalam semua pertemuan mereka, sesuatu bergeser di wajah Surya. Bukan kaget—lelaki ini terlalu terlatih untuk kaget. Tapi sebuah kelelahan, seperti orang yang melihat batu yang ia lempar ke kolam akhirnya kembali menghantam dadanya.
"Anda menemukannya lebih cepat dari yang saya kira," kata Surya. "Lagi-lagi. Itu sebabnya saya memilih Anda."
"Adiknya mati di IGD Anda. Bagas. Sepuluh tahun." Renata mencondongkan tubuh. "Anda menyaksikan adik Anda sendiri—tidak, bukan adik Anda. Tapi anak itu, di meja yang sama tempat Anda kehilangan keyakinan. Lalu Anda menemukan Reza, anak yang sama-sama hancur, dan Anda membuatnya menjadi seperti Anda. Anda menjadikannya senjata."
Surya menutup mata sejenak. Ketika ia membukanya, ada sesuatu yang Renata tak pernah lihat sebelumnya: penyesalan, tapi bukan untuk pembunuhan. Penyesalan seorang guru.
"Saya kira saya memberinya tujuan," kata Surya. "Anak itu mau mati, Bu Dokter. Setelah ibunya menyusul adiknya, Reza datang ke kamar mayat malam-malam, hanya untuk duduk dekat jenazah orang asing, karena tidak tahu harus ke mana lagi. Saya memberinya pekerjaan. Saya memberinya... daftar. Saya pikir kalau ia punya alasan untuk bangun pagi, ia tidak akan mati."
"Anda menjadikannya pembunuh."
"Saya menjadikannya hidup." Suara Surya retak, hanya sedikit. "Tapi saya membuat satu kesalahan. Saya mengajarinya membaca penyakit, tapi saya lupa mengajarinya berhenti. Sekarang ia tidak bisa membedakan lagi mana penyakit, mana orang yang sekadar menghalangi. Ia akan membunuh siapa saja. Termasuk Anda."
Renata mengamati lelaki di balik kaca itu. Selama ini ia melihat Surya sebagai monster yang tenang—seseorang yang membunuh dengan ketelitian seorang ahli bedah, tanpa getar, tanpa ragu. Tapi sekarang, di ruang besuk yang berbau disinfektan murah, ia melihat sesuatu yang lebih mengganggu daripada monster: ia melihat seorang lelaki tua yang ketakutan oleh apa yang ia ciptakan. Ketakutan yang sama yang dirasakan seorang ayah ketika anaknya melampaui dirinya dalam hal yang seharusnya tak pernah diturunkan.
"Anda menyayanginya," kata Renata pelan. Bukan tuduhan. Sebuah pembacaan.
Surya tidak menjawab langsung. Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang sudah tak lagi memegang pisau bedah, tangan yang kini hanya bisa diam di balik kaca. "Saya tidak punya anak, Bu Dokter," akhirnya ia berkata. "Reza yang paling dekat. Dan saya menghancurkannya, sama seperti dunia menghancurkan saya. Mungkin itu yang selalu kita lakukan pada orang yang kita anggap mirip diri kita—kita membuat mereka mengulang luka kita."
Renata menahan napas. "Anda bilang saya pembaca. Anda bilang saya harus hidup."
"Itu aturan saya," kata Surya. "Bukan aturannya. Reza tidak butuh pembaca. Ia butuh kemarahan, dan kemarahan tidak pernah kenyang." Ia menatap Renata lurus. "Saya akan memberi Anda satu hal, Bu Dokter. Bukan karena saya menyesal pada yang lain—saya tidak. Tapi karena saya tidak mau ciptaan saya membunuh satu-satunya orang yang membaca saya dengan benar."
Ia menempelkan telapak tangan ke kaca. "Reza punya tempat. Bukan sayap lama—itu sudah Anda temukan. Tempat baru. Carilah di mana pengadaan alat bedah RS dibuang. Ia menyimpan pisau-pisaunya di tempat yang tak akan dicurigai siapa pun, karena tempat itu memang seharusnya berisi pisau. Dan satu lagi—" Surya menurunkan suaranya. "Ia tidak menulis di buku. Ia menulis di tubuh. Periksa lagi korban terakhir. Yang Anda kira hanya satu suntikan."
Renata berdiri, jantungnya berdebar. "Kenapa Anda membantu saya?"
Surya tersenyum lelah, tangannya masih di kaca. "Karena Anda bertanya 'kenapa', Bu Dokter. Reza tidak pernah bertanya itu lagi. Itulah bedanya orang yang masih bisa diselamatkan dengan yang tidak."
Renata berbalik untuk pergi, lalu berhenti di pintu. Ada satu pertanyaan yang menggantung sejak ia membuka akta Bagas Pratama. "Pak Surya. Adik Reza, Bagas. Saat dia mati di IGD malam itu—Anda di sana?"
Surya menutup mata. Untuk waktu yang lama ia tidak bicara, dan ketika ia bicara, suaranya nyaris tak terdengar lewat lubang kecil di kaca. "Saya yang menutup matanya, Bu Dokter. Sepuluh tahun. Saya yang memegang tangan ibunya di lorong sementara dokter Yoga keluar dengan wajah yang sudah saya kenal—wajah yang artinya kita kalah. Dan keesokan paginya, surat kabar menulis 'kecelakaan tunggal'. Pengemudinya, Hendra, sudah bebas dengan jaminan sebelum jenazah anak itu dingin." Ia membuka mata. "Saya sudah membunuh sebelum Bagas. Tapi Bagas yang mengajari saya bahwa membunuh saja tidak cukup. Pesan harus dibaca, atau penyakit akan kembali tumbuh. Dan Anda, Bu Dokter—Andalah pembaca yang saya tunggu dua puluh tahun."
Renata keluar dari ruang besuk dengan kepala penuh dan tangan yang dingin. Di lorong tahanan, ia berhenti menyandar ke dinding, dan untuk satu menit penuh ia hanya bernapas. Surya baru saja memberinya peta—pisau yang disembunyikan di tempat pembuangan alat bedah, dan tanda tersembunyi di tubuh korban. Tapi ia juga memberinya sesuatu yang lebih berat: nama seorang anak, dan kepastian bahwa teror ini lahir dari sebuah malam di IGD ketika sistem hukum memilih diam.