Kejadian yang mematahkan penyangkalan Arsa sepenuhnya terjadi pada malam Jumat.
Hujan turun deras sejak senja, membungkus lorong dalam dinding air dan kabut. Listrik padam tepat pukul sembilan—bukan hal aneh di kawasan tua seperti ini saat hujan badai. Mereka menyalakan lilin dan senter, berkumpul di kamar utama, mencoba menjadikannya petualangan kecil demi Bila.
"Kayak kemah, ya, Yah?" Bila tertawa, wajahnya tersinari nyala lilin.
"Iya, kemah," kata Nita, memaksakan senyum, satu tangan selalu memegang putrinya.
Lalu lilin mulai padam. Bukan tertiup—tak ada angin di kamar yang tertutup itu. Satu per satu, mulai dari yang terjauh dari mereka, nyala lilin meredup dan mati, seakan ada yang berjalan mendekat dan memadamkannya dengan jari. Satu. Dua. Tiga. Lingkaran cahaya menyusut, merapat ke arah keluarga itu, sampai hanya tersisa satu lilin di dekat kasur.
Dan dalam keremangan di luar lingkaran cahaya terakhir, sosok itu berdiri.
Kali ini bukan di ekor mata. Kali ini di hadapan mereka, di sudut kamar, tinggi hampir menyentuh langit-langit, kurus tak wajar. Sosok perempuan, dengan rambut panjang basah yang menutupi wajah, mengenakan sesuatu yang dulu mungkin kebaya putih kini menguning dan compang. Ia berdiri diam. Bau melati meledak di ruangan, pekat sampai sesak, bercampur bau busuk yang kini tak bisa disangkal—bau sesuatu yang lama mati.
Nita menjerit dan menarik Bila ke pelukannya, membenamkan wajah anaknya. Arsa berdiri di antara keluarganya dan sosok itu, lututnya hampir tak kuat menahan tubuhnya sendiri.
"Pergi," suaranya keluar sebagai bisikan parau. "Pergi dari keluargaku."
Sosok itu tidak bergerak. Tapi kepalanya, perlahan, mulai terangkat. Rambut basah itu menggeser sedikit, dan dari baliknya Arsa melihat sekilas—bukan wajah, tapi ketiadaan wajah, sebuah kegelapan tempat wajah seharusnya berada, dan di dalam kegelapan itu sesuatu yang mirip mata, jauh di dalam, menatap balik.
Lalu Bila, dari dalam pelukan ibunya, berbicara. Suaranya tenang, terlalu tenang, dan bukan sepenuhnya suaranya sendiri.
"Mbak bilang jangan teriak," kata Bila pelan. "Mbak nggak suka diteriakin. Dulu juga gitu. Orang-orang teriakin Mbak, terus Mbak ditinggal sendirian di atas. Mbak cuma pengin ditemenin."
"Bila—" Arsa berbalik panik ke arah anaknya.
Saat itulah satu lilin terakhir padam.
Kegelapan total menelan ruangan. Nita menjerit. Arsa meraba-raba mencari senter, jantungnya seakan meledak. Dalam gelap pekat itu ia mendengar sesuatu—napas, di dekat telinganya, dingin dan basah, bau melati menyengat persis di wajahnya. Dan sebuah suara, bukan suara Bila, bukan suara siapa pun yang ia kenal, berbisik begitu dekat hingga ia merasakan dinginnya di kulit:
"Rumah ini tidak melepaskan."
Senter menyala. Arsa mengarahkannya liar ke seluruh kamar.
Kosong. Hanya mereka bertiga. Bila menangis sekarang, ketakutan yang akhirnya datang, ketenangan asingnya hilang sudah, kembali menjadi anak tujuh tahun yang ketakutan. Nita memeluknya, menggumamkan doa terbata-bata.
Listrik menyala kembali secara tiba-tiba. Lampu-lampu menyilaukan mata. Semua tampak normal—kamar mereka, barang mereka, dinding kuning pudar. Tapi di atas kasur, di seprai putih mereka, ada sesuatu yang tak ada sebelumnya.
Setangkai melati. Layu, kecokelatan, basah seperti baru saja dipetik dari tempat yang sangat lembap. Dan di sebelahnya, terbentuk di atas debu tipis yang entah datang dari mana, ada tulisan dengan huruf miring kuno, seperti ditulis oleh jari yang sudah lama tak menulis:
tolong aku.
Arsa menatap dua kata itu, dan untuk pertama kalinya sejak mereka pindah, ia berhenti bertanya apakah ini nyata. Ia mulai bertanya: siapa perempuan ini, apa yang terjadi padanya di rumah ini, dan mengapa setelah sekian lama, ia masih di sini—menunggu.
Pagi itu juga, sebelum matahari benar-benar naik, Arsa memutuskan ia harus tahu. Bukan untuk rasa ingin tahu. Tapi karena ia mulai mengerti: kalau sosok itu tidak akan melepaskan rumah ini, maka satu-satunya jalan keluar adalah memahami apa yang menahannya di sini.