Damar membuka pintu apartemennya dengan lengan kiri masih dibebat—luka pisau dari basement belum sepenuhnya sembuh, dan skorsing membuatnya tampak seperti orang yang dirampas separuh dirinya. Tapi matanya menyala ketika Renata menjelaskan semuanya: Reza, adik yang mati, pengakuan Surya, pisau yang disembunyikan di tempat pembuangan alat bedah.
"Kita tidak bisa menangkapnya," kata Damar, berjalan mondar-mandir di ruang sempit yang penuh papan dan benang merah—markas tak resmi yang kini berpindah ke rumahnya. "Tidak dengan bukti ini. Akta kematian dan pengakuan dari mulut pelaku yang divonis gila publik? Atasan saya akan tertawa, lalu menutup mulut Anda dengan tuduhan menghalangi proses."
"Maka kita tidak menangkapnya," kata Renata. "Kita membuatnya datang sendiri."
Damar berhenti. "Perangkap."
"Reza membaca manusia seperti membaca jenazah—Surya mengajarinya begitu. Tapi pembaca bisa dibaca balik." Renata meletakkan satu foto di meja: laporan kematian korban terakhir, yang ia periksa ulang sesuai petunjuk Surya. Bukan satu suntikan. Dua. Yang kedua tersembunyi di lipat paha, tertulis di tubuh: sebuah pesan dalam darah dan jaringan. "Reza meninggalkan tanda di setiap tubuh yang hanya bisa dibaca oleh seseorang yang tahu cara membaca. Dia menulis untuk saya. Dia ingin saya membacanya."
Damar mengambil foto itu, mengernyit melihat luka tusuk halus di lipat paha—tempat yang nyaris tak akan diperiksa siapa pun dalam otopsi rutin, kecuali ada yang mencari. "Berapa lama ini luput?"
"Tiga minggu. Patolog yang menangani menyimpulkan henti jantung. Dia tidak salah secara teknis—jantung memang berhenti. Tapi dia tidak membalik tubuhnya, tidak membuka lipatan." Renata mengetuk foto. "Reza tahu itu. Dia tahu sistem hanya akan melihat permukaan. Maka dia menulis di bawah permukaan, untuk satu orang yang dia tahu akan membalik tubuhnya."
"Jadi dia memang masih menganggap Anda pembaca."
"Sebagian dirinya." Renata duduk. "Sebagian lagi ingin saya mati karena saya mendekat. Itu kelemahannya, Damar. Dia terbelah. Surya utuh—dingin, satu tujuan. Reza masih anak yang berduka. Kalau saya beri dia sesuatu yang membuat 'pembaca' dalam dirinya menang, dia akan datang untuk menulis, bukan untuk membunuh."
Damar menatapnya, separuh kagum, separuh ngeri. "Anda mau menjadi umpan."
"Saya mau menjadi alasan." Renata menggambar di papan: sebuah skenario. Ia akan mengumumkan—lewat saluran yang ia tahu bocor, lewat orang yang ia curigai membocorkan ke media—bahwa ia menemukan "buku catatan kedua", catatan penerus, dan akan menyerahkannya sebagai bukti di persidangan Surya yang sebentar lagi dibuka. "Reza tidak akan membiarkan catatannya jatuh ke pengadilan. Buku itu—kalau memang ada—adalah dirinya. Dia akan datang untuk mengambilnya. Dan kita akan menunggu."
"Di mana?"
"Di laboratorium patologi. Tempat kerjanya. Tempat kerja saya." Renata menunjuk denah RS. "Pukul empat pagi. Jam ketika hanya orang mati dan saya yang ada di sana. Saya akan sendirian—tampaknya. Anda dan pengawas piket di ruang sebelah."
Damar menggeleng. "Atasan saya tak akan mengizinkan operasi. Saya diskors."
"Maka ini bukan operasi." Renata menatapnya. "Ini pengaman mati. Sama seperti basement. Saya turun, Anda menunggu di luar dengan instruksi: kalau saya tidak menelepon sebelum azan subuh, Anda masuk dengan siapa pun yang bisa Anda percaya, surat perintah atau tidak."
"Itu gila, Renata."
"Itu berhasil sekali." Ia mengumpulkan fotonya. "Dan kali ini saya tidak masuk ke ruang gelap milik dia. Saya membuat dia masuk ke ruang terang milik saya. Di laboratorium, saya yang membaca. Bukan dia."
Damar memandanginya lama. Lalu ia mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya sejak diskors, ia tampak seperti penyidik lagi, bukan orang yang dirampas.
"Tiga hari," katanya. "Saya atur orangnya. Tapi Renata—" Ia menyentuh lengannya yang dibebat. "Surya yang menyayat saya di basement, dan dia sudah tua. Reza lebih cepat. Lebih lapar. Jangan beri dia dua sentimeter pun."
Renata menatap bebat di lengan Damar, kain putih yang masih merembes samar di tepi. Ia ingat malam di basement, ketika pisau bedah Surya menemukan lengan Damar dalam gelap—luka yang ditinggalkan tangan tua itu saat keduanya bergulat. Surya sudah cepat. Tapi yang membuat Renata merinding adalah tangan yang belum pernah ia lihat: murid yang belajar di sayap lama, yang tangannya lebih muda, lebih cepat, lebih lapar. Kalau Surya saja bisa menyayat sedalam ini, Reza akan jauh lebih berbahaya.
"Saya tidak akan masuk ke ruang gelapnya," kata Renata pelan. "Saya akan membuat dia masuk ke ruang terang saya. Tapi ada satu hal yang saya butuh dari Anda, Damar. Kalau rencana ini gagal—kalau saya yang dua sentimeter—Anda tidak boleh berhenti. Buku ini," ia menunjuk salinan akta Bagas di papan, "harus sampai ke pengadilan. Apa pun yang terjadi pada saya."
Damar tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras, dan Renata mengerti itu sebagai janji yang tak ingin ia ucapkan. Mereka berdua tahu permainan ini, sejak basement: setiap pembaca menyiapkan pengaman, karena pesan tidak boleh mati bersama pembacanya.