Pagi datang dengan cahaya yang seharusnya menenangkan, tapi Arsa membawa kantung gelap di bawah matanya ke meja makan. Ia memutuskan tidak menceritakan apa pun pada Nita. Untuk apa? Ia bahkan belum bisa meyakinkan dirinya sendiri. Lagipula, dengan sinar matahari yang masuk lewat jendela dapur, peristiwa semalam terasa seperti mimpi buruk yang konyol.
Tapi gangguan kecil itu tidak menunggu malam.
Mereka dimulai dengan bau. Tiga hari pertama, bau melati datang dan pergi tanpa pola. Kadang menyergap Nita di dapur, tiba-tiba, lalu lenyap secepat datangnya. Kadang Arsa menciumnya di kamar mandi, kadang di tangga. Mereka sudah memeriksa: tak ada tanaman melati di halaman, tak ada di rumah tetangga terdekat, tak ada pewangi ruangan yang tertinggal pemilik lama.
"Mungkin meresap di kayunya," kata Nita, mencoba masuk akal. "Pemilik lama suka melati, kali."
Arsa mengangguk, lega ada penjelasan yang bisa dipegang. Tapi penjelasan itu retak ketika bau melati mulai disertai hal lain.
Barang-barang berpindah. Bukan dengan dramatis—tak ada gelas terbang atau pintu membanting. Tapi cangkir yang Nita letakkan di kanan wastafel ditemukan di kiri. Sandal Bila yang ditaruh di depan kamar berpindah ke kaki tangga, menghadap ke atas, rapi berjajar seakan ada yang akan memakainya untuk naik. Foto keluarga yang baru mereka gantung di ruang tamu miring sendiri setiap kali Arsa meluruskannya, sampai akhirnya ia menyerah dan membiarkannya miring.
"Kamu yang mindahin cangkir aku?" tanya Nita suatu siang, nadanya mulai tak nyaman.
"Enggak. Kupikir kamu."
Mereka saling pandang sebentar, lalu sama-sama mengalihkan pandangan, sama-sama memilih tidak melanjutkan pikiran yang sama.
Bayangan datang pada hari keempat.
Arsa sedang membaca di ruang tamu sore itu ketika ia melihatnya di sudut matanya. Sesuatu yang gelap, tinggi, berdiri diam di sudut ruangan dekat tangga—di tempat cahaya seharusnya jatuh, tapi entah bagaimana tetap gelap. Bentuk manusia, kurus, memanjang, dengan kepala yang sedikit menunduk. Berdiri. Hanya berdiri.
Arsa menoleh penuh.
Sudut itu kosong. Hanya dinding kuning pudar dan bayangan biasa.
Ia kembali ke bukunya dengan tangan agak gemetar, dan dua menit kemudian sosok itu ada lagi di tepi penglihatannya. Selalu di sudut. Selalu hilang saat ditatap langsung. Seakan ia hanya boleh dilihat dengan ekor mata, seakan menatapnya lurus adalah pelanggaran yang membuatnya bersembunyi—atau lebih buruk, membuatnya tahu bahwa ia telah dilihat.
Malam itu, saat menidurkan Bila, anaknya berkata sesuatu yang membuat darah Arsa membeku.
"Ayah, om yang di sudut itu siapa?"
Arsa terdiam, tangannya berhenti membenahi selimut. "Om apa, Sayang?"
"Yang suka berdiri di pojok kamar Bila. Dia diam aja. Bila udah bilang hai, tapi dia nggak jawab." Bila mengucapkannya dengan ringan, dengan ketenangan polos seorang anak yang belum belajar untuk takut. "Tapi dia nggak nakal kok, Yah. Dia cuma liatin Bila tidur."
Arsa memaksakan senyum yang terasa retak di wajahnya. "Itu cuma bayangan, Sayang. Bayangan lemari. Nggak ada om-om."
Bila mengerutkan kening, seakan ayahnya baru saja mengatakan sesuatu yang aneh. "Ada kok," katanya pelan, lalu memeluk bonekanya dan memejamkan mata.
Arsa mematikan lampu dan keluar, tapi di ambang pintu ia berhenti dan memaksa dirinya menoleh ke sudut kamar Bila. Ke pojok yang ditunjuk anaknya.
Gelap di situ lebih pekat dari yang seharusnya. Dan untuk sepersekian detik—mungkin imajinasi, mungkin matanya yang lelah—ia bersumpah pekat itu sedikit bergeser, seperti menyesuaikan diri, seperti memberi tahu bahwa ia memang ada di sana, dan bahwa ia tahu Arsa kini bisa merasakannya.
Bau melati mengalir tipis dari pojok itu. Arsa menutup pintu, dan sepanjang sisa malam ia tidak bisa menghilangkan gambaran sebuah kepala yang menunduk, menatap putrinya yang tertidur, dari sudut yang selalu gelap.