Bila tidak takut. Itulah yang paling mengganggu Arsa.
Dalam seminggu, putrinya yang dulu pemalu di sekolah baru kini punya teman bermain di rumah—teman yang hanya bisa dilihat olehnya. Bila menyebutnya "Mbak". Bukan om yang di sudut, ia menegaskan suatu kali, dengan kejengkelan seorang anak yang merasa orang dewasa selalu salah paham. Mbak itu berbeda. Mbak baik. Mbak yang mengajaknya main.
Mereka mulai melihat tanda-tandanya. Bila menyusun teh-tehan untuk dua orang, menuang air ke dua cangkir plastik, dan berbicara ke kursi kosong di depannya. Ia tertawa pada lelucon yang tak terdengar siapa pun. Ia menyanyikan lagu yang tidak pernah mereka ajarkan—lagu lama, mendayu, dengan bahasa Jawa kuno yang Bila sendiri tak mengerti artinya.
"Mbak yang ngajarin," kata Bila enteng saat Nita bertanya. "Lagunya buat anak biar cepat tidur. Tapi Mbak bilang dulu dia nyanyiin buat adiknya."
Nita menggenggam tangan suaminya di bawah meja makan malam itu, kuat sekali sampai kukunya menancap. Arsa menepuknya, mencoba menenangkan, walau jari-jarinya sendiri sedingin es.
"Anak-anak suka punya teman khayalan," bisik Arsa pada Nita di kamar, mengulang kalimat yang ia baca buru-buru di internet. "Itu normal. Tanda imajinasi yang sehat. Nanti juga hilang sendiri."
Tapi teman khayalan tidak memindahkan benda. Suatu pagi, semua mainan Bila tersusun rapi membentuk lingkaran sempurna di tengah kamarnya, menghadap ke dalam, seakan ada pertemuan yang diadakan semalam. Bila bilang Mbak yang menyusunnya. Teman khayalan tidak meninggalkan jejak basah seperti telapak kaki kecil di lantai kamar mandi padahal Bila kering kerontang. Teman khayalan tidak membuat lampu tidur bulan itu padam sendiri lalu menyala lagi.
Puncaknya terjadi pada hari kesepuluh.
Arsa pulang dari mencari kerja, lelah dan kosong, ketika ia mendengar Bila berbicara di kamarnya. Ia berhenti di lorong, mendengarkan tanpa sadar.
"...iya, nanti Bila kasih tahu Ayah," kata Bila pelan. Hening sebentar, seakan menunggu jawaban. "Tapi Ayah nggak bisa lihat Mbak. Cuma Bila." Hening lagi. Lalu, suara Bila berubah, lebih rendah, hampir berbisik. "Mbak, kenapa Mbak nangis? Mbak kangen adik Mbak, ya?"
Arsa mendorong pintu. Bila duduk sendirian di lantai, menghadap dinding kosong, kepalanya sedikit dimiringkan seperti orang yang sedang menyimak. Tak ada siapa-siapa.
"Bila, sama siapa, Sayang?"
Bila menoleh, wajahnya berseri seperti biasa. "Sama Mbak. Tapi Mbak baru pergi. Dia takut sama Ayah."
Arsa berjongkok di depan anaknya, menahan suaranya agar tetap lembut. "Bila, Mbak ini... namanya siapa?"
Bila berpikir sejenak, mengerutkan hidung. "Mbak nggak mau kasih tahu namanya. Katanya kalau Bila tahu namanya, nanti Bila harus tinggal di sini terus, kayak Mbak." Ia berkata itu sambil bermain dengan ujung kausnya, sama sekali tak menyadari bobot kalimatnya. "Bila boleh tinggal sama Mbak terus nggak, Yah? Mbak nggak punya teman soalnya. Udah lamaaa banget sendirian."
Sesuatu yang dingin merayap naik di punggung Arsa, ruas demi ruas tulang belakangnya. Ia menarik anaknya ke pelukan, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada Bila.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Arsa memindahkan kasur Bila ke kamar utama dengan alasan yang ia karang—katanya supaya lebih hangat, supaya lebih dekat. Bila menurut, tapi sebelum tidur ia memandang ke arah pintu kamarnya yang lama, dan melambai kecil.
"Sampai besok, Mbak," bisiknya.
Dan dari arah kamar kosong itu, tepat saat Arsa hendak menutup pintu kamar utama, terdengar sangat pelan—begitu pelan hingga ia tak yakin benar-benar mendengarnya—seseorang melambai balik. Bukan suara. Hanya gesekan udara. Lalu bau melati yang mengalir ke seluruh rumah, tebal, manis, dan untuk pertama kalinya, Arsa mencium ada yang lain di bawah keharuman itu. Sesuatu yang busuk. Sesuatu seperti bunga yang dibiarkan terlalu lama di atas sesuatu yang membusuk.