Arsa memulai pencariannya di tempat yang paling membosankan dan paling jujur: kantor kelurahan.
Ia datang pagi-pagi, berpura-pura sebagai pemilik baru yang ingin mengurus surat-surat. Petugasnya, seorang bapak tua bernama Pak Darman yang sudah puluhan tahun bekerja di situ, mengernyit saat Arsa menyebutkan alamatnya.
"Rumah ujung lorong itu?" Pak Darman melepas kacamatanya. "Yang kosong belasan tahun itu?"
"Belasan tahun?" Arsa terkejut. "Pemiliknya bilang baru beberapa tahun ditinggal."
Pak Darman tersenyum tipis, senyum yang tidak ada gembiranya. "Pemiliknya cerita apa lagi, Mas? Soal harganya yang murah? Soal kenapa nggak ada yang betah?" Ia menghela napas, lalu menurunkan suaranya, walau tak ada orang lain di ruangan. "Mas tinggal di situ sama keluarga?"
Arsa mengangguk. Sesuatu di mata bapak tua itu membuat perutnya mengencang.
"Saya bantu carikan arsipnya," kata Pak Darman akhirnya. "Tapi saya kasih tahu satu hal, Mas. Saya lahir di kampung ini. Sejak kecil, anak-anak diajarin satu aturan: jangan main sampai ke ujung lorong. Bukan karena rumahnya angker—itu cuma cerita orang dewasa nakut-nakutin. Tapi karena rumah itu, katanya, suka menyimpan orang yang masuk."
Arsipnya berdebu dan menguning, tapi lengkap. Rumah itu dibangun tahun 1950-an oleh seorang pedagang batik kaya bernama Tuan Hartono. Keluarga Hartono menempatinya selama hampir tiga dekade. Lalu, catatan kepemilikan menjadi kacau—rumah itu berpindah tangan berkali-kali selama puluhan tahun, dan di antaranya dibiarkan kosong berlarut-larut. Seakan tak ada keluarga yang sanggup bertahan lama, lalu kabur, menjual dengan harga lebih murah dari yang mereka bayar.
Dan di antara lembar-lembar itu, ada satu kliping koran lama yang diselipkan seseorang, sudah lapuk di lipatannya.
Arsa membentangkannya hati-hati. Tahun 1971. Judulnya membuat tangannya dingin: GADIS HILANG MISTERIUS DI RUMAH PEDAGANG BATIK.
Beritanya pendek, ditulis dengan bahasa koran lama yang kaku. Seorang gadis bernama Wulan, sembilan belas tahun, putri sulung keluarga Hartono, dilaporkan hilang dari rumah pada suatu malam tanpa jejak. Pintu terkunci dari dalam. Tak ada tanda perlawanan. Keluarga menyatakan ia kabur dengan kekasih yang tidak direstui. Tapi tetangga punya cerita lain—mereka mendengar pertengkaran hebat malam itu, suara perempuan menjerit dari lantai dua, lalu sunyi. Polisi menyelidiki sebentar, lalu kasus ditutup. Wulan dinyatakan kabur. Tak pernah ditemukan.
"Wulan," gumam Arsa. Mbak-nya Bila. Sosok di sudut. Bau melati—Arsa teringat, melati adalah bunga yang sering dipakai gadis-gadis zaman dulu di rambut mereka.
Pak Darman, yang sedari tadi memperhatikan, berbicara pelan. "Saya masih bocah waktu itu. Tapi saya ingat ibu saya cerita. Wulan itu gadis baik, suka nyanyi. Punya adik kecil yang dia sayang banget. Lalu suatu hari dia hilang, dan keluarga Hartono nggak pernah sama lagi. Si adik kecil... katanya jadi sering ngomong sendiri. Bilang kakaknya masih ada di rumah. Masih di lantai atas. Keluarga itu akhirnya pindah, jual rumah, nggak pernah balik."
Bilang kakaknya masih ada di rumah. Masih di lantai atas. Kalimat itu menggema di kepala Arsa, beresonansi dengan langkah-langkah yang ia dengar di malam pertama, dengan koridor lantai dua dan pintu paling ujung yang debunya tersapu.
"Pak," kata Arsa, suaranya nyaris tak terdengar. "Menurut Bapak, Wulan ini... kabur, atau...?"
Pak Darman memandangnya lama. "Mas," katanya, "kalau dia kabur, kenapa rumah itu nggak pernah melepaskan siapa pun? Orang yang benar-benar pergi nggak nahan orang lain untuk tinggal."
Arsa pulang dengan kliping koran itu di saku dan satu pertanyaan yang membakar di dadanya. Jika Wulan tidak pernah kabur—jika ia tidak pernah benar-benar keluar dari rumah itu pada malam tahun 1971—maka di mana ia selama ini? Dan apa yang sebenarnya tersembunyi di balik pintu paling ujung di lantai dua, pintu yang tak pernah berani ia buka, pintu tempat garis debu itu menghilang?