Lilin di tangan Arsa menyala bergetar, melukis lingkaran cahaya rapuh di tengah ruang tamu yang gelap. Di tepi lingkaran itu, dua sosok berhenti.
Wulan melangkah maju ke dalam cahaya, dan untuk pertama kalinya Arsa bisa melihatnya dengan jelas—bukan sebagai teror, tapi sebagai gadis yang ada di foto. Rambutnya basah, kebayanya menguning, tapi wajahnya—rambut basah itu menyibak, dan ada wajah di sana sekarang, wajah sedih seorang gadis sembilan belas tahun yang tak pernah sempat menjadi tua. Ia menatap Arsa, lalu menatap Bila, dan sesuatu seperti kelembutan melintas di matanya yang kosong.
"Kamu menemukan aku," suaranya seperti angin lewat celah jendela, seperti daun kering jatuh. Bukan suara yang masuk lewat telinga, tapi yang muncul langsung di dalam kepala Arsa. "Lima puluh lima tahun. Tidak ada yang mencari. Mereka bilang aku kabur. Aku tidak pernah pergi ke mana-mana."
Arsa menelan ludah, mengangkat kliping koran yang gemetar di tangannya. "Siapa yang melakukannya padamu, Wulan?"
Wulan tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menoleh, perlahan, ke arah sosok di sebelahnya. Sosok lelaki yang menunduk di tepi gelap. Dan saat ia menoleh, untuk sekejap, kebencian, ketakutan, dan kesedihan bercampur di wajahnya yang sudah lama mati.
Sosok di sudut itu mengangkat kepalanya.
Arsa memaksa dirinya tidak memalingkan muka, walau setiap serat tubuhnya menjerit. Wajah—jika itu bisa disebut wajah—adalah kekosongan. Bukan ketiadaan seperti Wulan yang dulu. Ini kekosongan yang aktif, yang lapar, lubang yang menyedot cahaya lilin sehingga nyala itu meredup saat tatapan kosong itu jatuh padanya. Dan Arsa mengerti, dengan kepastian yang dingin, bahwa sosok ini bukan manusia yang pernah hidup. Wulan adalah hantu—jiwa yang terperangkap. Tapi yang di sudut ini adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang sudah ada di tanah ini. Sesuatu yang membisikkan pada manusia, yang membuat seseorang membunuh Wulan malam itu, yang memberi makan dirinya dari rasa takut dan dari jiwa-jiwa yang tak bisa pergi.
Rumah ini tidak menahan orang karena Wulan. Rumah ini menahan orang karena yang di sudut menginginkan mereka. Wulan hanyalah korban pertama yang terjebak, yang kini, setelah lima puluh lima tahun, mencoba memperingatkan keluarga yang sama-sama terjebak sepertinya.
"Dia tidak akan membiarkan kalian pergi," kata Wulan di kepala Arsa, suaranya mendesak sekarang, ketakutan. Lalu ia bergerak—melayang cepat ke samping Arsa dan menariknya, dingin tangannya menembus lengannya seperti air es, menyeretnya selangkah demi selangkah ke arah tangga. Tubuh Arsa bergerak sebelum pikirannya sempat memahami. "Sama seperti dia tidak membiarkanku," desis Wulan, sambil terus menariknya naik. Anak tangga pertama. Kedua. "Tapi sekarang aku ditemukan. Tulangku ditemukan."
Sosok di sudut menggeram—bunyi yang lebih terasa di tulang daripada di telinga—dan Wulan menggeram balik, melindungi Arsa dengan tubuhnya yang mati saat mereka naik. "Bawa aku keluar dari rumah ini," bisiknya, dan kini kata-katanya datang patah-patah, di sela tarikan dan dorongan ke atas, bukan lagi seperti briefing tenang melainkan seperti permohonan yang dicuri-curi di tengah perlawanan. "Kubur dengan benar. Maka aku bebas. Dan kalau aku bebas—" ia menyentak Arsa melewati anak tangga keenam yang berderit, "—pintu terbuka sedikit. Cukup. Cukup untuk kalian lari."
"Bagaimana caranya?" Arsa berbisik, napasnya tersengal di tengah tangga. "Pintu nggak bisa dibuka. Jendela nggak bisa pecah."
Wulan tidak menjelaskan. Ia hanya mendorong wajah Arsa dengan tatapannya ke arah pintu paling ujung yang menganga di koridor, ke arah lubang dan tulang yang menunggu di sana. "Dia tidak bisa menyentuhmu selama kamu membawaku," katanya, dan untuk sekejap mencengkeram dagu Arsa, memaksanya menatap kegelapan tempat sosok itu berdiri di kaki tangga. "Dia takut pada apa yang dia sembunyikan. Tapi cepat. Begitu lilinmu padam, dia milik gelap, dan gelap adalah miliknya."
Sosok di sudut bergerak—untuk pertama kalinya benar-benar mengejar—meluncur, bukan berjalan, dari lantai bawah ke arah keluarga itu. Lilin di tangan Arsa meredup hampir mati dari jauh saat ia mendekat, suhu anjlok sampai napas mereka membeku jadi kabut.
"Nita." Arsa berseru dari tengah tangga, suaranya menggema turun. "Jaga apinya tetap hidup. Apa pun yang terjadi. Aku naik ngambil dia. Lindungi Bila."
"Mas, jangan—" Nita memekik, mengangkat lilin tinggi-tinggi, air mata membanjiri wajahnya, satu lengannya mendekap Bila erat.
"Ini satu-satunya jalan keluar buat kita. Buat Bila." Arsa menatap mereka berdua dari atas untuk sekejap—wajah Bila yang basah, wajah Nita yang gemetar di balik nyala lilin—lalu memaksa dirinya berbalik ke arah lantai dua, ke arah tempat tulang Wulan menunggu di bawah papan kayu yang terbuka.
Sosok di sudut berputar di kaki tangga, dan untuk sesaat, gelap di rumah itu seakan menahan napas. Wulan melayang di antara Arsa dan sosok itu, melindunginya, gadis mati yang melindungi orang asing demi kebebasannya sendiri.
Arsa menaiki sisa tangga, satu demi satu, ke dalam kegelapan tempat bau melati dan tanah menunggu. Di belakangnya, jauh di bawah, nyala lilin di tangan Nita yang gemetar adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di dunia. Dan saat kaki Arsa menyentuh anak tangga teratas, dari suatu tempat jauh di dalam rumah—lebih dalam dari yang seharusnya mungkin, seakan dari bawah tanah itu sendiri—terdengar sebuah suara baru. Bukan langkah. Bukan bisikan.
Tawa. Pelan, dalam, sabar. Tawa sesuatu yang telah menunggu lebih lama dari rumah ini, dan yang tahu bahwa malam masih sangat panjang.
Lilin di tangan Nita berkedip satu kali.