Arsa menunggu sampai Nita dan Bila tertidur, lalu naik ke lantai dua dengan senter, linggis kecil, dan jantung yang berdebar di tenggorokan.
Koridor lantai dua selalu terasa lebih panjang di malam hari. Senter Arsa menyapu dua pintu. Pintu pertama hanya kamar kosong berdebu yang sudah pernah ia periksa. Pintu kedua—pintu paling ujung—tertutup rapat, dan setiap kali ia mendekatinya selama ini, ada dorongan kuat untuk berbalik, seakan rumah itu sendiri membujuknya pergi. Malam ini ia melawan dorongan itu.
Bau melati di depan pintu itu pekat luar biasa.
Gagangnya dingin seperti es. Pintu terkunci. Arsa menyelipkan linggis di celahnya dan menekan. Kayu tua itu mengaduh, lalu kunci karatan patah dengan suara yang terlalu nyaring di keheningan rumah. Pintu terbuka, dan udara dingin menyembur keluar, membawa serta bau yang membuat Arsa menutup hidung—melati busuk, lembap, dan di bawahnya, samar, bau tanah.
Kamar itu kecil. Sebuah kamar gadis, beku dalam waktu. Ranjang besi tua dengan kelambu yang melapuk. Meja rias dengan cermin yang berkabut hitam, retak di tengah. Pakaian-pakaian lama tergantung di lemari terbuka, kebaya dan kain batik, semuanya menguning. Di atas meja, sebuah sisir gading dengan beberapa helai rambut panjang masih tersangkut. Dan di mana-mana, di setiap permukaan, kelopak melati kering bertebaran, seakan ditaburkan bertahun-tahun lalu dan tak pernah dibersihkan.
Ini kamar Wulan. Tak tersentuh sejak ia hilang.
Arsa bergerak pelan, senternya menyapu ruangan. Di dinding ada foto hitam putih: seorang gadis muda cantik dengan bunga melati di rambutnya, tersenyum, memeluk seorang anak kecil—adiknya, pikir Arsa. Wajah gadis di foto itu sama dengan wajah yang ia takutkan untuk lihat, hanya saja di sini ia masih hidup, masih punya wajah, masih punya senyum.
Lalu senternya jatuh ke lantai, ke sebuah papan kayu di dekat ranjang yang warnanya sedikit berbeda dari yang lain. Lebih baru, atau lebih sering diganggu. Arsa berlutut. Bau tanah lebih kuat di sini. Dengan linggis, ia mencongkel papan itu.
Papan itu terangkat, dan di bawahnya bukan lantai, melainkan tanah. Galian. Lubang yang sudah lama, dindingnya runtuh sebagian, tapi cukup dalam. Dan di dasar lubang itu, di antara akar dan tanah lembap, senter Arsa menerangi sesuatu yang membuat napasnya tersangkut dan dunianya berhenti berputar.
Tulang. Kerangka manusia, meringkuk dalam posisi seperti tidur. Di sekelilingnya, sisa-sisa kain kebaya yang telah hancur. Dan di tengkorak itu, masih tersangkut di rambut yang anehnya belum sepenuhnya membusuk, untaian bunga melati—kering, tua, tapi utuh.
Wulan tidak pernah kabur. Wulan ada di sini sepanjang waktu, dikubur di bawah lantai kamarnya sendiri, di rumah keluarganya, selama lima puluh lima tahun.
Arsa mundur tersandung, punggungnya membentur dinding, napasnya memburu. Potongan-potongan menyatu dengan kengerian yang dingin: pertengkaran malam itu, jeritan yang didengar tetangga, pintu terkunci dari dalam, keluarga yang buru-buru menyatakan ia kabur. Wulan dibunuh. Di rumah ini. Oleh seseorang yang ia kenal, mungkin yang ia cintai, dan jasadnya disembunyikan di bawah lantai kamar tempat ia dulu menyanyi untuk adiknya.
Dan ia tidak pernah berhenti menunggu untuk ditemukan.
tolong aku. Dua kata di atas seprai itu kini punya arti. Selama ini, semua gangguan ini—langkah di malam hari, bau melati, sosok di sudut, kedekatannya pada Bila yang seusia adiknya dulu—bukan teror tanpa tujuan. Itu panggilan. Wulan tidak mengusir mereka. Wulan memohon. Ia ingin ditemukan. Ia ingin seseorang akhirnya tahu apa yang terjadi padanya.
Tapi saat Arsa berlutut di tepi kubur itu, gemetar, otaknya berputar mencari apa yang harus dilakukan, ia merasakan suhu di kamar itu turun drastis. Napasnya mengepul. Bau melati menebal sampai sesak. Dan di cermin retak yang berkabut hitam di meja rias, di balik bahunya, sebuah pantulan muncul perlahan—sosok perempuan dengan rambut basah, berdiri tepat di belakangnya, menatap ke arah kubur yang baru saja ia buka.
Dari bawah, dari lantai satu, terdengar suara Bila menjerit memanggil ayahnya.