Arsa berlari menuruni tangga, dua-tiga anak tangga sekaligus, jeritan Bila menusuk telinganya. Di belakangnya, di kamar yang baru ia tinggalkan, ia mendengar pintu membanting sendiri dengan keras, lalu derap—langkah-langkah cepat di lantai dua, mengejarnya, banyak sekali, seperti seluruh rumah tiba-tiba terbangun.
Rumah itu berubah malam itu. Seakan dengan terbukanya kubur Wulan, sesuatu yang selama ini menahan diri kini terlepas. Lampu-lampu yang mereka pasang berkedip liar lalu meledak satu per satu, hujan percikan di kegelapan. Bau melati busuk memenuhi setiap ruangan, sesak, memualkan. Dinding-dinding seakan berkeringat, basah dan dingin saat Arsa menyentuhnya untuk menjaga keseimbangan.
Di kamar utama, Nita berdiri di tengah ruangan memeluk Bila, keduanya menatap ke atas. Di langit-langit kamar, di plester yang mengelupas, noda gelap menyebar dan membentuk pola seperti rambut basah yang terurai, lalu meneteskan air kecokelatan ke lantai. Tetesannya berbau tanah dan bunga.
"Mas, ada apa ini!" Nita berteriak. "Bila bangun teriak-teriak, terus semuanya—"
"Kita harus keluar," Arsa memotong, suaranya tegas walau dadanya hancur oleh ketakutan. "Sekarang. Bawa Bila."
Tapi pintu depan tidak mau terbuka. Arsa menariknya, mengguncangnya, menendangnya—pintu yang sama yang ia buka dengan mudah di hari pertama kini seakan menyatu dengan kusennya, sekokoh tembok. Jendela-jendela pun sama. Kaca tak mau pecah oleh kursi yang ia ayunkan; ia hanya memantul, seakan rumah itu kini punya kulit yang tak bisa ditembus.
"Rumah ini tidak melepaskan." Bisikan dari malam Jumat itu kembali ke benaknya, kini dengan arti yang penuh. Rumah ini menyimpan orang yang masuk. Pak Darman benar. Setiap keluarga yang lari, lari sebelum sempat ditahan. Tapi Arsa telah membuka kubur. Ia telah melangkah terlalu dalam. Dan kini rumah tidak akan membiarkannya pergi membawa rahasianya keluar.
Bila menangis di pelukan Nita, tapi lalu ia menenangkan diri secara aneh, dan menunjuk ke arah tangga.
"Mbak datang," katanya, suaranya gemetar. "Mbak marah. Tapi bukan sama kita. Mbak marah sama... yang satu lagi."
"Yang satu lagi?" Arsa menoleh ke arah putrinya, ngeri.
Bila mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Om yang di sudut, Yah. Yang dari awal. Bukan Mbak. Mbak takut sama dia. Mbak bilang dia yang—" Bila tak menyelesaikannya, hanya gemetar.
Dan saat itu Arsa mengerti sesuatu yang membuat darahnya membeku. Sejak awal ada dua. Mbak—Wulan—yang memohon, yang baik pada Bila, yang ingin ditemukan. Dan sosok di sudut, om yang menunduk, yang selalu di pojok, yang menatap Bila tidur. Selama ini Arsa menyatukan keduanya dalam pikirannya. Tapi Bila tak pernah salah; sejak malam-malam pertama anaknya selalu membedakan mereka, dan ia yang tak mau mendengar. Yang satu adalah korban. Yang satu lagi adalah sesuatu yang lain—sesuatu yang menahan Wulan di sini, yang menahan mereka semua, yang mungkin adalah alasan rumah ini tak pernah melepaskan siapa pun.
Di puncak tangga, dua sosok kini berdiri. Yang satu, perempuan berrambut basah—Wulan—berbalik menghadap sosok di sebelahnya, dan untuk pertama kalinya tidak menatap ke arah keluarga Arsa. Yang satu lagi lebih tinggi, lebih gelap, sosok lelaki yang kepalanya selalu menunduk, dan dari dirinya tidak tercium melati—melainkan dingin yang murni, kekosongan yang lebih tua dari rumah ini, lebih tua dari Wulan, sesuatu yang barangkali telah ada di tanah ujung lorong itu jauh sebelum batu pertama rumah ini diletakkan.
Lampu terakhir di rumah itu padam.
Dalam gelap, Arsa mendorong Nita dan Bila ke sudut paling jauh, melindungi mereka dengan tubuhnya, sambil meraba-raba di saku mencari satu-satunya hal yang ia bawa naik tadi dan masih tergenggam—kliping koran lapuk tentang Wulan, dan tanpa sadar, sebatang lilin serta korek dari laci. Tangannya gemetar menyalakan korek. Nyala kecil itu menerangi wajah keluarganya yang ketakutan, dan di luar lingkaran cahaya, dua bentuk gelap mendekat dari tangga.
"Apa pun yang terjadi," bisik Arsa pada istri dan anaknya, suaranya pecah, "jangan lihat yang di sudut. Lihat aku. Cuma lihat aku."
Langkah-langkah turun dari tangga, pelan, satu demi satu, seperti malam pertama mereka di rumah ini. Tuk. Tuk. Tuk. Tapi kali ini, tidak akan berhenti.