Nita mulai retak lebih dulu.
Ia adalah orang yang menghabiskan paling banyak waktu di rumah itu—memasak, membersihkan, menjaga Bila sementara Arsa keluar mencari kerja. Dan rumah itu paling kejam pada orang yang sendirian di siang yang sunyi.
"Aku nggak mau di rumah ini sendirian lagi, Mas," kata Nita suatu malam, suaranya gemetar menahan tangis. Mereka berbisik di dapur, jauh dari kamar tempat Bila tidur. "Tadi siang aku jemur baju di belakang, terus aku denger ada yang nyanyi di dalam rumah. Lagu yang Bila nyanyiin itu. Aku masuk, Bila lagi tidur siang, Mas. Tidur pulas. Tapi nyanyiannya masih kedengeran. Dari atas."
Arsa mengatupkan rahang. "Mungkin radio tetangga—"
"Nggak ada tetangga yang cukup dekat!" Suara Nita pecah, lalu ia menutup mulutnya sendiri, takut membangunkan Bila. Air matanya jatuh. "Mas, kamu tahu sesuatu. Aku lihat dari mukamu. Malam-malam kamu nggak tidur. Kamu naik ke atas waktu kamu pikir aku tidur. Cerita ke aku, Mas. Tolong."
Dan di sinilah Arsa membuat pilihan yang akan ia sesali. Ia memilih menyangkal—bukan karena ia tak percaya, tapi justru karena ia mulai percaya, dan rasa takut itu lebih besar dari kejujuran. Jika ia mengakuinya keras-keras, maka itu menjadi nyata. Selama ia menyangkal, masih ada celah untuk berpura-pura semua baik-baik saja.
"Nit, dengar." Arsa memegang kedua bahu istrinya. "Rumah tua itu memang banyak suaranya. Kayu, angin, pipa air. Otak kita yang capek bikin pola dari suara acak. Ini cuma stres. Kita baru pindah, semua serba baru, wajar kalau kita gampang kaget."
"Lalu bau melati itu? Barang yang pindah-pindah? Mbak-nya Bila? Sama om yang katanya berdiri di pojok kamarnya—yang Bila bilang beda dari Mbak itu?" Nita menyeka pipinya. "Aku nggak tahu mana yang lebih bikin aku takut, Mas. Yang perempuan, atau yang satunya lagi yang nggak pernah dia ceritain banyak-banyak."
"Bila cuma anak kecil dengan imajinasi. Bau itu pasti dari kayunya. Barang—mungkin kita lupa naruh di mana." Ia mendengar betapa hampanya kata-katanya sendiri, betapa setiap kalimat adalah dinding rapuh yang ia bangun untuk menahan banjir. "Kita nggak punya tempat lain, Nit. Ini satu-satunya rumah yang sanggup kita bayar. Kalau kita pergi sekarang, kita mau ke mana? Balik ke kontrakan yang udah nggak ada? Aku belum dapat kerja."
Itu argumen yang menang, dan keduanya tahu. Bukan karena benar, tapi karena tak ada pilihan lain. Kemiskinan adalah penjara yang menahan mereka di rumah ini, dan rumah ini tahu itu.
Nita mengangguk pelan, menyeka air mata, dan menyerah—tidak pada ketenangan, tapi pada kelelahan. "Kita pasang lampu lebih banyak," katanya akhirnya, suara hampa. "Aku nggak mau ada satu sudut pun yang gelap." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, hampir tak terdengar, "Terutama pojok kamar Bila."
Maka mereka memasang lampu di setiap sudut. Mereka membeli lampu murah, menggantungnya di koridor, di tangga, di kamar mandi, membiarkan semuanya menyala sepanjang malam. Tagihan listrik membengkak, tapi gelap berkurang.
Namun cahaya punya cara yang aneh di rumah itu. Alih-alih mengusir, ia memberi tubuh pada bayangan. Dengan lampu menyala, sosok di sudut tidak lagi cuma kepekatan—ia kini punya bayangan sendiri yang jatuh ke lantai, panjang dan kurus, di tempat tak ada yang berdiri. Dan suatu malam, saat Arsa terbangun untuk minum, ia melihat bayangan itu di dinding tangga. Bayangan seorang sosok yang berdiri di puncak tangga, menjulur ke bawah, kepala menunduk.
Ia mendongak. Puncak tangga kosong, terang benderang oleh lampu yang baru ia pasang.
Tapi bayangannya tetap ada di dinding.
Arsa berdiri membeku, gelas di tangannya, menatap bayangan tanpa pemilik itu selama yang ia berani. Lalu, sangat perlahan, bayangan itu mengangkat kepalanya—gerakan yang halus, seperti seseorang yang baru menyadari ada yang memperhatikan—dan walau tak ada wajah, walau tak ada mata, Arsa merasakan tatapan itu menembus dirinya, dingin dan kuno dan penuh kesabaran yang menakutkan. Kepala yang menunduk. Sudut yang gelap. Ini bukan sosok perempuan berbau melati yang menari di tepi penglihatannya, sadar Arsa dengan ngeri—ini yang satu lagi, yang ditunjuk Bila di pojok kamarnya.
Gelas itu lepas dari tangannya dan pecah di lantai. Saat ia menunduk reflek ke arah pecahan, lalu mendongak lagi, bayangan itu sudah lenyap.
Tapi penyangkalannya telah pecah bersama gelas itu. Ia tahu sekarang, jauh di dalam, bahwa ia tak akan bisa menjelaskan ini dengan kelelahan atau pipa air atau imajinasi. Dan ketakutan terbesarnya bukan pada sosok itu—melainkan pada kenyataan bahwa ia telah menyeret keluarganya ke dalam sesuatu yang tidak ia pahami, dan ia tak tahu cara membawa mereka keluar.